
Rio berjalan dengan buru-buru sekali menuju parkiran. Dia baru saja menyelesaikan kelasnya. Namun sepertinya ia sudah terlambat untuk menghadiri acara pengajian empat bulanan calon bayi kami. Rio bahkan belum membeli kado apapun untuk diberikan kepadaku. Padahal sebelumnya dia berencana akan membeli buket bunga.
Dengan kecepatan tinggi Rio mengendarai mobilnya. Membelah jalanan yang ramai lalu-lalang kendaraan bermotor. Dia ingin sekali cepat sampai di rumah. Rio khawatir aku akan marah jika dia tidak segera sampai di rumah.
Buket bunga mawar putih sudah duduk di jok depan berdampingan dengannya. Beberapa kali Rio melirik buket bunga dengan senyum mengembang. Tidak sabar rasanya ingin cepat menyerah buket mawar ini kepadaku.
Lampu merah menyala di sebuah perempatan. Bukan berhenti mematuhi peraturan lalu lintas, Rio justru tancap gas menerobos lampu merah yang masih menyala itu. Hal itu sangatlah mengancam keselamatannya. Dan benar saja dari arah lain sebuah truk box melaju dengan kecepatan tinggi karena sedang mengejar waktu untuk mengantar barangnya.
DUUUAAAARRRR!!!
Tabrakanpun terjadi. Mobil Rio tertabrak tepat di bagian sisi kemudi. Meski di dalam mobil, tubuh manusia itu tetap tidak bisa menahan hantaman keras dari truk yang terus menyeret mobil Rio di atas aspal. Mobil sedan yang ukurannya tak lebih besar dari truk box itu akhirnya kalah dan terguling.
Tak ada rintihan atau erangan yang terdengar dari dalam mobil. Seorang laki-laki berwajah tampan itu sudah tidak sadarkan diri ketika warga mengeluarkan tubuhnya dari dalam mobil yang sudah ringsek parah. Mobil yang terbuat dari besi saja terkena hantaman keras bisa berubah bentuk dan ringsek. Bagaimana dengan kondisi Rio?
Jelas darah deras mengalir di bagian kepalanya. Bahkan wajahnya yang biasa terlihat bersih bercahaya kini berlumur darah. Buket bunga mawar putih menjadi saksi musibah itu. Mawar putih yang suci berubah warna kala darah deras yang keluar dari kepalan Rio menetes mewarnai mawar itu dan seketika mawar putih berubah menjadi mawar merah.
Hanya Rio yang mengalami luka berat. Sementara si supir truk masih dalam kondisi baik-baik saja. Orang-orang langsung membawa Rio ke klinik terdekat. Berharap nyawa Rio masih bisa tertolong. Salah satu diantara orang-orang yang menolong Rio berinisiatif menghubungi keluarganya.
Nomorku berada di barisan teratas. Dan Nomorku jugalah yang terakhir melakukan panggilan dengan Rio. Jadi mereka langsung menghubungiku dan memberikan kabar kecelakaan itu.
Aku saat itu tengah mengikuti acara pengajian di rumah bersama dengan bapak mertuaku. Seketika tubuhku melemas, aku tak kuasa mengatakan hal ini kepada bapak mertuaku.
"Ada apa, Ndy? Apa telfon itu dari Rio? Kapan dia sampai?" cecar mertuaku. Buliran bening jatuh meluruh di pipiku.
__ADS_1
"Ada apa, kenapa kamu malah menangis? Apa terjadi sesuatu?" Kepanikan mulai terjadi.
"Rio ... Rio kecelakaan," ucapku dengan suara bergetar.
"Dimana dia sekarang? Dia baik-baik saja kan, Ndy?" Wajah mertuaku berubah puas mendengar kabar buruk ini.
"Rio tidak sadarkan diri. Ada luka yang cukup berat di bagian kepalanya. Bapak, kita harus segera ke rumah sakit. Indy ingin memastikan bahwa Rio baik-baik saja." Acara pengajian kutinggalkan tanpa permisi. Aku berlari keluar bahkan melupakan perutku yang sudah membuncit.
Bapak mertuaku langsung membawaku keluar dari rumah dengan mobilnya. Kekhawatiran tak bisa lagi kami sembunyikan. Hanya saja yang mertuaku tidak terus menangis seperti aku. Beliau lebih tegar dan tabah menerima kabar duka ini.
Pantas saja hatiku gelisah seharian ini. Aku pikir karena tidak sabar akan melangsungkan pengajian. Tapi ternyata rasa gelisah itu adalah sebuah firasat buruk.
Tuhan ... Lindungilah suamiku. Aku masih ingin memeluk hangat tubuhnya. Jangan ambil dia secepat ini. Karena aku belum banyak membalas cinta kasih tulusnya.
Lima belas menit membelah jalan raya, kami akhirnya sampai di rumah sakit yang menjadi rujukan Rio. Ya, klinik tidak mampu memberi pertolongan lanjut pada Rio. Kondisi terlalu parah dan harus mendapat penanganan alat medis lebih lengkap. Oleh sebab itu Rio dirujuk ke rumah sakit yang jelas memiliki peralatan medis lebih lengkap.
Mertuaku berusaha keras menyuntikkan ketenangan untukku. Aku ingin setegar beliau, tapi hatiku terlalu rapuh untuk menerima guncangan ini.
Selang oksigen dan kabel-kabel medis melekat di bagiannya masing-masing. Melihatnya berkalung alat medis seperti itu membuatku kehilangan kewarasan. Meski dokter barulang kali melarang aku tetap ingin masuk ke dalam dan berada di samping suamiku. Aku tidak tega membiarkannya menahan sakit sendirian di dalam sana.
Kondisi Rio semakin drop. Aku melihat dadanya berulang kali naik begitu tinggi karena kesulitan mengambil nafas. Aku dan bapak mertuaku berteriak dengan kencang memanggil dokter.
"Tolong suamiku dokter ... Tolong!" teriakku diiringi Isak tangis.
__ADS_1
Tenaga medis bergegas masuk ke dalam ruangan ICU. Seorang suster menahanku untuk tetap berada di luar saat aku ingin menerobos masuk.
"Tolong biarkan aku berada di sampingnya, aku ingin berada di sampingnya suster ... Tolong izinkan aku ikut masuk." Namun tetap saja aku tidak mendapatkan kesempatan untuk masuk. Sebab sudah ada peraturan yang tidak boleh dilanggar.
"Bapak ... Indy ingin masuk, Rio pasti menunggu Indy. Jika Indy tetap di sini, dia tidak akan tahu kalau aku sudah datang. Ayo kita masuk ... Ayo, Pak ...." Aku terus meminta masuk.
"Sabarlah ... Ndy. Dokter akan menangani Rio lebih dulu. Dia pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Tenangkan pikiranmu dan berhentilah menangis. Kasihan bayi yang ada di dalam rahimmu. Dia akan ikut merasakan ketegangan ini."
Bapak memapah tubuhku untuk duduk. Aku merasa lemas sekali. Bahkan oksigen pun rasanya sulit kuhirup. Sesak, bukan karena sedikit oksigen yang masuk ke rongga paru-paruku. Tapi karena melihat suamiku yang tengah berada di ambang kematian.
SUDAH SIAPKAH KALIAN UNTUK IKUT MENGARUNGI UJIAN RUMAH TANGGA INDY DAN RIO SELANJUTNYA?
BERSIAPLAH KARENA KEBAHAGIAAN TELAH USAI UNTUK SEMENTARA
HI KAKAK-KAKAK PEMBACA NOVEL MCS 2
AUTHOR MINTA MAAF KARENA SERING TERLAMBAT UPDATE. SESUATU SEDANG MENYITA WAKTU AUTHOR DI RL.
OH YA SEPERTINYA AUTHOR JUGA AKAN MEMINDAH NOVEL INI KE PLATFORM LAIN. TAPI TENANG SAJA MUNGKIN AKAN DIPINDAH SETELAH NOVEL INI RAMPUNG DI TULIS.
KALIAN MASIH BISA MEMBACA SAMPAI NOVEL INI TAMAT. JADI JANGAN KHAWATIR YA...
NOVEL INI AKAN AUTHOR TULIS ULANG. TENTUNYA UNTUK MEMPERBAIKI DIKSI DAN BANYAK KEKURANGAN LAINNYA.
__ADS_1
PENASARAN DENGAN KEMASAN BARU NOVEL INI? KALIAN BISA MENUNGGU SEMENTARA WAKTU DENGAN FOLLOW IG AUTHOR @Ind_Sychd atau masuk ke dalam grup chat author ya... karena informasi lebih lanjut akan author share di sana.
SAMPAI JUMPA DI NEXT EPISODE