Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Nasehat Berbuah Manis


__ADS_3

Nasehat yang mama ucapkan seperti tertanam di otakku. Seminggu setelah aku kembali ke rumah Rio, tak ada satupun hari yang kulewati tanpa terngiang ucapan mama itu.


Aku semakin merenungi kata-kata mama padaku. Setiap hari aku dibayangi dengan dosa terhadap suamiku. Aku telah mendzalimi orang yang begitu tulus mencintaiku.


Setelah makan malam selesai aku langsung kembali ke kamar. Sementara Rio dan bapak mertuaku memilih duduk di depan TV dengan mengurai banyak topik obrolan antara anak dan bapak.


Dengan hati yang telah kumatangkan seminggu ini, aku yakin malam ini aku bisa melakukannya. Aku mantap melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kubasuh seluruh anggota tubuh ini dengan air dingin yang turun dari lubang shower. Segar sekali rasanya bisa kembali menikmati kesejukan ini.


Setengah jam berada di kamar mandi, aku keluar dengan tubuh yang harum nan wangi.


Kalau biasanya aku keluar daru kamar mandi sudah lengkap terbalut hijab dan piama panjang, malam ini aku biarkan rambut panjangku terurai tanpa tertutup hijab.


Tubuhku juga tak lagi terbalut piama panjang, melainkan aku menggantinya dengan baju malam. Jujur, aku sedikit merasa risih mengenakannya. Meski tidak begitu terbuka, tapi baru kali ini aku mengenakan dress minim dan berbahan tipis.


Selesai menyisir rambutku dan menyemprotkan parfum di sekujur tubuh. Aku duduk di tepi ranjang, siap menyambut kedatangan suamiku dengan perasaan campur aduk.


Kepercayaan diriku seakan turun, bersamaan dengan tubuhku yang kini tak tertutupi sempurna. Tapi kini aku sudah sadar, takkan ada secuil dosa yang akan menambah tumpukan dosaku. Sebab yang akan melihatku dengan penampilan seperti ini adalah suamiku.


Kutengok berapa kali jam yang menempel di dinding. Sudah pukul 10 malam, tapi Rio belum juga kembali ke kamar. Sejak makan malam tadi, Rio asik mengobrol dengan bapaknya.


Lelah kaki ini kuayun-ayunkan untuk membuang waktu. Pantatku bahkan sudah memanas karena terlalu lama duduk di tepi ranjang menunggunya datang.


Masih kutunggu hingga jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku memang tidak mengatakan apapun sebelumnya pada Rio. Aku berharap apa yang aku lakukan malam ini bisa menjadi hal berkesan untuknya.


Tentu saja untuk membuat hatinya bahagia dan sebagai penebus kesalahanku yang lalu. Malam ini menjadi titik balik hidupku. Aku akan membuang jauh image istri durhaka. Aku akan merubah diriku menjadi istri yang lebih baik untuknya.


Aku ingin cinta segera tumbuh di hatiku. Menanam namanya di hati ini hingga berkembang dengan sempurna dan mampu memenuhi ruang sanubari. Menyingkirkan satu nama yang selama ini aku tanam. Yang akhirnya harus kucabut sendiri karena tak bisa tumbuh.


Gagang pintu perlahan bergerak. Seseorang di luar sepertinya akan segera membukanya. Ucapan salam muncul beserta pemilik suara.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dengan lega karena yang membuka pintu itu adalah Rio.


Aku tidak berani menatapnya dengan kondisiku yang bagiku sangat memalukan ini. Sungguh, aku sedang tidak percaya diri saat ini.

__ADS_1


"Ndy?" panggilnya dengan nada tanya seraya mendekatiku.


"Apa aku kelihatan aneh? Atau kamu tidak suka melihatku seperti ini?" tanyaku pada Rio tanpa menaikkan satu centi pun daguku.


"Masya Allah, kamu cantik, Sayang," pujinya padaku. Dia tengah berdiri di hadapanku. Mungkin jika aku berani menatapnya, senyumnya pasti tengah mengembang di wajah tampannya.


"Tapi, ada oapa? Kenapa tiba-tiba kamu memakai gaun malam ini?" tanyanya lagi masih kebingungan melihat penampilanku malam ini.


"Aku … aku sudah siap," jawabku. Aku sangat malu mengatakannya. Tapi jika bukan aku yang memulainya, maka Rio tidak mungkin akan mengawalinya. Sebab akulah yang telah melarangnya menyentuhku. Jadi, aku pulalah yang harus mematahkan aturan itu.


"Maksudnya?" Rio menegaskan, mencari arti yang lebih jelas dari hanya sekedar kata siap yang keluar dari mulutku.


"Aku akan melakukan kewajibanku sebagai istrimu sepenuhnya," ucapku dengan jelas.


"Kamu sudah yakin?" tanyanya lagi. Dan aku mengangguk pasti menjawab pertanyaannya itu.


"Alhamdulillah, aku bersyukur karena istriku mau melakukan kewajibannya."


"Aku akan memberikan hakmu, Sayang," sambungnya seraya moendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Sudah siap?" Rio bertanya untuk yang terakhir kali. Dan lagi aku menjawabnya dengan anggukan.


Cahaya yang menerangi ruangan meredup. Namun aku masih bisa dengan jelas melihat tubuh tinggi suamiku yang kini membaringkan tubuhnya di sampingku.


Dua kaki jenjang itu dengan nakal melangkah di atas pahaku. Tanpa canggung Rio mencondongkan tubuhnya, mendekatkan kembali wajah rupawan itu ke wajahku.


Jemarinya mulai usil membelai helai rambutku yang jatuh terurai di bantal. Ditatapnya mataku dengan tatapan penuh hasrat. Sesekali kuhindari jerat retinanya dengan memalingkan pandanganku ke bawah.


"Kamu malu?" ucapnya setelah puas membuat wajahku memanas.


"Kenapa bertanya kalau kamu sudah tahu aku sedang malu," jawabku.


"Aku mulai sekarang?" Rio meminta izin padaku. Akupun mengangguk tanda setuju.


Dia memulainya. Diawali mendaratkan kecupan di kening, pipi kiri dan kananku, dan yang terakhir mengecup bibirku cukup lama.

__ADS_1


"Sudah cukup," ucapnya setelah kecupan di bibir kami terlepas.


"Buka matanya, Sayang," pintanya karena aku sempat merasa takut saat dia mulai menciumku.


Aku pun menuruti ucapannya. Segera membuka mataku dan melihat suamiku sudah tidak ada di posisinya lagi. Dia sudah kembali membaringkan tubuhnya di sebelahku.


"Kenapa tidak kamu lanjutkan? Apa kamu berpikir aku akan marah? Aku sudah siap. Kamu tidak perlu ragu denganku," ucapku setelah menegakkan tubuhku.


"Sayang," panggilnya seraya mensejajarkan tubuhnya denganku. Dipegangnya kedua telapak tanganku.


"Aku tahu keputusan ini tidak mudah untukmu. Aku bisa melihat rasa takut di wajahmu tadi. Aku sangat mengerti perasaanmu. Jadi aku pikir, kita bisa melakukannya pelan-pelan. Hari ini aku cukup sampai di sini." Disentuhnya bibirku dengan jemarinya.


"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap dan terbiasa dengan sentuhanku. Aku tidak akan memaksamu. Jangan cemaskan apapun, percayalah aku sudah cukup bahagia melihat perubahan sikapmu saat ini. Aku sangat menghargai usaha istriku."


Dia mengelus lembut pipiku. Telapak tangan hangatnya terasa menyentuh kulitku. Kali ini aku mulai menikmati sentuhan kehangatan cintanya. Aku bisa merasakan belaian kasih tulusnya padaku.


"Abi," panggilku setelah berusaha memejamkan mata namun tak kunjung berhasil.


"Dalem, Sayang." Suara itu benar-benar menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya.


"Boleh peluk?" Kuberanikan diri untuk mencoba tidur dalam pelukannya. Berharap dengan semakin merasakan cintanya, hati ini akan dengan mudah terbuka untuknya.


"Kemari Sayang," jawabnya seraya merentangkan kedua tangannya.


Aku pun segera meraih sambutannya itu. Saat ini, kepalaku bertumpu di lengan kanannya. Sementara lengan kirinya memeluk pinggangku. Hangat sekali, tubuhku begitu rekat dengan tubuhnya. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur. Tidak seperti detak jantungku yang masih berdisko.


"Abi suka sifat manjamu," ucapnya lalu mengecup pucuk kepalaku.


**Hayo ngaku, siapa yang suka sama part ini?


Seneng nggak lihat mereka akur?


TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR KALIAN DI CHAPTER INI YA


JANGAN KETINGGALAN JUGA BERI HADIAH, VOTE, DAN RATE KARYA INI

__ADS_1


SAMPAI JUMPA DI NEXT EPISODE**


__ADS_2