Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Aroma Ubi Bakar


__ADS_3

Dokter memperbolehkan aku pulang setelah melakukan tindakan USG. Aneh sekali, padahal kemarin aku mencemaskan janin dalam kandunganku. Tapi nyatanya dia baik-baik saja. Bahkan mungkin lebih sehat dari tubuhku yang kemarin terasa lemah tidak berdaya.


Sebenarnya aku ini kenapa? Mengapa tubuhku jadi lemah begini? Apa aku terlalu nyaman dalam kemanjaan yang diberikan suamiku?


Aku tidak mengerti. Sebelum mengandung, rasanya tubuhku sangat kuat. Bahkan aku jarang merasakan sakit. Tapi perubahan yang begitu drastis terjadi padaku semenjak aku hamil.


"Bi, jangan bawa makanan apapun ke sini. Aku sedang tidak ingin melihat makanan," pesanku pada Rio setelah tubuh lemah ini dibaringkan di atas tempat tidur.


"Baiklah, Mi. Kamu istirahat saja. Tapi, katakan jika kamu menginginkan sesuatu." Dia mengecup pucuk dahiku kemudian pergi.


Teh manis hangat kini menjadi penyelamat nyawaku. Sebab, tak ada apapun yang bisa kutelan dengan mulus. Apalagi nasi, aku sampai harus memejamkan mata jika akan menelannya.


Namun tetap saja, perutku tak mau menampungnya lama-lama. Baru saja di telan, sedetik kemudian aku memuntahkannya.


Rio tak membiarkanku lari lagi untuk memuntahkannya di kamar mandi. Dia menyiapkan wadah agar aku tak perlu membuang energi untuk berlari.


Dia bahkan selalu memijat tengkukku ketika aku mual. Sungguh, aku beruntung memilikinya sebagai suamiku. Laki-laki lain belum tentu akan sedemikian hingga merawat istrinya dengan telaten.


"Abi, sudah ya. Umi ingin tidur saja," pintaku dengan lemas.


"Iya, Sayang. Tidurlah, abi akan menemanimu," jawabnya dengan suara lembut.


Si Mbok membawa pergi sepiring nasi yang hanya kucicipi satu sendok. Wajahnya nampak memelas melihat kondisiku yang tak kunjung membaik walau sudah menelan pil pereda mual.


Tidak ada yang tidak mengkhawatirkan aku. Semuanya cemas ketika melihat wajahku yang kian memucat. Mama bahkan setiap jam menelpon untuk memberikan saran ini dan itu.


Tujuannya agar aku bisa kembali makan dengan normal. Tapi dari sekian banyak cara yang dilakukan. Tak ada satupun yang berhasil mengusir mual di perutku.


Pukul 4 sore aku membuka mataku. Sedikit energi terasa telah kembali di tubuh ini. Aku ingin bangun untuk mengambil air wudhu. Tapi aroma sesuatu menarik hidungku untuk mencari dari mana asalnya.


Aku menyibak tirai jendela. Dan pemandangan apa yang kulihat dari sana? Beberapa remaja tengah membakar ubi di tanah lapang yang letaknya berdampingan tak jauh dengan rumah Rio.


Aroma ubi bakar yang terbang terbawa angin dan tercium hidungku membuat perutku merasa lapar. Aku ingin ubi bakar.


Aku memerhatikan mereka beberapa saat. Dan ketika mereka tengah menyantap ubi yang tadi mereka bakar, aku menelan salivaku sendiri dari balik jendela. Kenapa terlihat enak sekali? Batinku.

__ADS_1


"Sedang apa, Mi?" Rio keluar dari dalam kamar mandi.


"Tidak, Bi." Aku kembali menutup tirai dan berjalan mendekati Rio.


"Sudah sholat, Bi?" tanyaku dengan meraih handuk kecil untuk membantu suamiku mengeringkan rambutnya.


"Belum. Sengaja menunggu Umi," jawabnya seraya mengusap perutku.


"Umi ambil wudhu dulu, ya?" pamitku dengan segera karena sudah merasa tidak nyaman merasakan elusan telapak tangan Rio.


*


*


*


Selepas sholat, aku masih terngiang-ngiang dengan aroma ubi bakar. Kenapa rasanya semakin menggebu, aku ingin sekali makan ubi bakar. Kepulan asap saat ubi dibelah, aku ingin menghirupnya. Aku juga ingin memakan empuknya daging ubi panas.


Enak sekali. Apalagi dimakan sore-sore begini di tepi danau sembari menunggu senja. Pikiranku jadi kemana-mana. Bayanganku melayang jauh.


Sudah tidak sabar lagi menunggu suamiku yang masih berdzikir. Seketika Rio menghentikan aktivitasnya. Sebenarnya aku sangat malu, maka dari itu kutenggelamkan wajah ini ketika Rio berjalan mendekatiku yang duduk di tepi ranjang.


"Mau ubi bakar? Umi lapar?" tanyanya dengan berjongkok di hadapanku.


Aku mengangguk dengan perasaan malu. Tapi aku memang sangat menginginkannya. Aku ingin makan ubi bakar sekarang juga.


"Abi akan belikan untuk Umi. Mau sabar menunggu abi?" tanyanya dengan tatapan dalam.


"Umi ikut saja," jawabku karena tak mau menunggu sendirian.


"Apa tidak apa-apa?" tanyanya lagi mengkhawatirkan kondisi tubuhku.


"Tidak apa-apa, Abi. Umi sudah kuat. Lagi pula Umi tahu dimana kita bisa mendapatkan ubi bakar," ucapku dengan yakin.


"Kalau begitu cepat bersiap. Jangan biarkan perut Umi terlalu lama menahan lapar."

__ADS_1


Lima menit bersiap, Rio akhirnya membawaku turun dalam gendongannya. Semenjak hamil, aku tidak pernah lagi menuruni anak tangga dengan kakiku sendiri. Rio selalu menggendongku seperti bayi saja.


Sampai di ujung anak tangga, barulah dia menurunkanku. Membiarkanku berjalan sedikit agar otot-otot kakiku bisa merenggang.


"Abi!" tegurku saat tangan Rio akan meraih kunci mobil yang tergantung di tempatnya.


"Kenapa, Mi?" tanyanya bingung.


"Tidak perlu pakai mobil. Kita jalan kaki saja," balasku.


"Jalan kaki? Memangnya ada pedangang ubi bakar dekat sini?" Rio semakin bingung saja.


"Ada. Ayo ikut Umi." Aku menarik lengannya agar cepat berjalan.


Rio menurut saja mengekori langkahku. Alhamdulillah, mereka masih ada di sana. Aku masih bisa memakan ubi bakar yang sedari tadi membayangiku.


"Abi, coba tanyakan pada mereka. Apa ubi bakarnya masih ada. Tadi umi melihat mereka membakar ubi." Aku merayu Rio untuk meminta ubi bakar dari remaja yang kulihat dari jendela tadi.


"Sebab melihat mereka membakar ubi, Umi jadi ingin makan ubi bakar?" Rio seakan paham kenapa aku tiba-tiba menginginkan ubi bakar.


"Iya. Cepat Abi, nanti ubinya habis mereka makan semua," cecarku dengan mendorong-dorong tubuh Rio.


"Baik, tunggu di sini."


Rio melenggang, menuju tempat berkumpulnya beberapa remaja yang tengah memakan ubi bakar. Sayup-sayup kudengar suaranya yang tengah berusaha menanyakan perihal ubi bakar.


"Permisi, Dik. Apa ubi bakarnya masih ada? Istriku sedang hamil dan sekarang dia ingin makan ubi bakar. Dia melihat kalian membakar ubi di sini. Apa aku boleh minta sedikit untuk istriku? Atau aku akan membayarnya saja sebagai ganti." Begitu kalimatnya yang kudengar dari jarak 5 meter tempatku berdiri.


"Tidak perlu dibayar, Kak. Ambil saja, kami juga sudah kenyang makan ubi ini dari tadi," jawab salah seorang anak laki-laki di sana.


"Terimakasih, Dik," ucap Rio setelah menerima kantong plastik berisi beberapa potong ubi bakar.


Aku tersenyum bahagia ketika Rio kembali dengan membawa ubi bakar. Tidak sabar rasanya ingin segera mencicipi ubi bakar itu. Tapi Rio memintaku untuk memakannya di rumah. Sebab langit akan segera menggelap. Tiupan angin kencang dan udarda yang semakin dingin tidak baik untuk kesehatanku dan juga bayinya.


APA CUMA DIRIKU YANG SELALU TERNGIANG-NGIANG SAMA SOSOK RIO?

__ADS_1


INI NAMANYA NULIS SENDIRI TAPI BAPER SENDIRI XIXIXI...


__ADS_2