
"Jangan sering datang ke kamarku, Li."
Keputuskan untuk memangkas hubunganku dengan Lili juga. Aku hanya khawatir, Rio akan semakin membenciku karena orang yang dia sayangi dekat-dekat dengan diriku yang tengah dibenci olehnya.
"Kenapa?!" Lili menatapku tak terima.
"Lakukan saja, aku mohon."
Lili tak mengiyakan dan tak juga memberikan penolakan. Gadis itu langsung memelukku dengan sangat erat. Desis tangisnya hanya bisa aku dengar. Aku tak berani melarangnya menumpahkan kesedihan.
Meski dia pernah sangat menyayangi suamiku. Dan meski situasi ini bisa dibilang sangat menguntungkan untuknya. Tapi aku tahu, Lili sudah tidak lagi menggenggam Rio di hatinya.
Aku tahu, Lili sudah tak lagi menginginkan suamiku. Karena sejatinya, hati laki-laki itu telah jauh pergi meninggalkannya. Dan menjadi milikku.
"Lili!" Teriakan itu terdengar nyaring saat pintu dibuka sengaja olehnya.
"Bagaimana dia tahu, Lili berada di kamar ini?" Aku membatin.
"Bi ...." Panggilan itu terdengar sungguh menyayat hatiku.
Tapi aku yakin, Lili tak benar-benar menikmati perannya.
Gadis itu langsung menghapus jejak air matanya. Melangkah meninggalkanku dan menghambur ke lengan Rio.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini?! Apa yang sedang kau lakukan di kamarku!?" Aku tersentak. Adakah sesuatu yang telah aku lupakan? Kenapa dia menyebut kamar ini, kamarnya?
"I-ini, kamarmu?" Tergagap aku mencoba menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan pula.
Ah ... Sungguh bodoh. Aku telah melupakannya. Seharusnya bukan aku yang berpindah kamar, tapi Rio. Kamar ini miliknya, dia meninggali kamar ini sejak kecil. Tentu dirinya tak akan lupa.
Kenapa aku selalu menjejalnya dengan kenangan yang tak sedikitpun menyisa di ingatannya. Kamar itu, kamar kami, hanya ada dalam ingatanku. Kamar kami takkan dia ingat, karena tak ada di masa lalunya.
"Kau tuli?! Ini kamarku!"
Kaki jenjang itu melangkah, mata teduhnya menelisik ke segela arah. Semua sudut kamar ini tak ia lewatkan sedikitpun.
"Sejak kapan kau berani memakai kamar ini? Sejak kapan kau menyingkirkan semua barang-barangku dan menggantinya dengan barangmu?"
Dia berdiri tepat di hadapanku, dengan kedua telapak tangannya yang menyelip di saku celana. Dia menghardikku. Ya Allah ... Ingin sekali kurengkuh tubuhnya. Aku merindukanmu, Bi ....
"Dia saja, yang belum menjadi istriku, tidak pernah menatapku seperti itu. Dan kau, kau bukan mahramku! Kau bahkan memiliki suami, tapi apa yang kau lakukan? Menatapku seakan-akan kau menatap suamimu." Lagi-lagi aku salah di matanya. Andai saja dia mengingat segalanya, pastilah takkan menolak jika aku menatapnya demikian.
"Rio ... Sudahlah, masalah kamar ini, aku akan membereskannya. Kau bisa istirahat di kamar lain sembari menunggu kamar ini aku bereskan, bagaimana?" Lili berusaha membujuknya. Jemari lentiknya terus menempel di lengan suamiku.
"Sudahlah. Aku akan tinggal di kamar lain saja. Aku tidak mau tinggal di kamar ini lagi. Orang lain sudah mengambilnya." Dia menyindirku dengan mengatakan aku orang lain? Yang benar saja, aku ini istrinya.
"Kamar sebelah, sudah aku bereskan semalam. Maafkan aku yang telah lancang memakai kamarmu." Tak sedikitpun kutatap wajahnya. Aku tak sanggup membuatnya kembali marah.
__ADS_1
Rio melenggang tanpa mengucapkan apapun. Lili membuntutinya, membawa serta tas berisi baju-baju Rio yang dipakai selama di rumah sakit.
Tanpa mereka sadari, aku tengah menahan kram luar biasa. Segera aku berbaring. Rasanya sungguh menyiksa. Dengan mengatur nafas, aku mencoba berbicara kepada bayi dalam kandunganku.
"Suara itu milik abi-mu. Sangat merdu, bukan? Tidak-tidak ... Abi bukan marahi umi, tadi. Abi hanya mengingatkan umi saja. Kau jangan takut. Nanti, saat Abi kembali, dia akan kembali berkata dengan lembut pada kita. Abi sangat menyayangi kita, Nak."
Kuelus perut yang kian membuncit ini. Perlahan kurasakan sedikit mengendur, perut bagian bawahku. Kubacakan sholawat hingga mentartil suratan-suratan pendek, sebisaku.
Alhamdulillah, kram itu menghilang. Aku tak segera bangkit, mencoba mengerti kemauan bayiku. Aku tak mau egois lagi. Memaksanya untuk mengikuti kemauanku.
Hai temen-temen pembaca MCS2..
Aku mau minta maaf nih, cuma bisa update 1 bab perhari
Perlu kalian tahu, aku juga nulis di beberapa platform berbayar.
Hehe.. bolehkah aku minta sedikit bantuan kalian?
Yuk ... dukung karyaku yang lainnya
Jangan khawatir, kalian bisa baca karyaku yang lain dengan koin-koin gratis dari aplikasi kok
Aku tunggu jejak kalian di karyaku yang lain ya...
__ADS_1
Untuk tahu lebih lanjut karyaku di platform berbayar, kalian bisa follow my Instagram @ind_sychd
Thankyou buat yang sudah follow dan mendukung karya-karyaku dengan jempol dan komentarnya... Love u all♥️