
'Umi ....' Suara anak kecil yang terdengar lebih seperti suara anak perempuan terus memanggilku di tengah padang yang tak bisa aku lihat rumputnya sebab berkabut tebal.
'Umi ....' Terus memanggilku, membuat tubuh ini berputar ke sana-sini untuk mencari sosok di balik suara mungil itu.
'Umi.' Sekali lagi aku dengar dan dia sudah meraih telapak tanganku. Pandangan ini langsung menuju padanya. Seorang gadis kecil dengan tangan dingin menggenggam telapak tanganku, menyunggingkan senyum semanis senyum ... suamiku.
"Umi, apa kabar?" tanyanya dengan suara yang sangat nyaring kepadaku yang masih menatapnya asing.
"Wahai anak kecil, siapakah engkau? Dan tempat apa ini? Kenapa sepi dan dingin?" Aku bertanya.
"Umi, ini tempatku. Tempat yang selalu Umi mintakan kepada Tuhan kita. Tempat yang baik."
Aku berpikir, jika dia malaikat kecilku yang dulu gagal kurengkuh, jika aku bersamanya sekarang, itu berarti ....
"Tidak, Umi. Belum saatnya kita bersama. Aku akan mengantar Umi pulang, ayo," ajaknya. Dia menarik telapak tanganku. Sementara aku mulai bingung lagi.
"Kau akan ikut dengan Umi, 'kan?" Dia hanya tersenyum dan terus mengajakku berjalan. Anak kecil yang sudah kuyakini sebagai malaikat kecil itu hanya sepinggangku. Tapi jalannya begitu cepat. Hingga tak sadar kami sudah berada di sebuah gerbang dengan cahaya terang.
"Sampai jumpa, Umi. Assalamu'alaikum." Dia melambaikan tangan mungilnya padaku. Dan entah ada magnet apa yang menyeret tubuhku secara otomatis masuk ke dalam gerbang itu.
Bayangan anak kecil itu menghilang. Tapi suaranya masih bisa kudengar. Dia mengatakan, 'sayangi abi dan adik kecil, Umi ....'
Seperti mengalami mimpi singkat. Saat aku bangun, aku sedang terbaring di sebuah ruangan yang sepi. Di satu tanganku terpasang infus. Suster langsung menyambutku ketika aku membuka mata.
"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar?" sambutnya langsung berdiri meninggalkan kursinya. Sepertinya dia yang sedari tadi menungguiku.
"Saya kenapa? Perutku?!" Aku kaget bukan kepalang, perutku mengemis dan seperti sudah tidak ada lagi bayi di dalamnya. Tapi ... kenapa rasanya sakit sekali?
"Tenang, Ibu. Ibu baru saja siuman pasca operasi caesar."
"Caesar? Jadi ... di mana bayi saya, Suster?"
"Bayi Anda masih dalam proses pemeriksaan kesehatan. Jika sudah dipastikan sehat, maka akan diantar kemari."
"Alhamdulillah," ucapku penuh syukur. Tapi tiba-tiba aku teringat, tujuanku datang ke rumah sakit tadi siang.
"Suamiku?" tanyaku pada suster.
__ADS_1
"Suami Anda masih belum sadar. Bapak mertua Anda sedang mengurus administrasi, mungkin sebentar lagi kembali. Apa Ibu ada keluhan saat ini?"
Aku menggeleng karena memang tidak merasa ada keluhan apapun.
"Baik, kalau begitu saya tinggal dulu. Segera pencet bel jika ada keluhan ya, Bu?"
"Baik, Sus."
Perempuan muda yang berseragam putih itu meninggalkan aku. Pikiranku berputar lagi di tengah sepinya ruangan. Aku berusaha mengingat wajah mungil yang membeku senyum manis di dalam mimpi tadi. Tapi rasanya sangat sulit. Aku hanya bisa mengingat telapak tangannya yang dingin dan suaranya yang menyejukkan.
Di tengah aku sibuk berpikir, deit pintu tiba-tiba terdengar. Bapak mertua datang bersama rombongan suster yang mendorong ranjang pesakitan yang di atasnya ditiduri Rio.
"Abi ...." panggilku. Berusaha untuk menegakkan tubuh tapi aku masih tidak mampu melakukannya.
"Sayang ...." Dia sudah sadar. Rio mengulurkan sebelah tangannya, ingin meraihku namun jarak kami cukup jauh.
Hingga Suster berhenti mendorong ranjang pesakitan itu tepat di sebelahku. Kami begitu dekat. Tangannya lalu meraih telapak tanganku. Rio tersenyum lemah padaku.
"Ndy, alhamdulilah ... Kamu sudah sadar," ucap bapak mertua mendekatiku.
"Kapan Bapak datang?" balasku tanpa melepaskan kaitan tanganku dengan Rio.
"Maafkan Indy, Pak." Bapak mertua menggeleng kecil lalu tersenyum.
"Mbak?" Orang yang pertama kali aku temui di depan ruang IGD mendekat.
"Apa yang terjadi pada saya? Terakhir yang saya ingat, saya sedang mendengar anda bicara, bukan?" Aku bertanya kaena lupa dengan kejadiannya.
"Anda mengerang kesakitan sambil memegangi perut, lalu pingsan begitu saja. Dokter dan suster langsung mengambil tindakan operasi karena suatu hal." Teranngnya.
"Pak, saya permisi. Saya harus segera pulang, esok saya akan kembali. Saya tidak akan lepas tanggung jawab," sambungnya.
"Tanggung jawab apalagi, Mas? Lha wong saya yang justru ingin berterimakasih, sebab kecelakaan ini, ingatan saya jadi kembali." Aku menoleh dengan cepat menatap Rio yang tiba-tiba bicara. Melihat wajahnya yang tengah dipenuhi senyum bahagia.
"Abi?" Aku memanggilnya untuk meminta penjelasan dari ucapannya.
"Iya, Sayang, ingatan abi sudah kembali."
__ADS_1
Seketika air mata meluncur dari sudut mata ini, sungguh bahagia rasanya jika benar apa yang dia ucapkan adalah sebuah kenyataan.
"Bapak, Rio boleh min tolong?" ucapnya.
"Minta tolong apa?" jawab bapak mertua.
"Tolong ambil tisu terus kasih ke Indy, Rio nggak suka lihat dia nangis. Istri abi yag cantik jangan nangis, ya?"
Kalimatnya itu justru semakin banyak mendatangkan air mata. Aku sungguh bahagia mendengarnya. Dia benar-benar telah kembali. Suamiku ya aku tunggu sudah kembali.
"Umi mencintai abi," ucapku tanpa rasa malu meski didengar banyak orang di ruangan itu. Masih ada suster yang sedang membenahi peralatan medis. Juga laki-laki si penabrak. Dan bapak mertua. Aku tidak menghiraukan walau mereka akan menertawakan aku.
Aku hanya tidak ingin menyesal lagi karena aku terlambat mengungkapkannya. Cinta untuk suamiku.
"Abi lebih mencintaimu, Sayang." Dia memonyongkan bibirnya singkat seperti melayangkan kecupan singkat dari jauh untukku.
Kebahagiaanitu semakin lengkap saja. Bayi perempuan mungil datang digendong suster. Lalu ditidurkan di sampingku. Masyaallah, lengkap sudah kebahagiaanku.
Mungkin inilah proses yang harus kulalui untuk mencapai kebahagiaanyag sesungguhnya.
Kehilangan orang yang dicintai, menjadi sebuah pelajaran berharga bagiku. Mungkin ini alasannya, Allah mengambil malaikat kecilku yang pertama saat itu. Mungkin karena saat itu belum waktunya.
Walau dia hadir dalam hidupku, aku akan tetap merasa sedih bahkan bisa saja mengabaikannya karena aku terlalu kalut dengan rasa kehilangan atas Rio.
Dan searang inilah waktunya. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang sempat tertunda itu.
Tidak ada hidup yang mudah, tidak pula hidup selalu sulit. Jika kita yakin Allah ada bersama kita, maka kemudahan demi kemudahan akan datang bersama keikhlasan itu sendiri.
TAMAT...
Terimakasih author ucapkan untuk teman-teman sekalian yang sangat sabar menunggu update novel MCS2 yang sering molor karena authornya sering kehilangan mood nulis...
Terimaksih sudah mengikuti novel ini sampai di episode terakhirnya..
Sedikit bocoran, setelah novel ini author masih akan menulis novel dengan tema semi religi berjudul 'Pernikahan Kedua'
Mohon dukungannya dan author harap kalian akan lebih aktif meninggalkan komentar seru di sana
__ADS_1
Sampai jumpa di karyaku yang baru...