Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Ngambek


__ADS_3

Kedua tanganku sibuk merogoh paper bag yang penuh sesak berisi hasil jarahanku tadi siang di mall. Ya, aku memoroti suamiku tanpa ampun hingga dompetnya kosong melompong saat kami kembali ke rumah.


Sementara aku sibuk membongkar isi paper bag, kepala Rio justru menggelayut di pahaku. Dia bahkan nyaman-nyaman saja walau berulang kali wajahnya harus tertutup kain pakaian yang sedang bergantian kujembreng.


"Kalau bisa … sering-sering saja Abi mengajak umi jalan-jalan seperti tadi." Aku memancing obrolan lebih dulu.


"Kamu mendengarnya, Nak? Umi tega sekali menguras habis uang abi hari ini," keluhnya sembari mengelus perutku.


"Uang Abi tidak akan habis sia-sia jika untuk menyenangkan hati istri," jawabku dengan lantang.


"Memang benar. Tapi alangkah lebih baiknya kalau Umi tidak sampai mengurasnya hingga tandas tidak tersisa barang selembarpun." Dia mencoba menasehatiku yang memang suka kalap jika sudah berbelanja.


"Wahai suami, jangan mengeluh karena sudah menjadi kewajibanmu memenuhi kebutuhanku," balasku tidak mau kalah.


"Oke-oke … abi paham ustadzah …." Akhirnya dia menyerah juga dalam perdebatan kecil ini.


"Nak … jika lahir sebagai perempuan nanti, jangan seperti Umi." Aku menghentikan aktivitasku dan memotong kalimatnya yang jelas belum selesai ia ucapkan. "Memangnya kenapa dia tidak boleh seperti umi? Dia kan anak umi," pangkasku dengan nada sewot.


"Umi itu dahulunya nakal. Masa anak perempuan jadi pembalap. Itu juga balap liar di jalanan umum. Tidak-tidak … kamu harus seperti Lili yang anggun dan berhati lembut. Jangan tiru umi." Sontak kubuang muka ini. Kesal aku mendengarnya. Kenapa dia harus mengagungkan wanita lain di hadapanku? Dan kenapa harus Lili -- mantan kekasihnya yang ia sebutkan sebagai contoh untuk anakku nanti.


Memang benar Lili gadis yang anggun bahkan berhati mulia. Tapi, tidakkah menjengkelkan jika mendengar seorang suami menyebut nama mantannya apalagi sampai memujinya hingga terdengar telingaku?


Awan mendung yang sangat hitam disertai kilat yang menyambar-nyambar adalah gambaran wajahku saat ini. Mungkin jika aku melihat cermin, dua tanduk berwarna merah sudah tumbuh di kepalaku. Siap untuk menyeruduk siapapun yang membuat hatiku hancur berkeping-keping.


"Umi … kok diam?" Rio mendongak memeriksa wajahku yang masih kutekuk.


"Teruskan saja kamu memuji Lili. Aku memang tidak sebanding jika disetarakan dengannya yang anggun dan berhati lembut. Aku bukanlah apa-apa." Aku mengatakannya dengan darah yang sudah mendidih.


"Ampuni aku Tuhan … aku telah berbuat kesalahan. Hei … lihat wajah abi." Rio meraih wajahku dengan lembut.

__ADS_1


"Umi …," panggilnya dengan suaranya yang selalu berhasil menggetarkan jiwaku. "Maaf Sayang …," sambungnya.


"Umi … abi hanya bercanda mengatakannya. Tidak ada maksud sedikitpun dalam hati abi untuk menyakitimu." Aku bisa merasakan kejujurannya.


"Tetap saja, umi tidak suka mendengar abi berkata seperti itu. Umi yang mengandung anak Abi, kenapa dia harus seperti orang lain. Umi kan ibunya, umi lebih berhak menurunkan sebuah kemiripan. Meski umi tidak sebaik wanita lain." Entahlah, aku begitu sedih mengatakannya. Entah karena perasaan kecewa yang terlanjur menancap di hatiku. Atau karena aku merasa kehilangan hakku sebagai ibu dari calon bayiku.


"Umi, jangan katakan apapun lagi. Dengarlah … abi sungguh tidak berniat membandingkanmu dengan siapapun, termasuk Lili. Bagi abi, kamulah wanita yang paling sempurna pelengkap segala kekurangan abi. Maafkan kekeliruan abi, Sayang … jangan hukum abi dengan marah begini. Abi mohon …."


"Berjanjilah … jangan pernah puji wanita manapun di hadapanku lagi. Apalagi sampai membandingkanku seperti tadi. Aku sungguh tidak suka. Bahkan wanita manapun tidak akan suka jika dibanding-bandingkan." Rio menarik pandanganku agar manik mata kami bertemu.


Dan setelah tatapan kami bertemu, "Abi berjanji tidak akan mengulanginya lagi meski hanya sekedar bercanda." Rio menjatuhkan kecupan hangat di dahiku. Kecupan itu menjadi peredam kekesalan yang ia ciptakan di hatiku.


"Ada satu hal yang abi lewatkan dan belum abi katakan padamu," ucapnya setelah melepas kecupannya.


"Apa?" Dia menarik jemariku. Sebuah cincin bertahtakan batu permata berwarna merah muda melingkar dengan pas di sana.


"Cincin ini bukanlah sembarang cincin biasa. Cincin yang dulu sempat aku maksudkan untuk melamarmu ini, adalah cincin pernikahan ibuku. Bapak memberikannya padaku saat perjodohan kita diputuskan. Tidak cukupkah kasih seorang ibu yang tersemat di cincin ini sebagai bukti bahwa aku tidak sembarang meminangmu kala itu?"


"Percayalah … tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku adalah dusta." Aku memeluknya penuh penyesalan.


"Aku percaya padamu, Bi …."


*


*


*


Moodku kembali membaik, Rio kembali ke posisinya. Menenggelamkan kepalanya di atas pangkuanku. Sementara aku tak lagi sibuk memeriksa hasil belanjaan. Aku beralih membelai rambut suamiku.

__ADS_1


"Kira-kira … dia akan mirip dengan siapa ya, Mi? Mirip wajah abi atau Umi?" tanyanya setelah lama hanya menciumi perutku yang belum juga membuncit.


"Mirip umi. Umi kan yang melahirkan dia," jawabku penuh percaya diri.


"Abi lebih berperan di sini. Jelas-jelas abi yang menanam benihnya," elak Rio tidak mau mengalah.


"Tetap saja, dia tumbuh di dalam rahim umi. Dia pasti akan lebih mirip dengan umi." Aku keukeuh dengan pendirianku.


"Jangan ya, Nak. Mirip abi saja. Abi-mu ini wajahnya ganteng lho … kamu tidak akan menyesal jika mirip abi."


"Jangan memprovokasi dia agar berdiri di kubu abi. Dia akan cantik seperti umi, titik." Aku cukup menekan nada bicaraku.


"Memangnya anak kita perempuan?" tanya Rio.


"Umi sih berharap begitu," jawabku sembari membayangkan wajah cute seorang gadis kecil impianku.


"Jika benar dia lahir perempuan, abi akan memberinya nama … Maryam. Bagaimana menurut Umi?" Rio meminta pendapatku.


"Umi setuju. Maryam …." Aku mengulangnya.


Rio bangkit dan memadamkan lampu. Cahaya di kamar menjadi lebih gelap dari sebelumnya yang terang benderang.


Dia membuatku duduk di dalam pangkuannya. Mengecup bibirku berulang-ulang. Hingga aku gemas dan menggigit bibirnya. "Sakit Sayang …," keluhnya saat kugigit dengan keras bibirnya yang merah merona seperti memakai liptint.


Aku hanya bisa terkekeh melihatnya mengusap bibir bawahnya. "Berdarah nih, Mi …." Dia masih mengeluh. Padahal bibirnya tidak luka sedikitpun.


Melihatnya mengusap bibirnya seperti itu justru membuat adrenalinku tergugah. Aku tergoda saat membayangkan kenikmatan yang pernah kudapat darinya. Tepatnya saat bibirnya itu menempel dan membabibuta di area sensitifku. Membuat candu bagiku.


Dengan memaksa aku kembali menyesap bibir suamiku. Kali ini dengan power lebih kuat dan agresif. Tak mau berhenti hanya menyesapnya, aku bahkan berani ******* habis lidahnya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" tanyanya saat kulepaskan ciuman itu dari bibirnya.


"Ada sesuatu yang bergerak. Di bawah umi," ucapku tanpa sadar apa yang sudah terpancing oleh hasratku.


__ADS_2