Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Ketemu Mantan


__ADS_3

Rio menemaniku hingga toko tutup. Alhamdulillah, omset hari ini jauh meningkat dari hari kemarin. Itu juga berkat Rio, suami kreatif dengan segala ide cemerlangnya yang selalu membantuku.


Bukan hal yang salah aku menerimanya sebagai suamiku. Hanya saja, aku belum menyadarinya. Pikiranku masih terkunci dan belum bisa menerima takdirku dengan gamblang.


Sesampainya di rumah, dengan sisa tenaga yang masih ada, aku tetap melakukan kewajibanku sebagai istri. Menyiapkan air hangat untuk suamiku mandi, menyiapkan baju ganti untuknya. Dan setelahnya, aku memasak makan malam untuk suami dan bapak mertuaku.


Di rumah besar ini memang memiliki seorang juru masak. Tapi aku tidak mau serta merta mengandalkannya. Mama pernah berpesan padaku, "Istri bukan hanya harus pandai menyenangkan hati suami, tapi istri juga harus pandai mengenyangkan perut suami." Begitu kata mama yang selalu terngiang di ingatanku setelah menjadi istri Rio.


"Aku mau mandi dulu. Kamu dan bapak tidak perlu menungguku. Kalian makan saja lebih dulu," pesanku pada suamiku saat sampai di dalam kamar.


Aku sudah selasai memasak. Dengan tubuh yang berkeringat dan diselimuti hawa panas akibat terlalu lama berhadapan dengan kompor juga uap, aku memutuskan untuk segera mandi.


Tidak mungkin jika aku duduk di meja makan dengan baju yang bau keringat. Apalagi duduk bersama bapak mertuaku. Bisa-bisa selera makan mereka hilang seketika akibat bau badanku yang menyengat hidung mereka.


"Lho, kamu belum makan?" tanyaku saat mendapati Rio membawa dua piring makanan menggunakan nampan ke dalam kamar.


"Aku sudah makan sedikit tadi buat nemenin bapak. Sekarang, aku gantian nemenin kamu makan. Nggak enak, kan, makan sendirian?" balasnya seraya meletakkan nampan di atas sofa.


Akupun mendekat, perutku memang sudah lapar dan ingin segera diisi.


"Semenjak kamu di sini dan masak, aku perhatikan porsi makan bapak lebih banyak dari sebelumnya. Sepertinya bapak suka sama rasa masakan kamu." Rio memuji masakanku di tengah kami menyantap makanan di piring kami masing-masing.


"Dari sepenglihatanku, kayaknya berat badan kamu juga naik. Perut kamu agak buncit." Aku tidak menyangka jika ucapanku itu menimbulkan kepanikan tersendiri untuk Rio.


Terbukti suamiku itu langsung meninggalkan makanannya dan melenggang menuju cermin. Sambil terus menyantap nasi, aku memerhatikan Rio yang tengah mematut di depan cermin.


"Kamu benar, perutku sedikit buncit. Tapi, wajahku tetap handsome," ucapnya dengan percaya diri.


"Allah tidak suka pada orang yang senang berbangga diri. Apalagi sampai menyombongkan diri," sindirku.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Abi cuma bercanda kok, Mi. Tapi, abi emang ganteng kan, Mi?" tanya Rio sembari membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiriku.


"Hmmm." Aku tidak ingin menjawab iya karena pasti Rio akan mengira aku terpesona dengan ketampanannya. Tapi jika aku menjawab tidak, itu berarti aku mencela ciptaan Allah. Jadi lebih baik aku iyakan dalam hati saja agar lebih aman.


"Makasih ya, kamu sudah banyak membantu. Memberikan peran dalam perintisan usahaku. Berkat brosur yang kamu sebar, toko pakaianku jadi ramai. Bahkan hari ini omset meningkat tajam dari hari sebelumnya." Ucapku setelah menelan habis makan malamku.


"Sudah menjadi kewajibanku, kamu tidak perlu sungkan. Aku doakan, toko pakaian milikmu semakin berkembang dan mencapai kesuksesan. Aamiin," ucapnya disertai untaian doa.


Setelah menghabiskan waktu satu jam yang diberikan Rio untukku membaca buku, aku meletakkan buku yang telah aku baca itu di rak. Kemudian menata tempat tidur dan segera membaringkan tubuh lelahku.


Tapi, tunggu. Kenapa suamiku tidak kunjung menyusulku dan tidur di tempatnya?


"Rio," panggilku pada suamiku yang masih menghadap buku pelajaran. Ya, dia tengah belajar.


"Dalem, Sayang." Jawaban khas orang Jawa saat dipanggil itu keluar dari mulutnya membawa suara lembut laki-laki itu menyentuh telingaku.


"Sudah malam, tidur," ucapku mengingatkannya agar tidak tidur larut malam.


"Lho, mau kemana?" tanyaku saat Rio bukannya membaringkan tubuhnya di sampingku tapi justru hanya mengambil bantal saja dan melangkah pergi.


"Tempatku di sini," jawabnya setelah berdiri di depan sofa tempatnya biasa menghabiskan malam.


"Tapi, punggungmu pasti belum sembuh benar. Kamu masih boleh tidur di sini." Aku menepuk kasur tempatnya tidur kemarin bersamaku.


"Aku sudah merasa lebih baik, Sayang. Aku bisa kembali tidur di sini," balasnya disertai senyuman.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau besok punggungmu kembali sakit, jangan salahkan aku. Aku juga tidak akan membantumu mengompres punggungmu lagi," ucapku dengan ketus.


"Oke-oke, aku mengerti. Istriku memang sangat perhatian."

__ADS_1


Rio akhirnya kembali ke ranjang dan tidur di sampingku. Aku lega karena tidak perlu repot membujuknya.


.


.


.


.


Hari ini aku masih menjaga toko seorang diri. Belum ada satupun orang yang datang mendaftar sebagai pegawai di tokoku. Padahal, iklan sudah aku pasang di pintu.


Setengah hari dari aku membuka toko, hanya ada lima pengunjung yang datang berbelanja. Aku bisa sedikit santai hari ini. Setidaknya aku bisa menyempatkan diri untuk melakukan sholat sunah di sela menjaga toko.


Seorang laki-laki berkulit kuning langsat, bertubuh tinggi setinggi suamiku datang disertai ucapan salam.


"Assalamualaikum," ucapnya begitu pintu dibuka.


Suara yang begitu aku kenali. Sosok yang wajahnya selalu aku rindukan. Kini berada di dekatku, dia datang. Jantungku bergemuruh, hatiku menghangat. Hawa tak jelas menyerang tubuhku saat ini.


"Wa'alaikumsalam," jawabku seraya mengatur detak jantungku ya sulit dinormalkan.


"Kamu? Apa kamu, Arindy?" tanyanya setelah mendengar suaraku.


Dia tidak bisa langsung mengenaliku. Sebab sebagian wajah ini telah tertutup cadar. Wajar jika dia tadi mengiraku sebagai orang lain. Tapi suara ini, nyatanya dia bisa langsung mengenaliku hanya dari mendengar jawaban salamnya.


HARI SENIN WAKTUNYA KALIAN MEMBERIKAN VOTE


YUK, BANTU AUTHOR TAMBAH JUMLAH VOTE DAN HADIAH

__ADS_1


JANGAN KETINGGALAN JUGA LIKE DAN KOMENTARNYA DI CHAPTER INI


SEMANGATIN AUTHOR TERUS YA... THANKYOU..


__ADS_2