Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Karyawan Baru


__ADS_3

Aku sedang menunggu. Menunggu sahabatku yang sudah lama tak bertegur sapa secara langsung. Lili berjanji akan menemuiku siang ini di toko.


Jam makan siang sudah berlalu. Tapi Batang hidung Lili belum juga nampak menyembul dari balik pintu. Aku sedikit cemas menunggunya yang mulur dari jam seharusnya.


"Mbak Indy, dari tadi kelihatan gelisah. Kenapa?" tanya seorang karyawati bernama mbak Nia.


Kini dia bekerja seorang diri di toko milikku. Sebab rekannya yaitu mbak Ina mengundurkan diri beberapa hari lalu karena sakit yang tak kunjung membaik. Aku memakluminya, membagi waktu dan tenaga antara bekerja dan kuliah memang bukan hal yang mudah.


"Aku lagi nunggu temanku. Katanya siang ini dia akan menemuiku. Tapi, sudah lewat satu jam dia masih belum datang juga. Aku khawatir ada hal yang menyulitkannya datang ke sini," beberku pada mbak Nia yang tengah mendengarkanku dengan serius.


"Mungkin dia masih ada urusan, Mbak?" ujar mbak Nia mengembalikan pikiran positifku.


"Mungkin," jawabku tak bersemangat.


"Mbak, apa belum ada pengganti mbak Ina? Aku kesepian kalau Mbak Indy pergi. Aku di sini sendirian. Kan ngeri, Mbak," keluh mbak Nia padaku.


Benar, memang kasihan melihatnya harus bekerja sendirian. Terlebih aku sering pergi meninggalkannya untuk banyak urusan di samping menjaga toko.


Sepertinya aku harus segera mencari pengganti mbak Ina untuk membantu mbak Nia di toko. Mengingat toko yang tidak pernah sepi pembeli. Bahkan jam tutup toko terkadang harus mulur dari jam yang sudah ditetapkan karena antrian panjang pembeli.


"Sabar ya, Mbak Nia. Aku akan segera mencari pengganti mbak Ina."


Setelah puas mendengar jawabanku, mbak Nia melenggang kembali ke pekerjaannya. Dia masih muda, tapi semangat belajar dan bekerja yang ada dalam dirinya tidak perlu diragukan.


Berangkat dari keluarga yang serba kekurangan. Dengan mengandalkan otak pintarnya, mbak Nia berhasil menembus universitas ternama di kota Satria dengan bantuan beasiswa yang diperolehnya.


Belum cukup hanya mengandalkan beasiswa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak tercover, mbak Nia memberanikan diri mendaftar sebagai karyawati di tokoku.


Pilihanku jatuh padanya dari sekian puluh orang yang mendaftar. Sebab aku melihat kejujuran dan keramahan yang ia junjung tinggi dalam dirinya.


Karena tidak ada tanda-tanda Lili akan segera datang. Aku memutuskan untuk naik ke lantai dua, membereskan stok baju yang sudah nampak berantakan.


Setengah jam berkecimpung bersama tumpukan karung baju. Mbak Nia meneriakkan namaku dengan lantang dari lantai satu.


"Mbak Indy! Temanmu sudah datang …." Suaranya menggema seperti terompet kereta api.

__ADS_1


"Ya!" jawabku dari lantai atas.


Segera kutinggalkan pekerjaanku dan turun untuk menemui Lili. Aku sudah sangat merindukannya walau di dalam telepon kami tidak jarang saling menyapa.


"Assalamualaikum." Suara lembut itu menyambut kedatanganku.


"Wa'alaikumsalam, Masya Allah … aku rindu sekali sama kamu." Aku langsung mendaratkan pelukan erat di tubuhnya yang tak kalah mungil dariku.


"Aku juga. Bagaimana kabarmu?" Dia langsung melontarkan pertanyaan walau pelukan belum kami lepaskan.


"Aku sangat baik," jawabku dengan bersemangat seraya melepaskan pelukan.


"Alhamdulillah," jawabnya disertai senyuman manis.


"Ayo, duduk. Bagaimana kabar ibu dan adik-adik? Apa mereka masih suka ayam goreng?" tanyaku sembari menarik lengannya untuk segera duduk.


"Alhamdulillah, mereka semua sehat. Si kembar makin doyan sama ayam goreng. Malahan sekarang mereka sudah bisa makan ayam goreng dengan saus sambal," tuturnya dengan suara ramah.


"Wah, hebat! Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka. Aku juga rindu mereka. Aku masih boleh main ke rumahmu, kan?" tanyaku menyelidik.


"Memangnya kapan aku pernah melarang kamu main ke rumah?"


Kedatangan Lili menambah suasana hangat di toko. Aku senang dia mau datang menemaniku dan mbak Nia.


"Ndy, sepertinya karyawanmu mulai kerepotan melayani pembeli. Boleh aku membantunya?" Lili menawarkan jasa untuk membantu mbak Nia.


"Tentu saja, boleh," jawabku dengan senang hati.


Dari meja kasir kulihat Lili dan mbak Nia sibuk bergantian melayani pembeli. Berkat pengalamannya bekerja di butik, Lili nampak lihai membantu pembeli memilih baju yang cocok dan pas.


Selesai meladeni pembeli yang tadi datang memborong baju, aku mengacungkan pujian pada Lili juga mbak Nia yang telah membantuku mensukseskan toko.


"Mbak Lili pandai merayu pembeli, ya? Yang tadinya cuma mau beli satu, malah jadi beli banyak." Pujian mbak Nia mengawali.


"Kalau dia di sini setiap hari bantuin kita, pasti toko kita semakin sukses," timpalku tak mau kalah.

__ADS_1


"Mbak Lili, memangnya tidak sedang butuh pekerjaan? Toko Mbak Indy sedang membuka lowongan. Soalnya, mbak Ina keluar berapa hari lalu," ucap mbak Nia memberikan informasi.


"Memangnya kamu lagi nyari karyawan baru, Ndy?" tanya Lili padaku dengan serius.


"Iya, aku sebenarnya masih kesulitan mencari orang untuk menggantikan mbak Ina. Oh ya, kalau kamu punya teman yang mencari pekerjaan. Tolong beritahu toko pakaianku sedang membuka lowongan," pintaku pada Lili.


"Tidak usah repot mencari orangnya. Aku mau kok, kerja di sini. Lagipula, butik tempatku bekerja sudah tutup karena pemiliknya pindah ke kota lain. Jadinya aku tidak punya lagi pekerjaan sampingan," tutur Lili.


"Alhamdulillah, aku senang kalau kamu mau membantuku di toko ini. Mulai besok, kamu resmi menjadi karyawati toko pakaian ini," ucapku dengan sumringah.


"Wah … aku senang sekali punya partner kerja seperti Mbak Lili. Selamat datang dan selamat bekerja di sini denganku ya, Mbak?" ucap mbak Nia tak kalah senang.


"Tapi …," keluhku mengingat sesuatu.


"Tapi apa, Ndy?" tanya Lili.


"Iya, nih. Mbak Indy ngapain pakai tapi-tapi," protes mbak Nia.


"Apa kamu akan nyaman bekerja di sini? Rio sering datang ke sini. Kamu pasti akan merasa risih." Inilah yang menjadi kekhawatiranku setelah mengingat kami pernah berselisih paham.


"Kamu jangan khawatir. Aku tidak papa, kok. Aku sudah ikhlas, percayalah, Ndy," ucapnya dengan tatapan mantap. Tak ada kebohongan di sorot mata Lili saat kata ikhlas keluar dari mulutnya.


"Baiklah, aku percaya padamu."


"Memangnya kenapa dengan mas Rio? Mbak Lili mengenal mas Rio suaminya Mbak Indy?" tanya mbak Nia dengan tatapan bingung pada kami berdua.


"Hahaha, sudahlah tidak perlu dibahas. Kamu tidak perlu tahu. Iya kan, Ndy?" ucap Lili terkekeh melihat wajah mbak Nia yang cemberut.


"Ya sudahlah, aku bisa apa kalau kalian tidak mau cerita. Memaksa bukanlah tindakan yang sopan. Benar, kan?" pungkas mbak Nia yang kemudian pergi meninggalkan aku dan Lili.


Angin sepoi-sepoi masuk ke dalam ruangan, diiringi dengan langkah seorang laki-laki tampan yang tangannya nampak menggandeng erat seorang gadis anggun lengkap dengan khimar panjang.


Netraku membulat saat menangkap sosok yang sangat kukenali itu datang bersama wanita. Mungkinkah itu dia? Tunangan Adi yang belum sempat tante Lina kenalkan padaku?


Langkahnya semakin mendekatiku. Hawa hangat berubah memanas saat kedua tangan itu tak kunjung mengendur di hadapanku. Bahkan senyum mengembang sepanjang keduanya melangkahkan kaki.

__ADS_1


BELUM SEMPAT FEEDBACK MAAF YA LAGI SIBUK DI RL


THANKYOU UNTUK SEMUA YANG MAU TETAP MEMBERIKAN DUKUNGAN


__ADS_2