Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Rindu


__ADS_3

Rio menuruni anak tangga dengan wajah kusut. Dua bola matanya nampak memerah. Seakan tengah kehilangan semangatnya, Rio mendudukkan pantatnya pada kursi di meja makan dengan lunglai.


"Bapak heran, kenapa pagi ini meja makan kita penuh dengan tumpukan sate?" sindir bapak pada Rio.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku yakin bapak tahu jelas apa yang terjadi semalam." Bapak mertua tergelak mendengar jawaban sang anak lanang.


"Hahaha … rupanya kamu mengetahuinya. Bapak hanya mengintip sedikit. Pukul berapa kalian selesai berpesta?" lanjut laki-laki paruhbaya itu.


"Pukul 3 dini hari. Apa belum jelas dengan penampakan wajahku yang lebih mirip seperti mayat hidup?" balas Rio dengan kesal karena terus diledek bapaknya.


"Hahaha …." Bapak mertuaku lagi-lagi tergelak. "Jangan sembarangan bicara. Bapak bangga padamu, ternyata menjadikanmu seorang suami di usia muda bukan pilihan yang salah. Sebelumnya bapak khawatir, sebab kalian masih sama-sama belum dewasa saat menikah. Tapi melihatmu sejauh ini, bapak semakin percaya padamu. Kamu memang sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa." Rasa haru menyirat di benak bapak mertuaku sekelebat dan kemudian sirna digantikan dengan rasa bangga akan putra semata wayangnya.


"Ya sudah, ayo … kita sarapan," ajaknya pada Rio kemudian.


"Apa si Mbok sudah mengantarkan ubi bakar ke kamarmu?" tanyanya lagi pada Rio agar tak tercipta keheningan.


"Sudah. Tapi Indy belum bangun, sepertinya masih mengantuk." Rio menjelaskan sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Biarkan saja. Dia perlu banyak istirahat. Dan lagipula, kebanyakan wanita yang sedang hamil muda memang lebih mencintai kasur daripada suaminya." Lagi-lagi bapak meledek Rio.


"Sesekali ajak dia jalan-jalan. Indy pasti bosan terus menerus berada di rumah." Bapak mertua seakan sangat mengerti apa yang dibutuhkan menantunya.


"Dia memang sedang merayuku untuk mengembalikan aktivitasnya lagi. Tapi takkan aku izinkan. Aku tidak ingin sesuatu hal terjadi padanya dan bayiku. Mengingat kondisi kandungannya yang lemah. Aku tidak ingin mengambil resiko," beber Rio.


"Iya, bapak paham. Tapi terus mengurungnya di rumah juga tidak baik. Dia juga perlu menghirup udara luar. Indy akan merasa jenuh jika terlalu lama diam di rumah. Ajak dia pergi untuk sebentar menukar pemandangan." Bapak menepuk bahu anaknya itu kemudian meninggalkan meja makan. Rio nampak tertegun, memikirkan titah bapaknya tadi.


"Benar juga apa yang tadi bapak katakan. Indy pasti bosan hanya berdiam diri di rumah. Tapi aku harus mengajaknya kemana?" gumamnya sendiri.


*


*

__ADS_1


*


"Sayang, ubi bakarnya hampir dingin. Ayo bangun … kamu bisa melanjutkan tidurmu nanti setelah sarapan." Rio membujukku untuk bangun dan menyantap sarapan.


"Emmmmmhhh … umi masih ingin tidur." Bukan langsung bangun aku justru membohonginya yang tengah mengusap-usap perutku.


"Ya sudah, tidak perlu bangun. Tapi buka mulutmu dan kunyah ubinya. Abi tidak ingin kalian kelaparan." Daging ubi hangat menempel di bibirku. Memaksa agar aku mau membuka mulutku.


"Buka mulutnya, Sayang," pinta Rio yang berniat menyuapiku.


"Ah … Abi! Memangnya kenapa kalau umi sedikit terlambat sarapan? Umi masih mengantuk tahu!" protesku karena merasa terganggu. Aku langsung bangun dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah karena tidurku sudah tak terasa nikmat lagi.


"Maafkan abi … Umi." Suaranya menyambutku saat kembali dari kamar mandi.


"Memangnya Abi sudah sarapan?" tanyaku saat menerima suapan ubi bakar dari tangan suamiku.


"Sudah," jawabnya dengan terus menyuapkan daging ubi yang empuk ke mulutku.


"Apa Abi tidak mengantuk?" tanyaku lagi karena Rio nampak sudah rapi.


"Jangan sampai tertidur di kelas. Atau Abi akan kena omel dosen," ucapku memperingatkannya.


"Iya Umi …."


Setelah aku kenyang, Rio berpamitan untuk berangkat ke kampus. Kenapa berat sekali rasanya melepas kepergiannya pagi ini? Padahal biasanya aku tak pernah merasa berat seperti ini.


"Abi …," panggilku tiba-tiba saat sebelum Rio membuka pintu untuk keluar.


"Ya?" jawabnya kemudian menoleh padaku.


"Tidak-tidak," ucapku karena ragu ingin mencegah kepergiannya.

__ADS_1


"Kenapa Sayang? Katakan, abi masih ada waktu untuk melakukan apapun yang Umi inginkan." Rio kembali melangkah mendekati ranjang tempatku duduk.


"Tidak Abi … cepatlah pulang." Aku memantapkan hatiku untuk tidak mencegahnya. Suamiku harus segera lulus dari pendidikannya. Aku takkan mengganggunya.


"Itu saja … tidak ada yang lain?" Aku mengangguk mantap dan menyunggingkan senyum kecil agar dia percaya denganku.


"Baiklah, abi berangkat. Assalamualaikum," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.


"Wa'alaikumsalam."


*


*


*


Kenapa aku semakin merindukannya saat dia jauh dariku? Kenapa ingin rasanya aku segera melihat wajah rupawannya kala dia tak berada di sampingku? Ah … aku rindu … rindu padanya yang setiap saat bisa kutatap wajahnya.


Entah kenapa ada sesuatu yang terus mendorongku untuk menghubungi Rio. Aku ingin sekali mendengar suaranya juga melihat wajahnya yang tak pernah surut berhias senyum.


"Hallo … Abi?" ucapku di dalam sambungan telepon.


Ya, aku dengan nekad menghubunginya lewat telepon karena tak kuasa menahan rindu.


"Hallo … Sayang, ada apa?" jawabnya di seberang sana. Terdengar suara gaduh dan juga riuh di tempat Rio berada.


"Abi akan segera pulang bukan?" tanyaku percaya diri.


"Abi akan pulang dua jam lagi. Memangnya kenapa? Umi ingin sesuatu untuk dibawa pulang?" balasnya lagi.


"Tidak. Umi hanya rindu …." Akun menutup telepon seketika itu. Malu sekali, kenapa aku bisa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu padanya?

__ADS_1


Aneh … sungguh aneh. Aku bahkan tidak bisa memahami diriku sendiri kali ini.


"Semoga saja dia tidak mendengarku tadi," batinku.


__ADS_2