Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Bagaimana Dengan Bayimu?


__ADS_3

Aku mencoba bangkit. Orang-orang langsung berlarian ke arahku saat tubuhku memberikan sinyal kehidupan. Tapi apa ini? Perutku rasanya seperti diremas-remas. Sakit sekali.


"Tunggu! Tunggu sebentar." Aku menolak saat beberapa perempuan ingin membantuku berdiri.


"Kenapa, Mbak? Kakinya sakit?" Aku menggeleng padanya.


"Aku sedang hamil. Perutku sakit." Tanpa sadar, setetes air mata jatuh. Cadarku kian basah karena air itu semakin deras meluncur.


"Kalau begitu harus dibawa ke rumah sakit. Pak ... Pak ... ! Mbak ini sedang hamil, dia bilang perutnya sakit, sebaiknya digendong saja."


Aku sebenarnya ingin sekali menolak, tapi perutku sungguh sangat sakit. Jangankan berjalan, untuk berdiri saja rasanya aku sudah tidak mampu. Ya Allah ... Selamatkan bayiku.


Aku terus berdoa di dalam hati. Meminta perlindungan Yang Maha Esa. Beruntung, warga mengantarku sampai ke klinik terdekat. Ada seorang pengendara yang memberikan tumpangan padaku dan warga.


Sementara motorku, aku tak memikirkannya lagi. Walaupun salah seorang warga memberitahu bahwa motor itu untuk sementara dilarikan ke bengkel di sana.


"Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?" Ibu-ibu dengan tubuh berisi dan tingginya sedikit melebihiku itu terus memapah bahuku. Aku menyerahkan ponselku padanya. Tak kupikirkan lagi walau seandainya mereka berniat jahat padaku.


Rasa sakit terlalu mendominasi dan menguasaiku saat ini. Aku bahkan hanya bisa meringis dan beristighfar sepanjang perjalanan menuju klinik.


Yang kudengar terakhir kali sebelum masuk UGD, ibu-ibu itu mulai berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Mungkin bapakku atau bapak mertua. Yang jelas, dia memberitahu bahwa aku mengalami sebuah kecelakaan.


"Anda sedang hamil?" Dokter bertanya padaku begitu masuk ke ruang UGD.


"Ya, Dok. Tolong selamatkan bayiku." Entah kenapa aku berpikir bahwa bayiku sedang dalam bahaya.


"Perutku sangat sakit," lanjutkan dengan nada menahan sakit.


"Baik, sebentar saya periksa. Sus ...." Kemudian mereka mulai sibuk mengambil banyak alat medis. Mula-mula detak jantung bayiku diperiksa. Alhamdulillah, masih ada walaupun dokter mengatakan detak jantungnya sedikit lemah.


Aku bersyukur, aku sedikit lega mendengarnya. Lalu beralih dengan USG, aku sangat berharap mendapatkan kabar baik.


"Masih ada. Tapi, anda harus dirawat. Tidak bisa kami membuat anda langsung pulang dengan kondisi lemah seperti ini."


Aku mengangguk setuju. Tak apa aku dirawat, asal bayiku selamat. Apapun akan aku lakukan, demi keselamatannya. Sumpah, hanya dia kekuatanku saat ini.


Luka-luka di tangan dan kaki mulai dibersihkan dengan cairan alkohol. Rasanya sangat perih. Kemudian barulah jarum infus menembus vena-ku. Sedikit sakit, tapi masih bisa kutahan.

__ADS_1


Beberapa saat setelah cairan infus mulai masuk dan bercampur dengan darahku, aku mulai merasa lebih relaks. Perutku tak begitu sakit seperti tadi. Aku mengelusnya lembut.


Tak berapa lama suster kembali datang. "Boleh saya periksa sebentar ya, Bu?" Aku mengangguk saja. Terserah mau diapakan, yang terpenting bayiku selamat.


Satu persatu kain yang membalut bagian bawahku dilepaskan. Aku menurut saja, toh dia juga perempuan, sama sepertiku. Semua pintu dan celah tertutup. Orang diluar takkan bisa melihat apapun.


Perlahan suster membersihkan area kewanitaanku. "Ada apa, Sus? Apa saya mengalami pendarahan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Hanya sedikit, tidak perlu cemas. Ibu harus relaks, jangan banyak berpikir. Bayi Ibu hanya mengalami syok."


Benarkah begitu? Dia hanya syok saja? Maafkan umi yang kurang hati-hati, Nak.


Aku jadi teringat pada larangan suamiku. Mungkin dia memang tidak ridho dengan keputusanku memakai kembali motor itu. "Maafkan umi, Bi." Aku bergumam sendiri.


Suster selesai dengan tugasnya. Semua kain yang terlumur darah telah dibuang. Sekarang aku mengenakan pakaian dari klinik. Tak apa, sebentar lagi keluargaku akan datang dan membawakan pakaian ganti. Aku hanya perlu bersabar sebentar.


Warga yang tadi menolongku sudah diizinkan menjenguk. Hanya para perempuan saja yang masuk. Mereka begitu menghormati dan menghargaiku dan aku tersanjung dengan sikap mereka.


"Terimakasih, Bu ... Sudah menolongku." Aku benar-benar terharu dibuatnya.


"Alhamdulillah, bayiku baik-baik saja." Mereka semuanya tersenyum mendengar kabar bayiku yang baik-baik saja. Handphone-ku diserahkan kembali. Mereka bilang bahwa bapak mertuaku sedang menuju ke sini.


Sekali lagi aku berterimakasih sebelum mereka pamit pergi. Aku sendiri lagi setelah kepergian mereka, orang-orang baik yang Allah siapkan untuk menolongku.


Sejenak aku termenung, membayangkan respon suamiku saat mengetahui istrinya kecelakaan. Mungkin sama panik dan sedihnya seperti saat aku mendapat kabar buruk tentangnya.


Renungan itu harus terhenyak, suara derit pintu terbuka mengagetkanku. "Ndy!" Laki-laki berusia sekitar 50 tahunan itu berjalan gontai menghampiriku.


"MasyaAllah, Nak ... Bagaimana bisa kamu jatuh?" Aku tersenyum tipis. Tapi air mata kembali luruh. Beliau mengusap bahuku.


"Sudahlah, bapak tidak marah, Ndy. Hanya saja bapak sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana kondisimu? Dokter mengatakan apa?"


Aku tahu, beliau pasti sangat mengkhawatirkan cucunya yang masih dalam kandunganku. Hanya saja, bapak mertua tidak langsung bertanya dengan gamblang.


"Aku tidak apa-apa, bayiku juga baik-baik saja. Bapak jangan khawatir, Indy hanya perlu istirahat di sini beberapa hari."


Kudengar helaan nafas lega darinya. "Rio ada di depan, dia juga ikut khawatir. Boleh bapak panggil dia masuk?

__ADS_1


Sepertinya Rio ragu untuk menemuimu." Aku mengangguk.


"Masuk, Nak!" Bapak mertua sedikit berteriak karena jarak pintu dan ranjang pesakitan cukup jauh.


"Assalamualaikum." Dia mengucap salam, wajahnya nampak ragu saat melangkahkan kaki menuju diriku.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah," jawabku dan bapak mertua kompak.


"Di mana Lili?" Aku langsung memangkas kecanggungan. Aku tahu, dia bingung akan bersikap seperti apa. Kami selalu dipertemukan dengan pertengkaran.


"Dia sudah pulang," jawabnya singkat. Aku mengangguk dan tersenyum padanya sekilas.


"Bagaimana dengan bayimu?"


Seperti disambar petir, aku kaget sekaligus bahagia. Suamiku menanyakan anaknya? Ya, meskipun dia tidak ingat benar, setidaknya dia mau berbicara dengan nada baik padaku kali ini.


"Alhamdulillah, baik-baik saja." Dia mengangguk. Kemudian kembali acuh.


"Maafkan Indy sudah merepotkan kalian." Bapak mertua menggeleng, "tidak ada yang merepotkan, kamu keluarga kami, Ndy."


"Kalau merasa merepotkan, berarti setelah ini jangan lagi buat kami repot." Rio mulai ketus lagi.


"Baik, maafkan aku."


"Kau kan bisa, minta tolong padaku atau bapak. Kalau seperti ini, aku dan bapak yang akan disalahkan oleh suamimu. Iya kan, Pak?" Bapak mertua mengangguk.


"Lagipula, kamu mau kemana pagi-pagi sekali, Ndy?" Berganti bapak mertua menanyaiku.


"Indy mau ke toko. Sudah lama tidak visit toko, anak-anak pasti juga rindu Indy." Aku berbohong. Anak-anak pegawai di toko memang pasti merindukanku, tapi niatku pergi ke sana justru untuk menghindari Rio.


"Suamimu itu apa sudah tahu kalau kau mengalami kecelakaan?" Rio kembali bertanya.


Aku tak langsung menjawab, aku tak menyiapkan jawaban apapun untuk pertanyaan seperti ini. Aku hanya bisa meminta bantuan bapak mertua melalui mataku.


"Rio ... Sebenarnya, suaminya Indy ini juga sedang sakit. Suaminya sedang dirawat di rumah sakit. Dia dalam keadaan koma."


"Sakit? Koma? Penyakit apa yang diderita sampai koma? Dan kenapa dia malah di sini, bersama kita? Bukankah seharusnya dia berada di samping suaminya?" Laki-laki cerdas itu tak mau dibohongi. Walau lupa ingatan, tak berarti Rio kehilangan kecerdasannya.

__ADS_1


__ADS_2