Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Pulang


__ADS_3

Kuinjak kakinya dengan keras karena aku tidak memiliki cara lain untuk bisa melepaskan diri saat Rio mulai mengulum bibirku semakin dalam.


"Aww!" erangnya saat kakiku berhasil menyentak punggung kakinya.


Benar, Rio melepaskan bibirnya dari bibirku begitu merasa kesakitan. Tapi tangannya yang melingkar di pinggangku tak juga mengendur.


"Kenapa diinjak, Sayang?" tanyanya padaku dengan wajah menahan sakit.


"Lepaskan aku! Atau kamu akan merasakan sakit lebih dari ini," ancamku penuh amarah.


"Hmmm, aku belum selesai." Dia mendekatkan lagi wajahnya hendak kembali memangsaku.


Kukerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong tubuhnya yang tinggi itu. Aku sudah tidak bisa menahan lagi sikapnya yang semena-mena terhadapku.


"Ndy!" ucapnya setelah tubuhnya terpundur akibat dorongan keras kedua tanganku.


"Apa?! Ingin memaksaku? Melakukan hal yang belum aku inginkan dan tanpa cinta? Akhirnya aku bisa melihat siapa suamiku sebenarnya. Kesabaranmu hanya dusta! Janjimu busuk!" caciku dengan emosi yang tumpah-ruah tak bisa lagi kubendung.


"Apa salahnya mencium bibir istriku sendiri? Allah sudah menghalalkanmu untukku. Lalu kenapa sekarang kamu marah?" Rio berbalik memojokkanku dengan kenyataan.


"Benar, aku memang istrimu. Tapi, sebelumnya kamu sudah berjanji untuk tidak menyentuhku sebelum aku siap," tuturku membalas pertanyaannya.


"Aku pikir hanya menciummu tidak jadi masalah. Tapi justru kamu menerimanya sebagai malapetaka." Rio nampak tersulut dengan ucapanku. Amarahnya juga sedikit membara.


"Aku sudah tidak merasa aman dan nyaman lagi di sini. Suamiku yang dulu selalu menghargai, menghormati, dan melindungiku, kini sudah berubah menjadi harimau pemangsa. Aku mau pulang saja, kerumah mama," ucapku dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Aku mohon, jangan biarkan orang tua kita tahu bagaimana kondisi rumah tangga kita yang sebenarnya. Baik, aku mengaku salah. Aku memang sudah mengingkari janjiku karena kekhilafanku sendiri. Aku minta maaf, Ndy." Tatapan penuh sesal tergambar di kedua netra Rio.


"Memangnya siapa yang akan mengadu? Aku ingin pulang hanya untuk mencari ketenangan di sana. Berikan alasan apapun pada mamaku untuk menutupi kekacauan ini," pintaku padanya tanpa menunggu persetujuan darinya.


Aku menyabet totebagku yang tergantung di pintu sebelum melangkah keluar kamar. Aku sudah siap kalaupun Rio tidak mau mengantarku pulang ke rumah mama, aku akan pulang sendiri.

__ADS_1


Tekadku sudah bulat. Yang aku butuhkan saat ini adalah ketenangan. Dan aku tidak bisa mendapatkannya di rumah Rio yang menurutku tak lagi aman dan nyaman.


Langit nampak gelap, bintang dan bulan enggan menampakkan sinarnya malam ini. Aku menuruni anak tangga dengan berusaha tersenyum seperti biasa. Sebab, aku melihat bapak mertuaku tengah duduk di sofa. Beliau sedang menonton TV menikmati waktu santainya.


"Mau kemana malam-malam begini, Ndy?" tanya mertuaku saat aku berhasil menuruni semua anak tangga.


"Indy mau minta izin ke rumah mama," ucapku yang kini berdiri melipat kedua tanganku di dekat bapak mertua.


"Lho, malam-malam begini? Sudah pukul 10, hampir setengah sebelas malam. Ada apa, Nak?" tanyanya lagi mulai cemas.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Indy hanya baru ingat kalau besok mamanya meminta Indy untuk pulang. Ada keperluan antara mereka berdua," jawab Rio seraya menuruni anak tangga. Dia benar-benar menutupi kekacauan yang diperbuatnya hingga membuatku harus pergi.


"Syukurlah kalau benar tidak ada apa-apa. Bapak lega mendengarnya. Rio akan mengantarmu?" lontarnya lagi padaku.


"Iya. Indy pamit sekarang ya, Pak. Indy tinggal dulu," ucapku disertai kecupan yang kudaratkan di punggung tangannya.


"Hati-hati," pesannya sebelum kami pergi.


Empat puluh lima menit berlalu dalam keheningan, mobil yang kami tumpangi berhasil memasuki halaman rumahku dengan selamat. Hujan deras disertai kilat yang menyambar-nyambar turun tepat aku masuk ke dalam rumah.


"Tumben, malam-malam begini kalian ke rumah? Kalian dari mana?" tanya mamaku begitu kedatangan kami disambutnya.


"Dari rumah temanku, Ma. Kebetulan rumahnya dekat dari sini. Jadi, aku mengajak Indy untuk menginap saja di rumah Mama." Rio memang pandai membuat alasan. Tidak sia-sia dia memiliki otak yang cerdas. Aku beruntung mempunyai suami yang bisa diajak kompromi seperti dia.


"Ma, Indy mau langsung tidur saja. Indy pamit ke kamar, ya?" ujarku menghindari pertanyaan lain yang mungkin akan keluar dari mulut mama.


"Rio juga sedikit lelah. Boleh Rio menyusul Indy, Ma?" Dia juga sama sepertiku. Enggan banyak mengeluarkan bualan lagi. Karena bayang-bayang dosa akibat berbohong pada orang tua tergambar jelas di depan mata.


"Silahkan, Nak. Tidak perlu minta izin. Istirahatlah, kalian pasti lelah," pungkas mama.


Tak lama setelah aku menyibak selimut, Rio membuka pintu. Dia hanya mengambil bantal dan melenggang ke sofa, tempat tidurnya.

__ADS_1


Kejadian tak terduga datang bersama mama yang rupanya masuk tanpa mengetuk pintu kamarku lebih dulu.


"Astaghfirullah, maaf Ndy, mama lupa mengetuk pintu. Mama lupa kalau kamu sudah menikah," ucap mama dengan wajah bersalah.


"Nggak papa, Ma." Aku bangkit dari tempat tidur dan meraih nampan berisi segelas air bening yang dibawa oleh mama.


"Makasih ya, Ma," ucapku lagi setelah menerima nampan itu.


Tapi, mama justru diam saja dan pandangan matanya tertuju pada Rio yang meringkuk di sofa. Meski kondisi kamarku sedikit gelap karena lampu utama sudah dimatikan. Tetap saja mama bisa melihat tubuh Rio dengan jelas karena lampu tidur masih menyala.


"Kalian, apa kalian baik-baik saja?" tanya mama padaku.


"Kami baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir. Ma, aku mengantuk sekali, apa aku bisa tidur sekarang?" elakku untuk menghindari mama.


"Baiklah. Selamat tidur, Sayang," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.


.


.


.


Hari ini Rio membolos kuliah karena bapak mengajaknya pergi ke rentalan, tempat usaha bapak. Entah akan diapakan Rio di sana. Yang jelas obrolan hangat mengiringi kepergian mereka tadi pagi.


Aku sudah mengirimkan pesan pada kedua karyawanku tadi pagi. Memberi kabar absensiku hari ini, sebab aku tak bisa hadir untuk menjaga toko bersama mereka. Kupesankan agar mereka mengambil kunci toko di rumah Rio. Mba Ina yang lebih tepatnya teman sekampus Rio sudah paham betul letak rumahnya. Jadi mereka bisa dengan mudah mengambil kunci.


Menikmati waktu santai di temani buku yang sudah lama tak kubaca lagi di ayunan kayu menjadi pilihanku saat ini. Angin sepoi-sepoi menerpa lembaran kertas yang tengah kutumpu, menganggu konsentrasiku.


Mama tiba-tiba saja datang membawa setoples kue nastar dan segelas jus alpukat yang pekat karena bercampur susu.


"Ndy, sudah hampir tiga bulan kamu menikah. Apa belum ada tanda cucu mama akan segera hadir?"

__ADS_1


Uhuk! Aku tersedak jus yang tengah kuteguk. Seketika tenggorokanku terasa perih. Aku merabanya pelan.


__ADS_2