Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Selamat Tinggal Adi


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap bapak dan Rio bersamaan sesampainya di teras.


"Wa'alaikumsalam," jawab aku dan mama kompak.


"Ada apa ini, Ma? Mata kalian kelihatan sembab?" tanya bapak yang langsung menyadari perbedaan di wajahku dan mama.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Ayo kita masuk, Bapak pasti lelah. Mama akan buatkan kopi," ajak mama yang langsung mendapat respon baik dari bapak.


"Kamu menangis?" tanya Rio memeriksa mataku dengan tatapan teliti.


"Aku dan mama tadi banyak bercerita hal-hal mengharukan. Karena itulah, mata kami jadi sembab begini." Lagi-lagi aku mendustai suamiku.


"Kamu lelah? Mau aku buatkan minuman?" tanyaku pada suamiku.


"Buatkan aku minuman yang segar. Di luar panas sekali, bapak tidak mengajakku mampir membeli minuman," keluhnya padaku.


"Tunggu di sini. Aku akan buatkan sesuatu." Aku berlalu dengan meninggalkan seutas senyuman manis untuknya.


Selesai membuat minuman untuk Rio, mama menyuruhku mengantarkan pesanan tante Lina atau lebih tepatnya mama Adi. Kata mama, pesanan kue tante Lina membludak. Jadi mama ikut kecipratan untuk membantu tante Lina memenuhi pesanan customernya.


"Aku tinggal sebentar, ya. Mau nganter ini ke rumah tante Lina," pamitku pada suamiku.


Rio hanya mengangguk sembari menyeruput minuman segar buatanku. Dia juga menyomot satu lembar kue brownies buatan mama.


Aku sedikit bingung saat langkahku semakin dekat dengan rumah Adi. Kenapa rumah Adi ramai sekali? Apa sedang ada acara di rumahnya? Tapi acara apa kira-kira yang sedang diadakan?


Aku tetap melangkah maju hingga benar-benar sampai di rumah Adi. Kuucapkan salam begitu sampai di teras rumahnya.


"Oh, ada Indy. Masuk, Ndy," ujar tante Lina mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Ruang tamu dan teras penuh sesak oleh tamu yang tak aku kenali. Dengan membungkukkan badanku, aku melewati mereka yang menatapku aneh.


"Kebetulan kamu lagi di sini. Bantuin tante, ya?" pinta tante Lina saat berhasil membawaku masuk ke dalam rumahnya.


"Bantuin bikin kue ya, Tan? Emangnya, masih banyak pesanan yang belum dibuat?" tanyaku langsung tertuju pada kue karena mama membawaku kemari dengan alasan itu.

__ADS_1


"Pesanan apa? Tante tidak sedang menerima pesanan. Tante meminta mamamu membantu membuat kue untuk oleh-oleh mereka ini," tutur tante Lina sedikit berbisik.


"Memangnya, mereka, Tan?" tanyaku tanpa canggung.


"Lho, mamamu apa tidak cerita? Hari ini Adi bertunangan. Nanti tante kenalkan kamu dengan tunangannya. Sekarang bantu tante siapkan baju untuk Adi. Kamu pasti bisa, kan, membuat penampilan Adi menjadi lebih sempurna?"


Deg! Seketika jantungku terhenti. Adi bertunangan? Hawa panas dan dingin menjalari tubuhku. Aliran darahku seperti ikut terhenti. Telapak tanganku membeku beserta anggota tubuhku yang lain. Telingaku mendadak tuli, pandanganku tak terarah lagi.


Aku diam mematung tanpa mengeluarkan satu katapun untuk menjawab pertanyaan tante Lina.


"Ndy." Sentuhan telapak tangan tante Lina membuatku sadar dari lamunan.


"Iya, Tante," jawabku sedikit gugup.


"Kamu kenapa melamun?" tanya tante Lina yang menangkap lamunanku tadi.


"Tidak, Tante. Indy hanya terkejut dengan kabar mendadak ini," jawabku jujur.


"Tante," cegahku dengan memegang lengan tante Lina yang hendak pergi.


"Kenapa, Ndy?" Tante Lina nampak bingung dengan sikapku.


"Maaf, Tante. Indy tidak bisa membantu. Indy harus segera pulang," ucapku beralasan.


"Sebentar saja, tante mohon. Lagipula, kamu dan Adi sudah lama tidak bertemu, kan?" Tante Lina tidak tahu kalau sebenarnya Adi sudah beberapa kali bertemu denganku.


"Baiklah." Aku menyerah. Sebab tidak sopan menolak permintaan tolong orang yang lebih tua dariku. Apalagi, tante Lina sampai memohon padaku.


Aku bersembunyi di belakang tante Lina saat sampai di kamar Adi. Belum kulihat seperti apa wajah laki-laki yang hendak bertunangan itu. Sebab wajahku sendiri kusembunyikan dalam tunduk.


"Di, lihat mama bawa siapa ke sini," ucap tante Lina pada anaknya.


"Indy? Mau apa dia ke sini, Ma?" tanya Adi dengan nada ketus.

__ADS_1


"Hush … mama minta bantuan Indy buat dandanin kamu," jawab tante Lina.


"Nggak perlu." Adi tetap pada pendiriannya, bersikap keras dan ketus.


"Indy pamit pulang aja, Tante." Belum genap membalikkan tubuhku, Adi mencegahku dengan kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.


"Baru segitu aja udah nyerah," ucapnya penuh dengan nada sindiran.


"Ndy, tante minta tolong, ya?" Tante Lina menepuk bahuku membuatku tertahan di sana.


"Aku nggak bisa lama-lama di sini. Aku minta izin membuka lemarimu untuk memilih baju," ucapku tanpa basa-basi dan langsung membuka lemari kayu setinggi satu setengah meter di belakang Adi.


"Ndy," panggilnya yang tengah berdiri di belakangku.


"Kemeja ini sepertinya cocok kamu." Aku membalikkan tubuhku dan Adi tepat berdiri di hadapanku dengan tatapan tajam.


"Apa kamu nggak terkejut melihatku akan bertunangan hari ini?" Aku terus menundukkan pandanganku.


"Kamu bisa pakai kemeja ini, aku harus pulang." Kuletakkan kemeja itu di atas kasur di kamar itu. Aku takut, Adi yang sedari tadi terus menatapku akan melihat gurat kesedihan di mataku.


"Aku masih tidak bisa menerima pernikahanmu. Apa kamu bisa menerima pertunanganku?" Adi lagi-lagi mencegah langkahku dengan pertanyaannya.


"Pertunanganmu bukan menjadi urusanku. Walau aku tak bisa menerimanya, pertunangan ini akan tetap terjadi. Tidak akan ada yang berubah. Sudah sepatutnya aku memberikan ucapan selamat untuk pertunanganku. Karena tak ada lagi kata yang lebih pantas aku ucapkan selain memberimu selamat. Aku pamit, Assalamualaikum," ucapku kemudian dengan cepat keluar meninggalkan kamar Adi.


Orang-orang yang ada di sana memandangku bingung. Aku yang keluar dengan setengah berlari. Serta pelupuk mataku yang sudah menggembung dipenuhi air mata.


Buliran bening itu jatuh bersamaan dengan langkahku yang semakin jauh meninggalkan rumah Adi. Sempat kutatap kembali halaman rumahnya yang ramai.


"Mungkinkah mama sengaja memperlihatkan ini padaku? Sebab mama tahu aku mencintainya? Apakah pertunangan Adi adalah jawaban untuk aku menjalani hidupku esok?"


Aku tidak mau orang melihatku semakin aneh. Kuseka air mata di pelupuk mataku menggunakan kain lengan bajuku.


"Selamat tinggal, Adi," ucapku dalam hati dan segera kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2