Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Istriku


__ADS_3

Rio kembali menangkap perubahan sikapku saat kami sampai di rumah. Aku yang biasanya selalu menunggu jemarinya meraihku agar kami bisa berjalan beriringan. Kini aku justru meninggalkannya, berjalan dengan gontai dan tidak mempedulikan panggilannya.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa istriku berubah sikap seperti itu? Dimana letak kesalahanku ...." Rio bergumam sendiri. Dengan setengah berlari laki-laki berparas tampan itu menyusulku.


Aku sudah hampir mencapai setengah anak tangga. Tapi perutku tiba-tiba bereaksi dan memaksaku untuk tidak melanjutkan langkahku lagi.


"Abi akan membantumu, Sayang." Rio langsung menggendongku bak bridal style. Tadinya aku ingin sekali menolak bantuannya. Tapi nyatanya aku memang sudah tidak mampu lagi untuk menaiki anak tangga ini sampai ke ujungnya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di perutku.


"Jangan ulangi lagi, Mi ... tunggulah Abi jika akan menaiki tangga." Sorot mata teduhnya jatuh mengenai retinaku. Namun kualihkan segera pandanganku saat bertemu.


Rio tidak segera menurunkan tubuhku saat sampai di kamar. Dia justru mendudukkanku di atas pangkuannya. Kini kami duduk bertumpuknya di tepi ranjang.


"Ada apa, Mi? Apa ada hal yang sedang mengganggu pikiran Umi?" Rio mengorek hatiku lagi yang sedang dibakar api cemburu.


Aku tetap diam. Jika sedang marah seperti ini, aku memang lebih suka mengunci mulutku rapat-rapat. Takut jika ada kata yang keluar justru akan menyakiti perasaan orang lain.


CUP


Kecupan tiba-tiba jatuh di bibirku. "Abi akan terus mencium bibir yang terkunci ini agar mau membuka suara," ucapnya kemudian mencium bibirku lagi.


Hujan kecupan kudapatkan saat ini. Hati yang tengah memanas kini mulai menyejuk. Kecupan bibir suamiku menjadi obat mujarab untuk meredam emosiku. Rio sudah menemukannya, penawar dari segala emosiku saat meluap seperti ini.


Pelan kutatap dua bola matanya. Benar, dia sedang menunggu jawaban dariku. "Umi cemburu melihat Abi mengobrol dengan Lili seperti tadi. Bahkan Abi sampai mengabaikanku. Kalian juga lebih sering bertemu akhir-akhir ini. Wajar bukan ... Jika umi sedikit menaruh curiga?" tuturku dengan hati-hati.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... jadi itu, yang membuat sikapmu berubah semenjak kemarin? Kekhawatiran dan kecurigaanmu tidak terbukti, Sayang. Aku menemui Lili sebab membantu urusanmu. Sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suami untuk membantu istriku saat keadaan tidak memungkinkan untukmu melakukannya. Itu saja tidak lebih. Soal mengabaikanku, benarkah aku telah mengabaikan istriku yang sangat aku cintai ini? Abi minta maaf jika telah mengabaikanmu."


SWIIIINGGG


Seketika itu angin membawaku melambung ke awang-awang. Berkali-kali dia menyebutku dengan panggilan 'istriku' dan kalimat terakhirnya benar-benar membuatku ingin melayang di udara.


Rona wajahku memerah sebab senyum kembali merekah. Aku sungguh bahagia mendengarnya. Kekhawatiran dan kecurigaanku padanya sejak kemarin sudah terhempas dan terlupakan dengan sendirinya. Tuhan ... terimakasih karena Engkau telah menganugerahiku suami yang setia dan mencintaiku dengan tulus.


"Bahagiakan Umi bersama abi?" Suaranya memecah bayanganku yang tengah melayang.


"Alhamdulillah, umi sangat bahagia memiliki suami seperti Abi." Ya Allah ... jantungku rasanya mau terlepas dari tempatnya. Aku tidak dapat membohongi perasaanku, aku memang bahagia bersanding dengannya kini.


"Alhamdulillah," balasnya seraya membelai wajahku. Hingga jemarinya mengusik bagian bibirku. Sebuah hasrat kembali tersirat. Aku ingin menggigit jemarinya yang berkeliaran dengan tidak sopan membelai bibirku.


Tepat saat bibir kami akan menaut, gema adzan Maghrib menyelusup masuk ke kamar kami. "Abi, sebaiknya kita bersiap untuk memenuhi tanggung jawab kita sebagai umat muslim-muslimah. Ayo ...." Aku beranjak turun dari pangkuannya dan mulai mengambil handuk untuknya mandi.


"Ya Allah ... Kenapa engkau tidak meridhoi saat aku ingin melepas rindu pada istriku?" Rio nampak menghela nafas dan melenggang menuju kamar mandi.


*


*


*

__ADS_1


Usai menunaikan fardu yang terakhir, Rio mengajakku ke gudang. Aku tidak bisa menebak apa maksud suamiku tiba-tiba mengajakku ke gudang. Adakah sesuatu di dalam gudang yang menarik perhatiannya? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas aku hanya mengikuti saja langkahnya sampai gudang.


Tempat yang usang dan dipenuhi debu, inilah pemandangan yang bisa kutangkap saat ini di dalam ruangan berukuran 5x6 meter. Tumpukan kardus dan figura-figura berbagai ukuran mendominasi ruangan yang tak begitu besar ini.


"Abi nyari apa?" tanyaku ketika melihatnya memindah sebuah kardus yang ia letakkan di atas meja penuh debu dan ia mulai membukanya.


"Kemari Sayang," pintanya padaku yang saat ini berdiri agak jauh darinya.


"Mau lihat wajah gantengku ini turunan siapa, tidak?" ucapnya ketika aku berdiri di sampingnya.


Rasa penasaran muncul dan mendorong kepala ini bergerak naik turun dengan sendirinya.


"Lihatlah foto ini. Dia ibuku, cantik bukan? Cantiknya sama seperti istriku," ucapnya seraya mengusap sebuah foto terbingkai figura kecil yang gambarnya masih terlihat cukup jelas.


Aku beralih memegangnya, mengamati wajah ibu mertuaku yang terbingkai jilbab hingga menambah keanggunan pada sosoknya. "Assalamualaikum Bu," ucapku dengan tatapan lekat pada perempuan di dalam foto yang wajahnya masih nampak muda.


"Abi mirip ibu 'kan, Sayang?" Aku beralih menatap wajah suamiku. Matanya sedikit berkaca, sorot matanya kian sendu. Aku mengusap pipinya yang halus dengan penuh arti. Tiba-tiba saja suasana berubah haru. Aku merasakan apa yang tengah suamiku rasakan. Rindu pada sosok ibu.


"Jangan sedih Abi ... Umi akan mengganti pelukan yang sedang kamu rindukan. Meski tak akan sama dengan hangat dekapan ibumu." Aku memeluk tubuh suamiku yang sedikit bergetar dengan bingkai foto masih dalam genggamanku.


Sayup-sayup angin kecil datang menerpa wajahku. Membuat pandanganku melamur sebentar kemudian kembali jelas. Sesosok wanita bertubuh proporsional dengan balutan gamis berwarna putih gading dan dilengkapi khimar senada berdiri tak jauh di belakang punggung Rio. Wajah ayu nan teduh itu tersenyum kepadaku. "Ibu ...," lirihku.


Beliau terus menyunggingkan senyumnya hingga angin kecil kembali datang dan membawa debu ke mataku. Aku mengerjap, dan seketika bayangan sosok ibu mertuaku hilang.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Rio melepas pelukanku. Mengusap dua pelupuk matanya yang basah oleh air mata. Senyum kembali terbit di bibirnya saat aku menatap matanya dengan intens. Mata itu benar-benar sama dengan sepasang mata ibunya. Sinar teduh yang selalu menyejukkan hati itu ia dapatkan dari ibunya. Dan wajah rupawan ya, memang turunan dari wanita yang ia sebut sebagai ibu.


__ADS_2