
Sudah berapa kali Rio bersin dan tidak kunjung berhenti. Tubuhnya yang sempat terguyur hujan kini mulai menunjukkan reaksi. Suamiku sepertinya masuk angin.
Aku buatkan susu yang di dalamnya telah aku campur dengan bubuk jahe agar tubuhnya segera menghangat.
"Ini aku buatkan susu jahe untuk menghangatkan tubuhmu. Minum sekarang selagi masih hangat," pintaku dengan menyodorkan segelas susu jahe buatanku.
"Terimakasih, Mi," balasnya.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanyaku padanya.
"Boleh, mau minta apa?"
"Aku lebih suka kamu memanggilku Umi jika dalam keadaan darurat saja," ucapku kemudian.
"Hmmm, baik. Maafkan aku." Aku hanya mengangguk. Kulihat dia yang mulai meneguk susu jahe buatanku.
"Uhuk … uhuk …." Suamiku terbatuk saat satu tegukan melewati tenggorokannya.
"Pelan-pelan saja minumnya. Tidak perlu buru-buru seperti akan tertinggal kereta saja," sindirku pada Rio.
"Bukan tidak pelan-pelan, tapi susu jahe buatan kamu terlalu pedas sampai menusuk tenggorokanku." Baru kali ini suamiku memprotes sesuatu buatanku. Aneh, nada bicaranya juga terdengar sengal.
Emosiku cukup tersulut karena nada bicaranya saat memprotesku benar-benar jauh dari sikap suamiku yang biasanya selalu lembut padaku.
Kurebut gelas yang tengah berada di genggamannya. Dengan kecewa aku bawa susu jahe buatanku itu ke dapur. Langkahku gontai, tak perduli jika harus tersandung kain gamisku yang menjuntai.
"Bisa-bisanya dia mengatakan susu buatanku menusuk tenggorokannya. Memangnya aku menaruh jarum di dalam susu!" keluhku sendirian di dapur.
Sebelum menuang susu itu di wastafel, aku lebih dulu menuruti rasa penasaranku. Aku mencicipi susu itu. Meneguknya sekali dan mengecapnya.
Tidak pedas, rasanya sudah pas. Lagipula aku selalu mencicipi lebih dulu apapun yang aku buat untuknya. Takut-takut aku memberinya sesuatu yang tidak enak.
Tapi kenapa dia mengatakan kalau susu buatanku pedas bahkan sampai menusuk tenggorokannya? Apa Rio tengah menunjukkan kemarahannya? Tapi, apa kesalahanku padanya?
__ADS_1
Karena kesal dengan ucapannya tadi yang berhasil sedikit menyentil hatiku. Aku mengurungkan niatku membuang susu itu. Aku tenggak habis hingga tak ada satu tetespun tersisa.
Sekembalinya diriku ke kamar, Rio sudah membaringkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam saat aku berdiri di sampingnya. Tapi ketika dia menyadari aku ada di dekatnya, Rio memiringkan tubuhnya hingga memunggungiku.
"Aku buatkan teh manis hangat. Untuk mengganti susu jahe yang terlalu pedas sampai menusuk tenggorokanmu. Ini, minum sekarang," ucapku masih mencoba bersabar walau dia sudah mencubit hatiku tadi.
"Taruh saja di meja belajarku, nanti aku minum," jawabnya tanpa melihat wajahku.
"Keburu dingin kalau diminum nanti," protesku.
"Bisa nurut aja nggak? Aku mau tidur sebentar. Aku pusing!" Nada bicaranya sedikit naik kali ini. Dia benar-benar sedang kesal denganku.
Masih dengan sisa kesabaranku, aku mencoba meluluhkan hatinya agar sikap lembutnya segera kembali.
"Mau aku pijit kepalanya?" Kuberanikan untuk mengatakannya. Aku sangat berharap dia menjawab mau. Tapi nyatanya, dia menolakku.
"Tidak. Aku cuma ingin tidur. Tolong jangan ganggu aku dulu." Dia enggan bicara denganku.
Bapak mertua melihatku duduk melamun di teras sendirian. Beliau mendekat dan duduk di kursi sebelahku.
"Kok sendirian, mana suamimu?" tanyanya begitu mendudukkan pantatnya.
"Rio sedang tidak ingin diganggu. Makanya, Indy duduk di sini saja," jawabku dengan lesu.
"Apa ada masalah yang terjadi?" tanya mertuaku lagi. Sepertinya pertengkaran kecil antara aku dan Rio terendus indera penerawangannya.
"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu murung begitu, tidak biasanya kalian seperti ini," sambungnya lagi karena aku hanya bisa diam tak segera menjawab pertanyaannya.
"Sebenarnya, aku tidak tahu apa kesalahanku. Sepulang dari toko Rio masih biasa saja. Tapi, saat sampai di rumah sikapnya mulai berubah. Nada bicaranya juga sedikit naik dan sengal."
Mertuaku menghela nafas begitu aku selesai menceritakan rentetan kejadian tadi yang membuatku kecewa karena perubahan sikap Rio.
"Apa kamu benar-benar tidak tahu apa yang diinginkannya sekarang?" tanya mertuaku kemudian. Aku lantas menggelengkan kepalaku karena memang tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
"Dia bukan mengusirmu atau menginginkanmu pergi. Tapi justru sebaliknya. Rio ingin kamu tetap di sana, menemaninya. Percayalah, Nak. Rio tidak akan bertahan lama dengan amarahnya."
Setelah mencerna maksud ucapan mertuaku. Aku akhirnya memutuskan kembali ke kamar. Untuk meminimalisir suara yang akan timbul, aku sampai membuka pintu dengan sangat hati-hati. Bahkan aku melepas alas kakiku dan berjalan dengan berjinjit agar tidak mengganggu istirahatnya.
Tapi rupanya ada satu hal yang aku lupakan dan membuatnya bisa menyadari kehadiranku. Parfum yang menempel di bajuku. Aromanya terendus indera penciuman Rio dan membuatnya bangun.
"Kenapa berjalan mengendap-endap?" tanyanya begitu melihat aku yang berusaha sampai di dekatnya dengan menjinjitkan telapak kaki.
"Aku tidak mau mengganggumu," jawabku dengan jujur.
"Kemari," pintanya padaku. Aku menurut saja karena tidak mau menambah kekesalannya.
"Maafkan sikapku tadi, ya? Aku tidak bisa menahan rasa cemburu di hatiku," ungkapnya setelah aku duduk di sampingnya.
"Cemburu?" tanyaku bingung. Cemburu pada siapa yang dia maksud saat ini.
"Ya, aku cemburu melihat Adi memandangmu seperti itu," sambungnya.
"Seperti apa? Aku tidak melihat hal aneh," jawabku tanpa mengerti posisinya yang kini telah menjadi suamiku.
"Mungkin kamu tidak bisa melihat, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas. Sorot matanya yang semula penuh semangat saat bertemu denganmu secara tidak sengaja. Berubah saat aku datang diantara kalian. Perubahan itu semakin terlihat jelas saat aku memberitahukan pernikahan kita." Api cemburu itu masih ada. Rio mengucapkan kalimat demi kalimat itu masih dengan amarah yang menggebu.
"Aku minta maaf karena tidak menyadari kecemburuanmu," balasku seraya tertunduk dalam.
"Aku juga minta maaf karena meluapkan emosi padamu tadi. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak cemburu karena kenyataannya kamu sudah menjadi istriku."
Benar kata mertuaku tadi, Rio memang tidak bisa berlama-lama bergelut dengan kemarahannya. Sikap lembutnya padaku kini sudah kembali.
**TIDAK BOSAN MENGINGATKAN KALIAN UNTUK SELALU TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR DI SETIAP CHAPTER SETELAH MEMBACA NOVEL INI
DAN BAGI YANG SELALU LIKE, KOMEN, VOTE, DAN RATE AKU CUMA BISA BERTERIMAKASIH
SEMOGA KESEHATAN DAN KEBAHAGIAAN SELALU MENGHINGGAPI KALIAN, AAMIIN**.
__ADS_1