
"Kamu ngapain di sini? Rio mana, kok nggak sama kamu?" ujarnya dengan celingukan mencari keberadaan Rio.
"Rio masih kuliah. Aku habis membeli buku dan camilan untuk karyawanku di toko. Omong-omong, maaf ya, aku buru-buru."
Aku langsung bangkit menegakkan tubuhku dan berniat segera pergi. Namun Adi tak membiarkan aku lolos darinya dengan mudah.
"Apa kamu sedang menghindariku?" tanyanya setelah aku melangkah belum jauh darinya yang masih berdiri di tempatnya.
Aku tercekat dengan pertanyaannya. Dia benar, aku memang sedang menghindarinya. Sebab suamiku cemburu melihatnya ada di dekatku.
"Aku tidak sedang menghindari siapapun," jawabku setelah membalikkan arah.
"Lalu kenapa kamu langsung pergi, padahal kita baru saja bertemu. Aku masih mau banyak mengobrol denganmu. Bukankah kita sudah lama tidak saling bertukar kabar? Atau jangan-jangan, Rio yang memintamu menjauh dariku?" cecarnya dengan dugaan yang sungguh benar.
Aku tak mengiyakan dugaannya itu. Adi tidak perlu tahu apa yang sebenarnya menjadi alasanku menghindarinya.
"Cukup, Adi. Semua dugaanmu salah. Rio suami yang baik dan sangat pengertian. Dia tidak pernah melarangku. Terlebih dia juga mengenalmu, mana mungkin Rio memintaku menjauh darimu. Rio sangat tahu, kamu adalah tetangga sekaligus teman masa kecilku."
Aku berusaha menyadarkannya dengan kondisi yang telah berbeda sekarang ini. Aku bukan lagi Indy yang dulu bebas mengurai perasaanku padanya. Benteng pembatas telah berdiri kokoh, menjulang sangat tinggi dan sulit untuk dirobohkan.
Begitulah kenyataannya, perasaan cinta antara aku dan Adi yang dulu sempat berkembang di dalam sanubari. Tak mungkin lagi dilampaui sebab kini aku telah dimiliki laki-laki lain.
"Ya, aku memang hanya tetangga dan teman masa kecilmu. Yang sudah terlambat merengkuh cintaku," jawabnya dengan menatapku dalam.
"Yang lalu biarlah berlalu dan tersimpan menjadi kenangan. Tidak perlu lagi diungkap di masa yang telah berubah. Karena percuma, toh semuanya tidak akan bisa diputar kembali."
"Benarkah?" tanyanya seraya berjalan mendekatiku.
"Lihat mataku dan katakan, apa kamu benar-benar sudah membuang perasaan untukku? Apa hatimu kini sudah sepenuhnya terisi nama suamimu? Katakan, kalau memang benar kamu sudah tidak menyimpan sedikitpun perasaan padaku. Aku janji, aku juga akan melupakan perasaanku padamu," sambungnya setelah sampai di hadapanku.
Aku mendongak ketika mendengarnya mengatakan bahwa perasaannya masih ada untukku. Ingin sekali kupeluk tubuhnya yang sangat aku rindukan. Seperti ada sebuah tembok transparan di antara kami. Aku tak bisa menyentuhnya walau dia ada di hadapanku.
__ADS_1
"Aku akan mencintai suamiku, dan hanya suamiku. Aku tidak akan mencintai laki-laki lain, selain suamiku."
"Jangan terlalu memaksa. Itu lebih terdengar seperti sebuah kebohongan. Jangan menipuku dengan tatapan itu," ucapnya tak mempercayai kata-kata yang kulontarkan barusan.
"Terserah apa katamu. Jangan buat aku benar-benar menjauhimu karena sikapmu yang mengerikan ini kepadaku," ancamku pada Adi.
Bukannya takut, Adi justru menertawakanku. Dia menganggap ucapanku sebagai lelucon untuknya.
"Kita lihat saja nanti. Aku akan membuktikan kalau ucapanmu tadi hanya dusta. Aku yakin, di dalam lubuk hatimu. Masih ada namaku."
Adi meninggalkanku setelah ucapan ia bisikkan di telingaku. Lemas, aku hanya bisa terduduk lemas karena debaran jantungku tak normal. Detakannya begitu kencang dan keras. Seperti sedang menggedor-gedor dadaku.
"Ya Allah, kenapa hatinya tidak Engkau lemahkan saja agar dia mudah menyerah atas perasaannya padaku? Bukalah pintu hatinya agar Adi segera menyadari kenyataan," batinku.
Gema adzan dzuhur terdengar setelah aku duduk terpaku selama beberapa menit. Kini kakiku sudah kembali bisa berdiri. Kuayunkan kedua kakiku menuju masjid yang kebetulan berada tepat di depan gedung gramedia.
Selepas menjalankan empat rakaat wajib, aku menyalakan motorku dan kembali ke toko. Dua karyawatiku, mbak Ina dan mbak Nia nampak sedang menikmati menu makan siang mereka.
"Tidak telat kan, makan siangnya?" tanyaku begitu sampai di hadapan mereka.
"Tidak, Mbak. Alhamdulillah tepat waktu," jawab mbak Nia yang usianya masih di bawahku.
"Sudah sholat?" lontarku lagi mengabsen kewajiban mereka sebagai muslimah.
"Alhamdulillah, sudah." Kini gantian mbak Ina yang menjawab sebagai perwakilan diantara keduanya.
"Syukur Alhamdulillah. Oh ya, aku bawakan kue balok dan es. Tapi mungkin esnya sudah tidak terlalu dingin. Maaf karena aku mampir dulu ke masjid," jelasku pada mereka.
"Makasih ya, Mbak. Padahal kan, sudah dipesankan makan siang. Tapi masih ada aja bonus yang lain," ucap mbak Nia.
"Bersyukur, ini rezeki untuk kalian." Mereka mengangguk lalu melanjutkan lagi acara makan siang.
__ADS_1
Aku melenggang menuju lantai dua. Betapa terkejutnya aku, saat berada di ujung tangga dan netraku langsung menangkap sosok tinggi sedang berdiri.
Rupanya Rio tengah merapikan sajadah. Astaghfirullah, kenapa aku ini? Apa retinaku bermasalah karena terlalu lama melihat jalanan panas? Atau karena hal apa? Entahlah, yang jelas aku berusaha mengatur detak jantungku yang hampir copot tadi.
"Sayang," panggilnya begitu menyadari kehadiranku.
"Kamu sudah makan?" tanyaku saat berada di dekatnya.
"Belum, tapi aku ingin makan sesuatu," ucapnya dengan manja.
"Sesuatu apa?" tanyaku penasaran.
Dia mendekat dan meraih pinggangku. Tiba-tiba sekali dia berani melampaui batasnya. Apa mungkin hormonnya tengah memuncak? Oh tidak, ini masalah besar untukku. Aku terancam saat ini.
"Jangan lakukan ini di sini. Nanti ada yang melihat kita," ucapku seraya menjauh dari dekapannya.
"Kalau begitu, ayo pulang," pintanya.
"Rio …," keluhku dengan nada memelas.
"Hmmmm, baiklah. Aku tidak akan memaksa."
"Terimakasih," jawabku lalu melangkah untuk mengambil beberapa baju.
Cup! Satu kecupan mendarat dengan nakal di pipiku. Aku terperanjat dan hanya bisa memegangi pipiku yang sudah terlanjur diciumnya.
"Maaf, abi khilaf," ucapnya kemudian berlari menuruni tangga dengan cepat.
**LIKE DAN KOMENNYA UNTUK CHAPTER INI JANGAN SAMPAI KETINGGALAN
TERIMAKASIH YANG SUDAH MENEKAN TOMBOL LOVE DAN KARYA INI MENJADI FAVORITE KALIAN**
__ADS_1