
Seperti kebanyakan istri lainnya, meski aku belum sepenuhnya bisa mencintai suamiku dan menyerahkan jiwa ragaku padanya, aku tetap berusaha berbakti dan memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri.
Karena suamiku dan bapak mertuaku selalu pergi di pagi hari, maka aku menyiapkan sarapan setiap hari untuk mereka. Dengan bantuan asisten rumah tangga di rumah mertuaku, aku bisa menyiapkan segalanya yang suamiku dan mertuaku sukai.
"Selamat pagi, Istri," sapa Rio, suamiku yang telah meminangku dua minggu lalu.
Laki-laki yang tubuhnya selalu wangi itu datang menyambangiku yang tengah sibuk memindahkan masakan dari wajan ke piring.
"Pagi." Sekelebat aku melihat tubuhnya yang tengah berdiri sambil meneguk segelas air dingin dari dalam kulkas. Kuteruskan langkahku menuju meja makan untuk menyajikan hasil masakanku dan membantu mbok ART menata meja makan.
Tak lama, Rio menyusul ke meja makan dan duduk di bangkunya.
"Mau aku buatkan teh, susu, atau jus?" tawarku tanpa melihat ke arahnya.
"Apapun yang istriku buatkan, pasti aku minum," balasnya dengan gombal.
Aku tak menjawab ataupun memberikan respon sebagai mana istri mendapat gombalan dari suaminya. Aku justru melenggang meninggalkannya dan kembali ke dapur untuk menyiapkan teh manis hangat untuknya dan untuk bapak mertuaku yang belum juga keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi, Pak," sapaku pada bapak mertuaku saat kembali ke meja makan dan mendapati laki-laki paruhbaya itu sudah duduk di kursinya.
"Pagi, Ndy. Wah … kamu masak banyak sekali pagi ini," ucapnya setelah melihat banyak masakan menghampar di depannya.
"Biar banyak pilihan. Soalnya, Indy tidak tahu apa yang Bapak suka. Semoga masakan Indy tidak mengecewakan," balasku sembari menyiduk nasi hangat dari dalam bakul ke piring bapak mertuaku.
"Dari baunya yang tercium hidung bapak, sepertinya tidak mengecewakan," ujar Dhanu, bapak mertuaku yang menyuntikkan kepercayaan diri padaku.
__ADS_1
Setelah menyiduk nasi untuk bapak mertua dan suamiku, aku lantas duduk di samping suamiku. Menikmati sarapan pagi dengan hikmat bersama keluarga baru.
"Benar kan, apa yang bapak bilang tadi. Masakan kamu tidak mengecewakan," puji bapak mertua padaku setelah menghabiskan sarapannya.
"Alhamdulillah," balasku.
"Sayang, boleh ambilkan sayur lagi?" ucap Rio tiba-tiba.
Aku langsung berdiri dan mengambilkan sayur yang dia minta.
"Tuh, suamimu sampai nambah. Sangking nikmatnya masakan kamu, Ndy." Bapak mertuaku memang sangat hobi menggodaku hingga aku menjadi malu.
Tapi bukan tersipu, aku justru biasa saja menanggapinya. Tak ada yang istimewa walaupun suamiku menghabiskan semua masakanku pagi ini.
"Betul, Nak. Bersyukurlah dianugerahi istri yang tidak hanya cantik, sholehah, tapi juga pandai memanjakan perutmu," titah bapak mertuaku pada anak semata wayangnya.
"Memangnya kapan aku tidak bersyukur? Bapak tidak tahu saja, di setiap hembusan nafas aku mengucap syukur sudah diizinkan memiliki salah satu bidadari surganya Allah," lanjut suamiku penuh dengan pujian yang tak berhasil membuat hatiku tersentuh.
Meski rasanya biasa saja, aku tetap berusaha menyunggingkan senyum untuk menghargai pujian mereka. Aku tidak mau mengecewakan mereka.
"Sudah, Pak. Indy bisa meleleh lama-lama mendapat pujian seperti itu." Aku sengaja memotong obrolan hangat itu agar mereka tak berkepanjangan membuatku bingung harus memberikan respon seperti apa. Sebab aku sungguh merasa tidak nyaman.
Mereka akhirnya bersiap untuk berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Rio yang akan berangkat ke kampus karena harus menuntut ilmu. Sedangkan Dhanu, bapak mertuaku itu harus berangkat ke kantornya.
"Sayang, kapan kamu lanjut kuliah lagi?" tanya Rio padaku di teras sebelum berpamitan.
__ADS_1
"Aku masih nyaman di rumah," jawabku beralasan.
"Jangan berlarut-larut, atau kamu akan ketinggalan jauh," pesannya.
"Iya," balasku singkat.
"Aku berangkat, ya. Jaga diri kamu baik-baik di rumah," pamit Rio kemudian mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepalaku.
"Hati-hati."
Rio mengangguki ucapanku kemudian masuk ke dalam mobilnya. Aku baru beranjak meninggalkan teras saat bayangan mobil Rio hilang ditelan pintu gerbang.
Alangkah terkejutnya aku saat hendak melangkah masuk, tapi aku mendapati bapak mertuaku tengah memerhatikanku dari ambang pintu.
"Bapak mau berangkat?" tanyaku untuk menghilangkan gugup.
"Bapak jadi ingat saat mama masih hidup dulu. Mama suka sekali ngelendot ke bapak waktu mengantar ke teras. Dia juga tidak sungkan meminta bapak untuk tidak berangkat ke kantor. Melihat kalian tadi, bapak seperti teringat kenangan-kenangan awal menjadi pengantin baru dulu."
"Ya sudah, bapak berangkat dulu. Kelamaan cerita sama kamu, malah kesiangan nanti," pungkasnya.
Aku mengecup punggung tangan mertuaku dan mengantarnya sampai ke mobil. Bapak mertuaku memang masih suka mengendarai mobil sendiri. Beliau orang yang sehat dan tidak bermalas-malasan. Karena itulah, di umur yang sudah tak muda lagi, beliau masih pergi ke kantor untuk bekerja.
Sebuah kerajaan bisnis properti telah ia bangun sejak muda dulu. Sebenarnya, bisnis itu telah ia wariskan pada Rio, suamiku. Tapi karena Rio masih disibukkan dengan pendidikan. Bapak belum bisa menyerahkan seluruhnya pada anak semata wayangnya itu.
Bapak mertuaku tetap mengelolanya sendiri sembari menunggu Rio siap untuk mengambil alih bisnis itu.
__ADS_1