
"Kita sama-sama tahu kalau Indy sedang hamil. Siapa yang tega membiarkan wanita hamil menjaga orang sakit?" Bapak mertua mencoba membuatnya percaya.
"Tetap saja, itu suaminya." Rio tetap tak setuju dengan pendapat ayahnya.
"Kalau seandainya istrimu hamil? Apa kamu tega membiarkannya menjagamu di rumah sakit sepanjang hari?" Rio tak langsung menjawab dia malah mengulang kata.
"Istrimu ...." Lalu seperti dia mengalami dejavu, Rio memegangi kepalanya lalu terpejam dan dahinya sampai mengerut.
"Ada apa?" Bapak mertua menghampirinya.
"Aku ... Aku seperti tidak asing dengan kata itu. Bapak seperti sering menyebutnya untukku. Tapi ... Aku kan belum menikahi Lili?" Dia meringis sedikit, mungkin merasakan denyutan atau apa di kepalanya.
"Kau pusing atau apa? Duduk dulu." Bapak mertua menyuruhnya duduk.
"Indy," panggilnya dan aku tersentak.
"Ya?" Aku bingung, kenapa tiba-tiba dia memanggilku.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Aku tidak asing dengan wajahmu, padahal ... Ini pertama kalinya aku benar-benar melihat wajahmu."
Aku menatap bapak mertua lagi. Harus kujelaskan seperti apa? Jelas dia tak asing dengan wajahku. Wajah yang selalu menghiasi siang dan malamnya. Wajah yang selalu dekat dengannya. Aku harus bagaimana menjelaskan itu padanya?
"Kita ini saudara, bagaimana mungkin tidak pernah bertemu?" Aku menjawab sekenanya saja.
"Tidak-tidak, aku tidak ingat bahwa kau saudaraku. Apa kau mantan pacarku atau apa? Kenapa aku merasa kita sangat dekat, tapi ... Argh!" Dia tiba-tiba menjerit.
"Sudahlah, Rio ... Jangan paksa ingatanmu. Kau belum benar-benar pulih dari kecelakaan itu. Sebaiknya kau pulang saja, biar bapak yang di sini."
__ADS_1
"Tidak, Pak. Rio akan tetap di sini. Rasa-rasanya Rio melupakan sesuatu tentang Indy. Tapi apa?" Dia mengocok kepalanya, membuat aku dan bapak ketakutan.
Tiba-tiba dokter datang bersama suster. Mereka ingin memindahkanku ke ruang rawat inap. Bapak mertua pergi untuk mengurus administrasi. Tinggalah aku dan Rio berdua di ruangan itu.
"Ndy, bisa kau katakan yang sebenarnya? Apa yang aku lupakan tentangmu? Sumpah, sejujurnya aku sering melihatmu di mimpi. Tapi aku berpikir, itu hanya halusinasi karena aku terlalu membencimu. Maaf aku mengatakan ini, aku hanya tidak suka kau berada di rumahku dan menempati kamarku tanpa izin. Itu semua terlalu tiba-tiba untukku."
"A-aku ...." Entah harus mengatakannya atau tidak. Aku bimbang.
"Aku tidak tahu, mungkin karena kita jarang bertemu, jadi wajar saja kamu melupakan aku. Lagipula, kamu sedang lupa ingatan. Separuh kenangan bersama keluargamu pasti terenggut. Aku bukan apa-apa."
Sakit sekali rasanya mengatakan bahwa aku bukan apa-apa. Tapi aku tak tega harus melihatnya seperti tadi. Menjerit karena rasa sakit saat dia mencoba mengingat kenangan yang dia lupakan.
Satu yang membuatku bahagia, Rio tak melupakan aku di hatinya. Perasaannya masih sama. Bahkan ketika ingatannya tentangku hilang, dia masih merasa bahwa aku begitu dekat dengannya.
Bapak kembali bersama suster. Aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Rio membuntutiku dan menungguiku bersama bapak mertua.
Setelah berada diruang rawat kami tak lagi saling bicara. Aku sibuk bercengkerama dengan bapak mertua. Sesekali aku melirik Rio yang duduk di sofa, tak jauh dariku. Dia juga nampak memperhatikanku beberapa kali.
Bapak mertua langsung mengangguk setuju, tapi Rio justru menolak ajakan bapak mertua.
"Bagaimana kita bisa pulang? Siapa yang akan menjaganya di sini?"
"Suster yang akan menjaganya."
Dengan penuh paksaan akhirnya Rio mau pulang. Aku tidak mengerti apa yang sedang dirasakannya. Sikapnya berubah, cukup terbilang sangat tiba-tiba. Sedikit kurasakan bahagia sebab kini dia mulai mengkhawatirkan aku. Tapi sejujurnya aku sangat khawatir, dia akan terus berpikir dan mencari jawaban atas rasa keingintahuannya.
Aku tidak ingin membuatnya kesakitan lagi karena ingin mengingat sesuatu tentang diriku.
__ADS_1
Malamnya aku tak bisa tidur. Entah kenapa hati ini merasa gelisah. Aku menelepon bapak mertua, tapi tak juga mendapat jawaban. Sungguh aku tidak mengerti kenapa merasa segelisah ini.
Adakah sesuatu tengah terjadi dan tidak aku ketahui?
Esok harinya bapak mertua datang, pagi sekali, bahkan aku pun masih tidur kala beliau menemuiku. Ternyata benar firasatku, kegelisahan yang semalam mengganggu bukan sekedar firasat kosong.
Bapak mertua menceritakan segalanya yang terjadi pada Rio malam tadi.
"Dia menjerit luar biasa keras. Bapak sampai kewalahan menenangkannya. Pak satpam dan Mbok ART turut membantu menenangkannya."
"Apa yang tengah mengganggu Mas Rio, sampai-sampai dia kehilangan kendali seperti itu?"
"Bapak tidak tahu jelas. Tapi, Rio terus mengatakan bahwa dia melihat seorang wanita yang wajahnya tak dapat ia lihat dengan jelas. Yang dia tahu pasti, wanita itu mengenakan cincin merah jambu. Dan Rio yakin, dia yang memberikannya pada wanita itu."
Aku terdiam sejenak, mengingat moment itu. Moment manis kala dulu Rio berusaha menyentuh hatiku. Cincin itu menjadi sebuah hadiah sekaligus bentuk ikatan pertama Rio padaku. Melamar.
"Ini yang Mas Rio maksud, Pak."
Kulepaskan cincin yang selama ini melingkari jari manisku itu, dan kuserahkan pada bapak mertua.
Beliau melihatnya dengan seksama, kemudian kembali menatapku dengan tatapan yang rumit.
"Kau kah itu? Wanita yang wajahnya tak terlihat tapi selalu datang menemuinya melalui mimpi?"
Aku tersenyum tipis, kemudian menjawab pertanyaan bapak mertuaku. "Bukan aku yang datang, karena semalaman aku pun tidak bisa tidur. Tapi rasa rinduku yang terbang dan hinggap dalam mimpinya. Mungkin juga tidak hanya aku, melainkan batin Mas Rio juga menginginkan kita untuk bertemu."
Hallo ... Apa kabar kalian semua? Aku ucapkan selamat tahun baru untuk kalian pembaca setia 'MCS 2'
__ADS_1
Semoga di tahun yang baru ini banyak keberkahan melimpahi aku dan kalian, Aamiin
Maaf untuk keterlambatan updatenya, aku benar2 kehilangan mood akhir-akhir ini. Dan terimakasih untuk kalian yang masih setia nongkrong di sini... i love u all♥️