
Hari ini aku akan memulainya
Menyingkirkan rasa bosan karena terlalu lama meratapi nasib malangku. Aku tidak bisa lagi diam dalam kegelapan yang aku ciptakan sendiri.
Membiarkan lembaran kehidupan kosong tanpa menitikkan tinta di atasnya. Detik ini aku akan meninggalkan kertas putih dan akan melukiskan pelangi dengan tinta yang telah kering.
Dengan izin suamiku, aku berangkat menelusuri kota. Menelisik deretan gedung dan ruko di pinggiran jalan yang mungkin sedang menunggu pemiliknya yang baru.
Sebulan berpikir, aku menemukan hal yang membuatku tertarik untuk selangkah lebih maju. Aku menyukai pakaianku. Aku selalu mengaguminya saat bercermin.
Aku memutuskan untuk membuka sebuah toko pakaian. Tidak hanya pakaian wanita saja yang akan mengisi tokoku nanti. Tapi aku juga akan menambahkan pakaian anak dan laki-laki dewasa.
Dua bulan waktu yang aku perkirakan untuk merampungkannya. Suplier telah aku hubungi, bahkan pakaian-pakaian yang akan aku jual nanti sudah berdatangan dan memenuhi sebagian sudut ruangan rumah mertuaku.
Hari-hari yang hanya selalu aku habiskan dengan menunggu dan membaca buku hilang dalam sekejap. Kini berganti dengan hari yang sibuk mempersiapkan bisnis baruku.
Matahari menyingsing begitu terik. Rasanya aku sudah tak bisa lagi bertahan duduk di atas motor matikku ini. Aku memarkirkan motorku di sebuah caffe. Menyeruput orange juice yang asam manis sepertinya bisa sedikit menghilangkan pening di kepalaku.
Setelah memesan orange juice dan ramen. Aku merogoh saku sling bag yang sedari tadi menemani perjalananku mencari ruko. Sudah berapa kali aku merasakan handphoneku bergetar. Dan di getaran selanjutnya, aku melihat nama suamiku tertera di layar.
"Hallo, assalamualaikum." Aku menyapanya di seberang sambungan telepon.
"Wa'alaikumsalam. Sayang dimana? Sudah ketemu rukonya?" Rentetan pertanyaan langsung ia lontarkan begitu aku menjawab telepon.
"Masih belum nemu."
"Terus sekarang dimana?" Dia mengulang lagi pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban.
"Di caffe Nona. Aku agak pusing, mungkin karena terlalu lama di jalan dan kepanasan," aduku padanya dengan lugas.
"Tunggu di sana."
Rio menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku. Tepat setelah sambungan telepon terputus, pesananku datang. Seorang waiters wanita berbalut kaos seragamnya yang berwarna hijau meletakkan orange juice dan sepiring spagetti dengan ramahnya di mejaku.
__ADS_1
Belum lama aku menikmati makananku, Rio datang. Aku langsung menghentikan acara makan siangku dan segera meraih telapak tangannya begitu Rio sampai di hadapanku.
"Sebenarnya kamu nggak perlu repot-repot nyusulin aku. Aku juga nggak akan lama. Aku mau melanjutkan mencari ruko lagi setelah ini."
Tanpa permisi, Rio menyambar gelas milikku dan menyedotnya hingga setengah orange juice lenyap ditelannya.
Tiba-tiba saja memori masa lalu melintas di benakku. Memori saat pertama kali aku bertemu dengannya akibat rencana kedua orang tua kita.
Waktu itu aku memegang dua cup thai tea, yang satu milikku dan yang satunya lagi miliknya. Saat dia meminta cup thai teanya, aku lupa dan hampir memberikan cup thai teaku.
Jika saja Rio tidak mengingat yang mana cup miliknya. Maka nauzubillah, kita melakukan zina secara tidak sengaja karena Rio menyedot sedotan bekas bibirku.
"Sayang … Sayang." Aku tersadar dari lamunan karena mendapat angin segar dari kibasan tangan Rio di depan wajahku.
"Kamu melamun?" sergahnya begitu aku tersadar.
"Maaf."
"Hayo … ngelamunin apa, sih?" godanya padaku kemudian.
"Kamu masih ingat? Lucu sekali ya, ternyata pertemuan itu sengaja bapak rencanakan." Dia menunjukkan senyum simpul di bibirnya yang sama sekali belum aku sentuh.
"Oh ya, Sayang. Aku punya kabar bagus untuk kamu," ucapnya dan menatapku dengan antusias.
"Alhamdulillah, kabar bagus apa?" Aku sebenarnya tak begitu penasaran. Tapi rasanya tidak mungkin aku mengabaikannya.
"Kamu nggak perlu mencari ruko lagi. Karena aku sudah menemukan tempat yang pas untuk toko pakaian kamu."
"Makasih." Aku menjawabnya dengan datar.
"Sama-sama, Sayang." Rio mengelus telapak tanganku yang tengah aku lipat di atas meja.
Setelah itu aku dan Rio makan siang bersama. Aku memesan lagi orange juice untukku dan suamiku. Sisa orange juice yang sempat diminum Rio tadi, aku biarkan dan tak kusentuh lagi.
__ADS_1
"Ini tempatnya, Sayang. Gimana? Kamu cocok nggak?" Rio menyerbuku dengan banyak pertanyaan setelah melihat-lihat ke dalam ruangan yang luas juga bersih tanpa ada barang satupun yang berdiri mengisinya.
"Aku suka. Lagi pula, ruko ini dua lantai. Lantai atas bisa aku gunakan untuk kantor dan menaruh stok barang. Dan lantai bawah hanya khusus untuk memajang baju-baju saja."
"Aku berpikir hal yang sama," bisiknya di telingaku kemudian melenggang mendahului langkahku menuju pintu keluar.
Sepulang dari sana, Rio langsung menghubungi pemilik ruko untuk bernegosiasi. Alhamdulillah, harga sewanya tidak terlalu mahal.
Rio langsung menyewa ruko itu untuk dua tahun. Suamiku itu terlihat sangat menggemaskan saat bernegosiasi tadi. Sesekali dia nampak sangat serius. Tapi sekelebat Rio juga masih sempatnya melempar senyum padaku yang memerhatikannya dari jauh.
"Sayang, apa kamu mau mendekor ulang rukomu itu?" tanyanya yang sudah terbaring di sofa. Ya, kami masih tidur terpisah. Aku belum juga melemahkan egoku untuk mengizinkan suamiku tidur satu ranjang denganku.
"Menurut kamu, bagusnya didekor ulang atau seperti itu saja?" Aku meminta pendapatnya untuk pertama kali.
"Didekor ulang saja. Tempat itu masih terlalu flat dan biasa. Nanti aku bantu, kamu jangan banyak pikiran. Aku tidak mau kamu sakit karena terlalu banyak pikiran sampai lelah." Dia sudah menegakkan tubuhnya dan menatapku yang tengah asik membaca buku di kasur.
"Terimakasih." Hanya sekejap aku membalas tatapannya dan kemudian kembali terfokus dengan buku di genggamanku.
"Sama-sama."
Rio bangkit dari duduknya. Berjalan mendekatiku untuk merebut buku yang sedari tadi menyita perhatianku darinya. Aku bingung, kenapa tiba-tiba dia menyerobot buku yang tengah aku baca.
Tanpa berkata apapun, Rio menaruh buku itu di Rak. Dan berjalan menuju saklar kemudian mematikan lampu kamar kami.
"Aku masih mau baca. Aku belum mengantuk," protesku saat lampu sudah padam.
"Tapi ini sudah malam. Dan aku mau kamu tidur sekarang," titahnya memaksaku.
"Tapi …." Aku berusaha mengelak perintahnya.
"Tapi aku suamimu dan kamu tidak boleh membantah perintahku. Ayo tidur," ucapnya lagi memaksaku.
"Hmmm." Aku hanya bisa mendengus kesal di dalam hati.
__ADS_1
"Istri pintar," pujinya padaku karena aku menuruti perintahnya. Rio mengelus pucuk kepalaku yang tertutup jilbab.
Meski berada satu kamar dengan suamiku, aku tetap masih ingin menjaga tubuh ini. Tubuh yang telah halal untuknya jikapun dia menginginkannya. Tapi karena keegoisanku, aku tega membuatnya tak bisa menyentuh sesuatu yang sudah sah menjadi miliknya.