Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Menyerah


__ADS_3

"Ma, Indy dan Rio masih mau fokus dengan usaha yang baru kami rintis. Dan lagi Rio belum menyelesaikan pendidikannya, kami berdua belum memikirkan hal itu." Aku mulai melontarkan alasan setelah perih di tenggorokanku mulai mereda.


"Bukan karena kalian ada masalah lain?" tanya mama lagi mencari informasi.


"Tidak ada masalah apapun diantara kami, Ma," bualku yang kesekian kali.


Tapi, mama tetaplah wanita yang melahirkanku. Ikatan batinnya terlalu kuat denganku. Hingga kebohonganku saja dia bisa dengan mudah mengetahuinya.


"Sekeras apapun kamu berusaha menutupinya, mama bisa melihatnya, Ndy," ucap mama kemudian.


"Ma, aku tidak sedang menutupi apapun. Percayalah, Ma." Aku menatap manik mata mama dalam. Berharap mama mau memercayaiku.


"Kamu tega membohongi mama? Mama yang sudah melahirkan kamu, merawatmu sampai besar. Memang kewajiban seorang istri adalah menutupi aib rumah tangganya. Tapi kamu anak mama, Ndy. Bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah kalau kamu diam dan tidak berusaha mencari solusi. Ceritakan pada mama apa yang sebenarnya terjadi," pinta mama dengan sangat padaku.


"Maafkan Indy, Ma. Indy tidak bermaksud membohongi Mama. Begitupun juga dengan Rio. Kami hanya tidak ingin membebani pikiran kalian. Insya Allah, masalah yang ada di dalam rumah tangga ini bisa kami selesaikan sendiri." Aku tetap enggan mengatakannya, mengingat mama memiliki riwayat penyakit yang bisa saja kambuh jika mengalami tekanan pikiran.


"Apa Rio menyakitimu? Apa dia memarahimu?" Mama semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Katakan, Ndy. Mama tidak akan tenang jika kamu tidak menjawab yang sebenarnya." Desakan mama membuatku luluh dan tak tega membiarkan hari-hari penuh dengan pikiran akan rumah tanggaku. Aku akhirnya menyerah dan memutuskan untuk jujur.


"Sebenarnya, Indy yang bersalah. Dari awal kami menikah, belum sekalipun kami melakukannya. Indy membuat aturan untuk Rio, aturan yang melarang Rio menyentuh Indy. Karena itulah, sampai detik ini, Indy belum bisa memastikan kapan cucu yang mama impikan itu akan segera hadir," tuturku panjang lebar.


"Astagfirullahaladzim, jadi benar dugaan mama semalam. Apa yang mama lihat semalam, inikah jawabannya? Alasan kenapa Rio tidur di sofa, karena kamu tidak mengizinkannya tidur bersamamu?" Aku hanya bisa mengangguk pasrah untuk menjawab pertanyaan mama.


"Perbuatanmu sungguh sangat berdosa, Nak. Seorang istri sudah tidak ada lagi hak atas dirinya. Sebab semua yang dia punya sudah menjadi hak suaminya begitu ijab qobul di ucapkan. Mama sangat sedih juga kecewa mendengarnya. Tapi walau bagaimanapun, kamu sudah berusaha jujur pada mama."


"Ndy, baik dan buruknya kamu sebagai seorang istri. Mama dan bapak akan tetap ikut mempertanggung jawabkan di akhirat nanti. Sebab, bapak dan mama lah yang mendidikmu sedari kecil. Allah menitipkanmu pada bapak dan mama untuk diberikan pendidikan. Setelahnya kami melepaskanmu sebagai istri Rio. Tapi bukan berarti tanggung jawab kami sebagai orang tua sudah berakhir."


"Kenapa kamu membuat peraturan seperti itu, Ndy? Bukankah seharusnya kamu sudah mempersiapkan dirimu sebelum menikah? Atau, apa kamu tidak mencintai Rio?" Mama semakin mencecarku.


"Maafkan Indy, Ma." Hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulutku. Hati ini sangat sakit, ketika menyadari. Akulah anak durhaka yang tega mendorong kedua orang tuaku dengan sengaja ke lembah neraka atas kesalahan yang tidak mereka perbuat.


"Katakan! Apa kamu tidak mencintai suamimu?!" ucap mama lagi dengan nada lebih tinggi.


"Ampuni Indy, Ma. Indy belum bisa mencintai Rio." Jangankan menatap netra mama, untuk sedikit merubah posisiku saja aku tak berani melakukannya saat ini.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu menerima pinangannya?! Kamu sudah sangat menyakitinya, Indy. Mama kecewa sama kamu!" Tangis mama pun pecah. Aku tahu, mama sangat kecewa dengan perbuatanku. Mungkin selama ini tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran mama aku bisa melakukan hal sekejam ini pada suamiku sendiri.


"Jangan bilang, kamu menikah karena terpaksa? Karena waktu itu mama memintamu segera menikah. Benar, begitu?!"


"Tidak, Ma, tidak. Indy menikah atas kemauan Indy sendiri. Karena Indy yakin, Rio memang laki-laki yang tepat." Kali ini aku memberanikan diri menatap wajah mama yang memerah sebab air mata mengucur di pelupuk matanya. Tak kuasa aku melihatnya, kutundukkan kembali wajah ini. Kutenggelamkan lagi dalam pangkuan kasih sayangnya yang aku harap masih tersisa setelah mama tahu bagaimana busuknya aku.


"Jadi apa alasannya kamu belum bisa mencintai Rio? Dia laki-laki yang sangat patut kamu cintai. Kamu akan menyesal, Ndy. Kalau sampai akhir hayat tidak membalas cintanya." Ucapan mama itu lebih terdengar seperti sumpah serapah untukku. Rasa takut tiba-tiba menjalari hatiku. Aku tidak ingin kehilangan suami sebaik Rio. Belum tentu akan ada laki-laki lain yang mencintaiku setulus hatinya menerimaku.


"Tidak, Ma. Indy akan mencintai Rio. Suatu hari cinta itu akan ada untuknya, Indy yakin. Indy hanya perlu waktu."


"Bagaimana cinta akan ada kalau kamu tidak membiarkannya masuk ke hatimu? Untuk siapa sebenarnya hatimu itu? Untuk suamimu atau untuk orang lain?" Air mata yang sempat mereda kini mulai mengalir kembali dengan deras mengingat dia yang sangat kucintai hingga saat ini, Adi.


Walau aku menutupinya dengan puluhan ribu tumpukan daun kering, mama tetap bisa menemukannya. Mama tahu, aku mencintai orang lain. Karena itulah Rio tidak bisa masuk ke dalam hatiku. Sebab kuncinya telah di bawa lari laki-laki lain.


"Apa Adi orangnya?" Aku tersentak dengan pertanyaan mama. Kutatap netra mama dengan berani. Tak ada kata yang meluap. Namun mama tahu pasti aku menjawabnya dalam hati.


"Hapus air matamu, suamimu dan bapak sudah pulang." Segera kuturuti perintah mama. Benar, mobil Rio sudah terparkir di halaman rumah. Kuseka kasar dua mataku yang dibasahi air mata. Menarik nafas beberapa kali dengan cepat untuk menghilangkan senggukan yang masih tersisa. Mama menyuruh aku minum sedikit jusku agar lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2