
Pagi ini aku bangun dengan perasaan gelisah. Gelisah yang teramat-sangat karena aku tahu jelas penyebabnya. Semalaman aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku dengan tenang.
Aku telah lalai, dan aku terlambat menyadarinya. Kenapa aku bisa lupa akan hal yang sangat penting ini?
Aku kesal pada diriku sendiri. Aku bangun terlalu pagi. Bahkan lebih pagi dari ART di rumah. Menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi kulakukan sendirian tanpa bantuan siapapun.
Aku ingin segera menjemput pagi. Ada tempat yang sangat ingin aku datangi hari ini. Tempat yang akan memecah kegelisahanku semalaman.
Sebelum suamiku bangun, aku sudah mandi dan terbalut baju dengan rapi. Bahkan aku sudah sangat siap untuk pergi. Tapi kenapa aku merasa waktu berjalan sangat lambat hari ini?
Suamiku juga tidak kunjung menunjukkan tanda akan segera membuka matanya. Padahal biasanya tepat adzan subuh berkumandang, dia langsung bangun dari tempat tidur.
Sepuluh menit sejak adzan menggema di masjid yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Aku memberanikan diri membangunkan suamiku. Wajahnya nampak sangat lelah. Mungkin Rio terlalu banyak berkegiatan kemarin.
"Abi.. Abi.. Bangun," pintaku seraya mengelus dahinya.
"Jam berapa Mi?" tanyanya masih dengan mata terpejam.
"Hampir pukul 5," jawabku setelah melirik jam dinding di kamar.
"Sudah adzan?" Rio mengubah posisinya. Tubuh jangkungnya mulai menggeliat di atas kasur.
"Sudah dari tadi."
"Terimakasih sudah membangunkan abi, Sayang," katanya setelah membuka mata. Rio langsung mencium keningku begitu bangun dari tempat tidur. Setelahnya ia melenggang menuju kamar mandi.
"Umi," panggilnya ketika sampai di ambang pintu kamar mandi.
"Ya?" Aku menatapnya seksama.
"Umi sudah mandi?" tanyanya padaku.
"Sudah." Aku menjawabnya singkat.
Dia kembali berjalan mendekatiku yang tengah merapikan tempat tidur. Rupanya Rio baru menyadari penampilanku yang sudah sangat rapi di pagi buta seperti ini.
__ADS_1
"Sudah wangi dan juga rapi. Umi mau pergi kemana?" katanya penasaran. Sebab biasanya saat bangun tidur dia lebih sering melihatku yang masih acak-acakan.
"Umi mau menemui teman sebelum ke toko nanti," jawabku berbohong.
"Pagi-pagi sekali?" tanyanya lagi menegaskan.
"Ya," jawabku dengan yakin.
"Mau abi antar?" tawarnya tanpa ragu.
"Tidak perlu. Umi sendiri saja. Cepatlah mandi atau waktu subuh akan segera habis," suruhku untuk menghindari pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan Rio lontarkan.
Suamiku menurut begitu saja. Tanpa ada kata lagi yang terucap, Rio langsung kembali melangkah dan masuk ke kamar mandi.
Selesai menyajikan sarapan untuk suami dan mertuaku, dengan terpaksa aku berpamitan. Meninggalkan dua laki-laki itu tanpa menunggu sarapan selesai.
Kubawa perut yang masih kosong ini membelah jalanan dengan sepeda motorku. Jalan raya masih tertutup kabut tipis. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang memadati, sebab saat ini masih pukul 6 pagi.
Kubuka kaca helm yang setengah perjalanan tadi menutupi wajahku. Sayup-sayup angin pagi menerpa kulit wajahku. Sejuk, namun kesejukan yang aku rasakan masih belum bisa meredam kegelisahan hati ini.
"Assalamualaikum," ucapku seraya memencet bel.
Tak lama seseorang membuka pintu dengan senyum ramahnya yang khas. Dia mengenaliku, akupun juga mengenalnya. Meskipun kami bukanlah teman.
"Pagi-pagi sekali?" tanyanya keheranan.
"Aku berbuat kesalahan," jawabku tanpa basa-basi.
"Kesalahan?" tanyanya lagi semakin bingung melihatku yang nampak gusar.
"Lihat ini, aku melewatkannya bukan?" ucapku sembari menyodorkan sebuah kertas.
"Ya Tuhan, kamu lupa?" tanyanya dengan serius.
"Aku memang ceroboh." Sesal kini menjalari hatiku.
__ADS_1
"Kamu sudah melewatkannya sebulan. Aku tidak bisa membantumu menunda kehamilan lagi. Karena kemungkinan sudah ada sel telur yang masuk dan sedang berkembang di dalam rahimmu," ucapnya dengan jelas membuat tanganku bergetar.
"A-aku hamil?" tanyaku gugup karena dipenuhi rasa takut.
"Ada kemungkinan seperti itu. Kalau kamu ingin tahu pasti, kamu bisa tes kehamilan di sini." Bu Bidan mengarahkanku untuk tes kehamilan.
Jujur aku belum siap untuk hamil. Karena itulah aku mencegahnya dengan melakukan suntik KB. Tapi sekarang apa yang terjadi? Aku justru melewatkan tanggal yang seharusnya aku melakukan suntik ulang. Dan cerobohnya aku melewatkan sebulan lamanya.
Aku keluar dari kamar mandi dan menyodorkan urine yang tertampung di dalam wadah. Bu Bidan menaruh sebuah alat tes kehamilan ke dalam urineku.
Jantungku benar-benar tak bisa berdetak dengan normal. Telapak tanganku mulai dingin dan banjir keringat. Sungguh aku belum siap jika harus hamil.
Kuhela nafas dengan kasar setelah keluar dari rumah praktik itu. Segera kutinggalkan halaman parkir untuk menuju ke toko. Matahari sudah menyorotkan sinarnya yang hangat. Kabut tipis yang tadi menemani perjalananku kini terganti dengan pendar cahaya mentari.
Tanpa aku sadari, suamiku ternyata membuntutiku sedari tadi. Dia sangat penasaran dengan kepergianku yang pagi-pagi sekali. Terlebih alasan yang aku berikan tak begitu masuk akal.
Setelah aku menjauh dari tempat praktik yang tadi aku datangi, Rio turun dari mobilnya. Kini berganti Rio yang memburu tempat itu.
"Tadi istriku datang kemari. Apa istriku baik-baik saja?" tanyanya pada bidan yang tadi kudatangi.
"Perempuan bercadar itu istrimu?" Dia berbalik bertanya.
"Benar, dia istriku. Apa dia kemari karena sakit?" Rio memperjelas lagi pertanyaannya.
"Tidak, dia baik-baik saja. Jangan khawatir," balas si bidan dengan senyum ramah.
"Lalu, kenapa dia datang ke sini?" Rio masih ingin menggali informasi.
"Dia akan mengatakannya sendiri padamu nanti," ucap bidan.
"Baik, kalau begitu aku permisi. Maaf sudah mengganggu waktumu." Rio kemudian masuk ke mobilnya lagi. Hari ini menjadi hari yang cukup kacau untuk suamiku. Sebab rasa penasaran sangat mengganggunya. Dia bahkan sampai tak bisa berkonsentrasi di kelas.
YANG KANGEN NOVEL INI WAJIB KOMENTAR DAN LIKE
MAAF BARU UPDATE LAGI YA...
__ADS_1