
"A-aku, aku Indy, Adi." Dengan detak jantung yang kian berdebar, aku berusaha mengontrol getaran suaraku.
"Masya Allah, ini benar kamu, Ndy?" Adi kembali melempar tanya seperti tidak percaya dengan sosokku yang kini berada tepat di hadapannya.
"Benar, ini memang aku, Indy."
"Subahanallah, aku sampai tidak bisa mengenali kamu. Jika saja tadi kamu tidak menjawab salamku, maka aku tidak akan tahu kalau yang ada di hadapanku sekarang itu kamu." Senyum manisnya mengembang. Sampai-sampai menular pada bibirku yang juga ikut menguncupkan senyuman.
"Oh ya, kamu apa kabar?" sambungnya lagi.
"Alhamdulillah, baik."
"Alhamdulillah. Ngomong-ngomong, apa toko pakaian ini punyamu? Soalnya, kabar terakhir yang aku dengar katanya kamu kuliah." Adi terus saja mewawancarai aku dengan banyak pertanyaan. Tapi aku mengerti, hal ini wajar terjadi karena aku dan Adi sudah lama tidak saling bertukar kabar.
"Alhamdulillah, toko ini aku sewa beberapa minggu lalu dan aku isi dengan baju-baju ini." Debaran jantung ini kenapa tidak juga kunjung normal. Padahal aku sudah menarik nafas beberapa kali agar lebih tenang di hadapan Adi.
"Dari tadi ngobrol sambil berdiri. Di sini nggak ada tempat duduk, Ndy?" ujar Adi sambil celingukan mencari tempat duduk.
"Astaghfirullah, maaf aku lupa mengajak kamu duduk. Ayo, silahkan duduk." Aku mengajak Adi duduk di sofa panjang yang diletakkan di belakang meja kasir. Sementara aku melenggang ke belakang untuk menuangkan orange jus bekalku ke dalam gelas untuk menjamu Adi.
"Repot-repot banget, Ndy," ujar Adi yang melihatku membawa dua gelas jus dan meletakkannya di meja.
"Nggak papa, silahkan diminum jusnya," ucapku mempersilahkan Adi untuk meminum jus yang aku sandingkan.
"Ndy, kenapa kamu nggak pernah hubungi aku setelah ujian selesai? Aku juga tidak bisa menghubungi kamu. Nomormu yang dulu sudah tidak aktif, apa kamu ganti nomor." Adi menatapku dalam. Pandanganku dan dia sempat bertemu beberapa detik. Karena setelahnya aku jelas menghindarinya.
Belum sempat aku menjawab rentetan pertanyaannya, sebuah suara ucapan salam terdengar seraya pintu terbuka. Aku menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata suamiku yang datang, Rio.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Adi bergantian.
__ADS_1
"Ada tamu, Mi?" Rio bertanya sembari berjalan mendekatiku. Rupanya dia mendengar suara jawaban salam Adi.
"Hai, Bro. Udah lama ya, nggak ketemu," ucap Adi yang langsung bangkit menyambut kedatangan Rio.
"Wah, udah lama banget ya. Gimana kabar, nih?" balas Rio setelah mereka saling melepas pelukan.
"Gini-gini aja, Bro. Masih jadi mahasiswa," keluh Adi.
"Tapi mahasiswa ganteng kan, Bro," goda Rio kemudian.
Mereka nampak sangat akrab meski sudah lama tidak bertemu. Bahkan tidak ada jarak kecanggungan diantara mereka.
"Ngomong-ngomong, ke sini mau borong kan, Bro?" sambung Rio.
"Tadinya sih, iya. Tapi setelah tahu pemilik tokonya ternyata bidadari, gue malah lupa tujuan awal ke sini mau ngapain," ucap Adi dengan lirikan netranya yang ditujukan padaku.
"Hati-hati, Bro. Selain bidadari galak, dia udah ada yang punya," bisik Rio.
Jawaban pasti yang sangat dia ingin tahu. Sorot matanya yang sedari tadi berbinar, kini nampak redup dan seakan penuh harap.
"Aku sudah menikah." Tidak sanggup rasanya mengatakan ini padanya. Sebab aku masih sangat menginginkannya. Ya, aku masih belum bisa melupakan perasaanku padanya.
Meski kabar telah hilang
Meski benang jarak tergelar sangat jauh memisahkan
Aku masih menyebutnya dalam doa
Aku masih menyimpan namanya dalam lubuk hatiku yang terdalam
__ADS_1
Aku masih melangitkan pinta agar Sang Kuasa merubah takdirku untuk bisa bersamanya
Hanya dia yang menjadi penghias tidurku
Hanya dia yang selalu aku lihat dalam mimpi-mimpi indahku
Namun kenyataan pahit seakan menjadi mimpi buruk disetiap hariku
"A-alhamdulillah," ucapnya sedikit terbata. Kulihat wajahnya yang semakin tenggelam dalam kecewa.
"Kenapa nggak ada yang kasih kabar? Tega sekali kalian, hahaha." Aku tahu, dia tengah menutupi rasa kecewanya. Dia tengah menelan pil pahit buah dari jawabanku yang menyakiti hatinya.
"Aku dan Indy menikah secara mendadak. Maaf, kalau kami tidak sempat mengabarimu." Rio membantuku menjelaskan kondisi pada saat itu pada Adi.
Pandangan teduh itu sesekali mengarah padaku. Aku bisa melihatnya walau kini aku lebih banyak menunduk untuk menghindari tatapan kekecewaannya.
Sebelum pulang Adi dan Rio sempat bertukar nomor telepon agar tali silahturahmi yang telah lama terjeda bisa kembali disambung.
Sampai akhir kepergiannyapun aku tidak bisa menatap matanya. Suaranya berubah, semangat bicaranya juga terdengar menurun setelah aku mengatakan bahwa aku telah menikah.
Yang lebih membuatnya terkejut yaitu ketika Rio memperjelas bahwa yang menikahiku adalah dirinya.
**MAAF UNTUI KETERLAMBATAN UPDATE HARI INI
SEMOGA CHAPTER INI BISA MENGHIBUR MALAM KALIAN
JANGAN KETINGGALAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA
BERIKAN JUGA KRITIK SARAN KALIAN AGAR NOVEL INI SEMAKIN BAIK KEDEPANNYA
__ADS_1
TERIMAKASIH UNTUK YANG SETIA MENUNGGU UPDATE CHAPTER TERBARU NOVEL MCS 2**