
Aku seakan menjadi seorang ratu yang baru menduduki tahtanya. Rio memperlakukanku bak seorang ratu. Tak hanya memanjakanku dengan perhatiannya, tapi suamiku yang sangat mencintaiku itu juga melayani segala keperluanku dengan telaten dan juga penuh kesabaran.
Dia tak membiarkanku menyiapkan baju gantinya lagi. Dengan mandiri, Rio menyiapkan segala keperluannya sendiri. Sungguh aku merasa seperti karyawan yang baru saja kena PHK. Aku tidak mempunyai pekerjaan yang bisa kulakukan seperti hari biasanya.
Tak terhindarkan kunci motorku. Rio telah menyitanya dan entah ia sembunyikan dimana kunci itu. Dia takut kalau aku sampai nekat menaiki sepeda motorku lagi. Berlebihan bukan?
Jangan salah, bukan hanya Rio yang tega merenggut aktivitasku. Bapak mertuaku juga tak ingin kalah dari anaknya. Aku tidak diperbolehkan lagi membuatkannya kopi. Padahal aku sangat tahu, beliau paling suka jika sore hari kubuatkan kopi dengan gula merah.
Hasil USG menyatakan bahwa di dalam rahimku memang sedang ada janin yang tengah berkembang. Rio semakin senang, begitupun dengan bapak mertuaku.
"Nak, besok bagikan sembako di jalanan. Jangan lupa juga kunjungi panti asuhan. Bapak sangat bahagia dan juga bersyukur kepada Allah," titah beliau sesampainya kami di rumah.
Rio mengiyakan pesan bapaknya itu. Sebagai ucapan syukur atas kehamilanku, besok Rio akan melakukan kegiatan amal atau bersedekah. Aku senang, karena keluarga ini tidak pernah melupakan kepedulian kepada saudara sesama muslim saat kebahagiaan datang menghampiri kami.
Aku dan juga Rio mengabarkan kebahagiaan ini kepada keluargaku. Bapak dan mama berucap syukur setelah kabar itu sampai di telinga mereka. Bapak dan mama juga berniat melakukan hal yang sama yaitu bersedekah.
Mama bahkan sampai mewanti-wanti diriku agar tidak membantah perintah Rio. Aku pun tak bisa berkutik lagi. Hanya bisa mematuhi dan menuruti apapun yang dikatakan suamiku.
"Bi, boleh tidak kalau umi tidak minum susu malam ini saja. Perut Umi sudah sangat kenyang," rengekku saat Rio mengantarkan segelas susu.
"Mi, maaf jika abi memaksa. Minum ya Sayang, demi kesehatan Umi dan calon jagoannya abi." Rio dengan telaten menyuapkan sendok demi sendok susu ke dalam mulutku.
__ADS_1
Entahlah, apa ini yang dikatakan nyidam. Rasanya semakin bertambahnya hari, aku semakin tak ingin menyentuh makanan. Aku bahkan sangat membenci bau masakan dan juga nasi.
"Ada yang ingin Umi makan? Akan abi belikan jika mau sesuatu." Hampir setiap saat pertanyaan seperti itu keluar dari mulut suamiku.
*
*
*
Sudah lima kali aku bolak-balik kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutku. Itu semua karena ulah suamiku, Dia lupa membawa nasi yang asapnya masih mengepul ke hadapanku. Alhasil, aku langsung bereaksi. Mual tak tertahankan. Mungkin jika aku mengikuti lomba lari dengan atlet nasional, akulah yang akan menang. Sebab mual di perutku membuatku lari terbirit-birit ke dalam kamar mandi.
"Astaghfirullah, Umi!" pekiknya mendapati aku tak berdaya.
Rio langsung membopong tubuhku yang lunglai. Mengistirahatkanku di atas ranjang.
"Umi … buka matamu Sayang," pintanya. Suaranya terdengar sangat mencemaskan aku.
Aku ingin membuka mataku saat dia memintanya. Tapi sisa tenagaku tak cukup mampu untukku membuka mata. Aku tak sadarkan diri.
Suara Rio terdengar menggema memanggil orang-orang yang ada di rumah itu. Tak lama, aku juga mendengar suara bapak mertua dan para pekerja di rumah. Mereka semua mengkhawatirkan kondisiku.
__ADS_1
Hingga akhirnya aku benar-benar kehilangan kesadaranku. Pendengaranku tak lagi berfungsi. Aku tak tahu lagi apa yang mereka lakukan padaku.
Lebih tepatnya saat aku berhasil membuka mataku kembali. Pemandangan sudah berbeda. Aku tak lagi melihat langit-langit kamarku. Melainkan aku melihat langit-langit yang lain yaitu ruangan klinik dengan dominasi cat putih bersih. Ya, Rio membawaku ke klinik untuk mendapatkan pertolongan medis.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar." Kalimat pertama yang aku dengar itu berasal dari mulut suamiku.
Dengan setia dia menggenggam tanganku. Sebuah senyuman manis terulas saat netraku bertemu dengannya.
"Abi …," panggilku lirih.
"Tenanglah, abi ada di sini bersamamu." Jawabannya membuatku merasa sangat tenang.
Aku merasakan nyeri di bagian punggung tangan kananku. Rupanya dokter menusukkan jarum infus di sana. Selemah inikah kondisi tubuhku hingga cairan infus harus masuk menembus venaku.
Jika aku selemah ini, bagaimana dengan janinku? Buliran bening akhirnya meluncur dari sudut mataku. Turun ke pipi dan didapati suamiku yang tak sedikitpun melarikan pandangannya dari wajahku.
"Kenapa Sayang? Kamu merasa sakit? Katakan, abi akan panggilkan dokter." aku berhasil menggapai jemarinya sebelum Rio pergi untuk memanggil dokter.
"Tidak sakit, Bi. Aku khawatir dengan kondisi anak kita," ucapku dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir.
"Mi, kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja di dalam rahimmu. Dokter akan melakukan tindakan USG nanti." Semburat kekhawatiran juga tergambar di wajah Rio. Aku melihatnya saat melihat bola matanya yang melayu.
__ADS_1