
Sejak hari itu, Aku tak lagi sering menampakkan diri di hadapan suamiku. Aku lebih sering bersembunyi di balik pintu dan melihatnya dari celah kaca. Saat dia tidur, barulah aku masuk untuk melihatnya lebih dekat.
Seperti sekarang ini, aku sedang duduk dengan perasaan sedikit lega. Aku bisa mendengar nafasnya, walau sudah lebih dari seminggu aku tak bisa bertatapan dengannya sama sekali.
Tapi aku bersyukur, karena Rio tidak lagi mengusirku. Bapak mertua telah mengarang cerita bahwa aku adalah saudara jauh mereka yang sedang menuntut ilmu di kota itu.
"Mi ... Umi." Rintihan kecil itu terdengar samar namun masih jelas di telingaku.
Aku tidak bergeming. Takut dia bangun dan malah menghenyakku dari tempat itu. "Abi," batinku.
"Mi ...." Rio sepertinya tengah larut dalam mimpi. Dalam hatiku berkata kalau suamiku sedang melihatku di alam bawah sadarnya.
Tapi sedetik kemudian kepercayaan diriku hilang. Rio menyebut sebuah nama yang seketika membuatku hancur. "Lili!" pekiknya, tersadar.
"Astaghfirullah." Dia sudah benar-benar sadar namun belum menyadari keberadaanku di sampingnya.
Hawa di ruangan itu mendadak dingin bercampur panas. Tidak tahu yang mana yang lebih mendominasi. Keduanya berdesir di dalam urat venaku.
"Kau lagi, tidakkah bosan menggangguku?!" Rio telah menyadari keberadaanku. Tatapannya nyalang. Aku sungguh rindu dengan tatapannya yang teduh dan penuh sayang.
"Maaf," jawabku tak berani banyak berkata.
"Keluar!" bentaknya. Dia seperti bukan suamiku.
"Sebentar. Maaf jika aku terdengar mencampuri urusanmu. Tapi tadi aku mendengar kamu memanggil nama seseorang. Dan sepertinya aku mengenal sosok itu." Sungguh hatiku telah remuk tak berbentuk. Aku bahkan memperjelas bahwa suamiku memimpikan wanita lain.
"Bukan urusanmu. Pergi, atau aku akan mengusirmu lebih kasar lagi." Dia bukan suamiku. Rio tidak pernah membentak apalagi berkata kasar padaku.
__ADS_1
Sedih sekali melihatnya dengan sikap yang berbeda seperti ini. Dengan berat kulangkahkan kaki mendekati pintu. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, aku sempat mengilas balik wajahnya.
"Aku rindu," batinku terenyuh. Dia masih menatapku dengan tajam. Tak kubiarkan dia semakin membenciku. Aku mengalah dan pergi dari hadapannya.
Bapak mertua langsung menyambutku di luar ruangan. "Jangan diambil hati. Kau tahu seberapa besar cintanya terhadapmu." Sepertinya beliau mendengar hentakan suara Rio yang menggema di dalam ruangan tadi.
Kubalas perhatiannya dengan senyum kecil. Aku sudah bosan menyusahkan beliau dengan terus menangis. "Rio mencari Lili." Kedua alis yang sudah ditumbuhi uban itu bertaut seakan ragu dengan ucapanku.
"Ya. Rio mengigau, tadi. Dia menyebut nama Lili di akhir," lanjutku.
"Kau pulang dan istirahatlah. Aku tidak ingin kesehatan kalian terganggu." Beliau melihat sekilas perutku yang belum terlalu jelas menyembul. Sebab pakaianku juga sangat menutupi bentuk tubuh.
"Dan jangan lupakan vitamin-vitamin itu. Rio akan marah padaku kalau saat ingatannya kembali nanti mendapati istrinya nampak tidak terurus." Beliau adalah mertua yang sangat perhatian padaku.
Aku mencium punggung tangannya kemudian pergi dengan ringan. Walau sebenarnya langkahku sangat berat. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin tetap di sini walau suamiku tidak menginginkan keberadaanku.
Selepas ba'da ashar, aku memutuskan untuk mengganti baju yang sengaja kusembunyikan di dalam Sling bag agar mertuaku tak mengetahui rencanaku.
Setelah berganti baju, aku kembali menuju kursi tunggu di depan ruangan rawat inap yang di dalamnya sedang terbaring laki-laki ayah dari bayiku.
Lamat-lamat kudengar tawa suamiku menggelegar. Aku pun ikut tersenyum tipis saat mendengarnya. Tapi kelamaan yang kudengar justru perbincangan hangatnya dengan suara seorang wanita.
Aku bangkit dan langsung mengintip dari celah kaca. "Lili?" Dia tampak tertawa lepas di samping bapak mertuaku. Mereka semua sedang tertawa, larut dalam perbincangan yang nampak hangat.
Dadaku bergemuruh hebat. Tanpa sadar sebulir air mata yang panas jatuh mengenai pipi. "Inikah ganjarannya? Karena aku pernah menjadi istri durhaka?" Sungguh miris. Hatiku bahkan sudah remuk redam. Ingin rasanya aku berteriak dihadapan suamiku. Tapi apalah daya, aku bukan siapa-siapa dimatanya untuk saat ini.
Emosiku tidak akan membantunya cepat kembali dalam ingatan yang seharusnya.
__ADS_1
Assalamu'alaikum semuanya ...
Maaf untuk update yang terlalu lama
Adakah yang masih menunggu kelanjutan novel ini?
Aku punya kabar baik untuk pembaca setia MCS2
Yang pertama sebulan ini aku akan kembali update rutin (mungkin hanya satu episode per hari)
Yang kedua, dengan berat hati kukatakan novel ini akan segera ditamatkan
Alasannya karena aku akan merevisinya dan memboyong MCS2 ke platform berbayar
Tentu akan banyak yang aku ubah dan akan dikemas dengan rasa baru
Tapi kalian jangan khawatir, jika mau baca kemasan barunya bisa dengan koin gratis kok ... aku tidak akan tega menguras kantong kalian. Jadi aku memutuskan lari ke platform berbayar yang menyediakan koin gratis untuk membuka kunci bab.
Maaf karena aku sudah tidak lagi menulis di sini. Aku juga manusia yang butuh biaya hidup xixixixi
Info lebih lanjut follow ig-ku @ind_sychd
Sebelumnya aku juga mau membocorkan salah satu karyaku yang terbaru berjudul 'Can't Move On' bergenre adult
aku menulisnya di Novel Life
kalian bisa membacanya di sana gratis!!! banyak tiket gratis yang bisa kalian claim dan bisa digunakan untuk membuka bab terkunci
__ADS_1