
...WARNING!...
...**MENGANDUNG NARASI DEWASA...
YANG MASIH DI BAWAH UMUR TOLONG SKIP CHAPTER INI
BIJAKLAH DALAM MEMBACA DAN MEMILIH BACAAN**
Tiga bulan aku dan Rio genap menikah. Belum sekalipun kami menyinggung perihal momongan. Melihat dasar pernikahanku yang terjadi tidak dilandasi perasaan saling cinta. Rio menjelma menjadi suami yang tidak hanya sangat pengertian. Rio juga mau memahami keegoisanku.
Seharian tadi di toko, aku kedatangan tamu special. Duo kembar Lala dan Lulu datang bersama kakaknya, Lili. Kedatangan mereka disambut hangat olehku dan Rio. Terlebih, kami sudah lama tidak berjumpa.
Rio bahkan langsung lari mencari makanan dan minuman favorite Lala dan Lulu. Tujuannya agar duo kembar itu tidak segera minta pulang pada Lili yang harus bekerja.
Diluar dugaan, Lala dan Lulu nyatanya nampak betah menemani kakaknya bekerja di toko. Tentu saja, karena mereka puas bisa seharian bermain dengan Rio.
Rio menjadi sosok kakak laki-laki yang mereka idamkan. Sosok pelindung yang penuh kelembutan dan kehangatan kasih sayang yang mereka rindukan.
Tapi, ada satu hal imbas kurang baik yang aku dapat setelah kedatangan duo kembar. Malam ini Rio merengek-rengek layaknya bayi kelaparan minta disusui.
Dengan manja dia memeluk perutku. Merengek di perutku yang rata dan hanya diwarnai kembang-kempis tempo nafas. Dia berdoa berkali-kali meminta bayi kembar.
"Mi, apa mungkin kita bisa punya bayi kembar? Sementara garis keturunan abi tidak ada yang pernah lahir kembar," ucapnya dengan nada putus asa.
"Insya Allah, kita hanya perlu ikhtiar dan juga berdoa dengan sungguh-sungguh. Atas izin Allah, semuanya mungkin saja terjadi." Aku mengelus rambutnya yang hitam dalam pangkuanku.
"Aamiin. Abi ingin sekali segera punya anak. Tidak apa walaupun tidak kembar," katanya lagi plin-plan.
__ADS_1
"Jadi, sebenarnya kembar atau tidak kembar itu tidak penting? Yang penting ingin segera punya anak?" tanyaku masih menatapnya. Kini aku tak lagi ragu menatap manik matanya yang teduh.
"Hehe... begitu kurang lebihnya yang ingin abi sampaikan. Abi tidak sabar melihat wajah mungil perpaduan wajah abi dan Umi." Matanya beralih fokus menatap langit-langit kamar. Seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Mungkin wajahnya akan seperti Abi. Karena sepanjang hamil, umi sangat membenci Abi," tuturku dengan mantap dan berhasil membuatnya terkesiap kesal.
"Kenapa harus membenci abi? Memangnya, harus begitu kalau ingin wajahnya mirip abi?" Rio semakin kehilangan kewarasannya. Aku jadi semakin tahu kalau obsesinya perihal momongan memang sangat besar.
"Bercanda, Abi. Sudah ya, lebih baik kita tidur. Umi sudah mengantuk." Kututup mulut yang menguap tanda bukti aku telah mengantuk dengan telapak tangan.
"Tidak. Kita tidak akan tidur secepat malam-malam sebelumnya. Abi benar-benar menginginkan kehadiran bayi lucu sesegera mungkin. Bagaimana akan terwujud, kalau hanya berdoa tanpa ikhtiar?" keluhnya padaku yang tak mengerti jelas maksud ucapannya.
"Baiklah, besok kita akan ke dokter untuk berkonsultasi." Dengan percaya diri aku mengatakannya.
"Ada yang lebih penting dari pergi ke dokter. Kita harus berproses, Sayang." Dia masih saja betah dengan kode-kodenya yang tak aku mengerti.
"Jadi, apa? Sholat malam? Setiap malam kita lakukan," jawabku lagi.
Meski sentuhannya begitu lembut. Tetap saja aku masih belum sempat bersiap untuk menerimanya. Kuatur nafas dan juga detak jantung yang kurasakan semakin melemah. Mengikuti irama yang tengah ia mainkan di atas ranjang. Aku mulai bisa menikmatinya.
Kehangatan yang merengkuh tubuhku, membuat aku semakin nyaman dalam dekapannya. Aku tidak mau mengecewakannya, dengan bersusah payah aku mengikuti alurnya permainannya.
Rio memang laki-laki berhati lembut. Tapi sikap beringasnya sebagaimana normalnya laki-laki di atas ranjang tidak bisa kuremehkan. Dia pandai sekali memanjakan titik-titik sensitifku.
Aku dibuat mabuk kepayang olehnya malam ini. Malam pertama yang kutunda selama tiga bulan lamanya. Pantas jika Rio lebih mirip seperti singa kelaparan saat ini.
Puas menjamah seluruh bagian tubuhku. Hingga membuatku kehilangan ketenangan, Rio dengan sopan santunnya meminta izin padaku untuk melakukan inti dari banyak ritual yang telah kami lewati.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau ini akan membuatmu merasakan sakit. Tapi aku akan bertanggung jawab sampai kamu sembuh," ucapnya sebelum merobek selaput daraku dengan senjatanya.
Kututup kedua mataku dengan perasaan takut. Pelan, kurasakan sesuatu mulai menempel di pintu terluar bagian sensitifku.
Dan... Arghhhhh! Aku menjerit. Walau sangat pelan, aku tidak bisa membohongi sakit yang tengah aku rasakan. Sungguh, untuk pertama kalinya aku merasakan sakit yang amat teramat tak bisa aku tahan hingga jeritan keluar dari mulutku.
Rio berusaha menenangkanku yang mulai berurai air mata, "sakit, Bi," ucapku dengan wajah memelas memohon agar dia mau melepaskanku.
"Abi minta Umi sabar sebentar, ya? Tidak akan lama. Abi janji, Sayang." Aku mengangguk setuju. Tak mungkin aku biarkan malam ini berakhir tanpa klimaks.
Bapak mertuaku yang mendengar suara jeritan dari dalam kamar kami. Datang dengan menggedor pintu kamar.
"Rio! Indy! Kalian tidak apa-apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya dengan nada khawatir dan suara lantang dari luar.
Lagi-lagi kami yang sedang berproses harus kembali terjeda setelah tadi aku memotong dengan dramaku. "Tidak apa-apa, Pak! Indy hanya takut melihat kecoa!" balas Rio tak kalah lantang.
"Ya sudah. Bapak hanya khawatir karena tiba-tiba ada suara jeritan." Pungkas bapak mertuaku.
Suaranya tak lagi terdengar setelah beberapa saat kami menunggu pertanyaan susulan yang mungkin akan bapak tanyakan. Tetapi keadaan tetap hening. Itu berarti bapak langsung pergi setelah kami memberikan konfirmasi.
Ronde tetap berlanjut hingga selesai. Tepat pukul 11 malam Rio menyudahinya. Awalnya, aku hendak bangun dan membersihkan diri. Namun, Rio melarangku bergerak bangun dari tempat tidur.
"Tetap di sana, abi akan tunjukkan kalau abi tidak lari dari tanggung jawab." Rio kemudian melangkah ke luar kamar setelah ia membersihkan dirinya lebih dulu.
**TERIMAKASIH YANG SUDAH MEMBACA
TERIMAKASIH YANG DI BAWAH UMUR DAN MAU SKIP CHAPTER INI
__ADS_1
TERIMAKASIH ATAS KERJASAMANYA
STAY POSITIVE THINKING**