
"Ada hal yang tidak kamu ketahui saat itu dan aku mengetahuinya." Hal apalagi yang kiranya lolos dari pengetahuanku? Aku hanya bisa menatapnya agar Rio mau melanjutkan obrolan.
"Kamu ingin mengetahuinya?" Aku segera mengangguk memang sedari tadi aku sudah diselubungi rasa penasaran.
"Taukah apa yang menjadi tujuan orang tua kita bertemu saat itu?" Kepalaku reflek menggeleng sebab aku benar-benar tidak tahu. "Mereka ingin membahas soal perjodohan diantara kita. Tapi na'asnya kita justru pergi dari sana. Karena itulah kamu tidak tahu apapun tentang perjodohan itu."
Kedua mataku membola. "Jadi … pertemuan kita sudah mereka rencanakan?" Aku benar-benar baru bisa menyadarinya. Kenapa dulu aku begitu polos dan menganggap pertemuan itu adalah hal biasa.
"Ya, dan aku sudah lebih dulu tahu. Bahkan aku sudah siap untuk mempersuntingmu saat itu juga jika bapakmu memintaku." Tatapan Rio semakin intens.
"Jahat sekali Abi … tidak memberi tahukan pada umi," keluhku seraya melayangkan cubitan di punggung tangannya. Tapi seketika itu Rio meraih tanganku dan menciumnya penuh cinta.
"Abi tidak ingin kamu lari saat itu juga. Sebab abi tahu, kamu masih bersama laki-laki lain." Rio mengetahui segalanya tentangku. Bahkan hingga titik paling kecil di hidupku. Tapi aku justru tak tahu apapun tentang dirinya.
"Boleh aku bertanya sesuatu? Dan bisakah Abi menjawabnya dengan jujur?" Aku menatap matanya lekat.
"Tanyakan apapun itu … abi akan menjawabnya dengan jujur. Karena tidak ada sesuatu apapun yang perlu abi tutupi padamu."
Aku menarik nafas sedikit dalam dan kemudian mulai mencoba mengobati rasa penasaranku. "Sejak kapan Abi mencintai umi?" Entah kenapa aku tertarik sekali untuk menanyakan hal ini.
__ADS_1
"Sejak abi mendengar semua cerita bapak tentangmu. Setiap malam aku selalu terbayang akan wajahmu. Namamu setiap kali mengingatmu, ada gelenyar rasa senang yang muncul di hatiku. Sejak itu abi tahu kalau kamu sudah menarikku bahkan sebelum kita saling bertemu."
Kenapa semakin lama aku menatapnya aku justru semakin menyadari pesonanya yang selama ini aku abaikan? Dia begitu sempurna. Aku semakin jatuh dalam kekaguman.
"Umi …." Dia menjentikkan ibu jari dan telunjuknya di depan wajahku yang tengah hanyut menikmati ketampanannya.
"Ah iya … kenapa Abi?" tanyaku karena terbangun dari lamunan dengan terkejut.
"Apa yang sedang Umi pikirkan? Kenapa Umi melamun? Adakah sesuatu yang masih mengganjal di hatimu?" tanyanya lagi. Aku berusaha mencari sesuatu yang mengganjal. Tapi aku tidak menemukannya. Bagiku dengan mengetahui dengan jelas perasaannya padaku kini, itu sudah cukup.
"Bolehkah sekarang abi yang bertanya padamu?" Pompa jantungku seperti bergerak kian cepat. Banyak hal buruk di masa laluku yang tak bisa aku jelaskan dengan gamblang padanya. Aku khawatir dia akan menanyakannya dan memintaku berkata dengan jujur seperti tadi aku memintanya menjawab pertanyaanku.
"Apa perjodohan kita masih menjadi masalah bagimu? Tidak usah tidak enak hati padaku. Aku akan menerima apapun jawaban Umi asalkan katakan sesuai kata hatimu."
Alhamdulillah … aku bisa sedikit lega. Dia tidak berusaha membongkar masa laluku yang memalukan jika harus diingat kembali. Namun justru kini Rio berbalik penasaran dengan perasaanku padanya setelah sekian lama melewati waktu bersamanya.
Sudahkan memudar amarah yang dulu pernah memuncak sebab aku tak bisa menerima perjodohan diantara kami? Kupejamkan mata ini untuk sejenak bertanya pada hatiku. Sepertiga menit aku kembali membuka mataku, wajah itu selalu mendorongku untuk tetap membuka mata. Bahkan jika sekejappun aku tak rela membuang waktuku untuk membiarkan wajah itu lenyap dari pandanganku.
"Aku … a-aku … aku selalu ingin melihat wajahmu. Saat aku terpejam tadi … kegelisahan yang aku rasakan. Dan saat aku kembali membuka mata, wajahmu kembali membuatku lebih tenang." Kalimat itu keluar dengan sendirinya dari dalam hatiku. Bahkan aku tidak menyusunnya sama sekali dalam pikiranku.
__ADS_1
"Sejak kapan?" Rio meraih kembali pandanganku saat aku malu menyadari ucapanku.
"Aku tidak tahu pasti. Akhir-akhir ini perasaan semacam itu terus datang."
"Lihat mata abi …." Aku kembali menjatuhkan bias retinaku ke bola matanya yang bewarna coklat muda.
"Benarkah yang tadi kamu ucapkan berasal dari dalam hatimu?" Rio benar-benar ingin memastikannya.
"Ya. Apakah ini yang disebut cinta?" Aku balik bertanya.
"Walau abi tidak tahu pasti … sesuatu bisa abi rasakan perlahan. Terimakasih sudah berjuang menumbuhkan rasa itu. Aku berjanji, tidak hanya di dunia fana ini aku mencintaimu. Tapi juga saat di surga nanti. Aku akan tetap meminta dirimulah bidadari cinta abadiku." Setetes buliran bening menetas diantara sudut mataku. Untaian syair cintanya mampu meruntuhkan kerasnya hatiku yang sempat menolaknya.
Perbincangan kami berakhir dengan ritual pengenyangan perut. Ya, Rio memanjakan perutku di sana. Tapi tak satupun butir nasi dalam wujud apapun yang bisa aku telan. Lagi-lagi hanya makanan yang berbahan dasar umbi yang bisa aku makan. Untung saja foodcourt di tempat ini menyediakan berbagai jenis jenis makanan dengan lengkap. Sehingga aku tidak perlu melongo hanya menyaksikan suamiku mengenyangkan perutnya.
Puas dengan urusan perut, kami lanjut menyusuri deretan store yang menyandingkan berbagai macam barang.
Kami mampir ke toko jam yang dulu pernah kami kunjungi. Kali ini Rio tidak memintaku untuk membantunya memilihkan jam sebagai hadiah pada orang lain. Rio justru memintaku memilih jam baru untukku sendiri.
Aku tidak mau menyianyiakan kesempatan emas ini. Mengingat jam tanganku telah usang dan sudah sepantasnya dimuseumkan. Plat karet yang dulu berwarna putih bersih dan kini bereinkarnasi menjadi agak kecoklatan menjadi pertanda bahwa jam ini memang pantas kusimpan sebagai kenangan.
__ADS_1