
Rio kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan waslap. Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini padaku. Mengelap bekas noda yang mengotori bagian sensitifku. Mengelapnya dengan sangat pelan dan hati-hati.
Rio mengompresnya dengan sangat telaten. Hingga rasa sakit yang tengah aku rasakan bisa berubah menjadi lebih nyaman.
"Sudah tidak terlalu sakit, kan?" Tanyanya setelah aku memintanya untuk berhenti membersihkan **** *-ku.
"Makasih, Bi," ucapku berterimakasih atas apa yang dia lakukan untukku.
"Jangan banyak bergerak dulu, ya? Rasa sakitnya tidak akan hilang secepat yang kamu kira," sambungnya lagi.
"Memangnya, butuh waktu sampai kapan rasa sakit di sana bisa hilang?" tanyaku benar-benar tak berpengalaman.
"Mungkin, 2 atau 3 hari?" jawabnya tak begitu yakin.
"Selama itu? Dan aku cuma bisa berbaring di atas tempat tidur? Aku tidak bisa. Bagaimana dengan toko? Dan siapa yang akan mengurus kebutuhanmu?" Kecemasan mulai menjalar di pikiranku.
"Jadi, kamu tidak percaya dengan ucapanku tadi? Kalau begitu, coba sekarang bangun dan berjalan. Kalau kamu bisa berjalan normal tanpa menahan sakit, aku izinkan kamu beraktivitas seperti biasa." Ucapannya seakan menantangku. Selain merasa tertantang dengan ucapannya itu, aku juga penasaran. Benarkah aku tidak bisa berjalan normal? Tubuhku rasanya biasa saja, hanya sedikit sakit di bagian sensitifku.
Pelan, kubangunkan tubuhku yang sedari tadi hanya terbaring menuruti perintah suamiku. Benar, untuk bisa duduk sempurna saja aku meringis menahan sakit bercampur nyeri. Aku sampai meringiskan gigi.
"Belum duduk sempurna, lho, kamu sudah meringis menahan sakit. Masih mau diteruskan? Coba berjalan? Aku sarankan jangan nekat, Sayang." Rio kembali menegurku dengan nada bicara yang terdengar seperti meledekku.
Bukan berputus asa dan menyerah, aku justru sebaliknya. Aku teruskan niatku untuk membuktikan ucapannya.
__ADS_1
"Aku pasti bisa berjalan. Akan aku buktikan kalau aku kuat," ucapku dalam hati.
"Sayang... jangan kamu paksakan kalau memang sakit." Rio benar-benar cerewet. Aku kesal mendengarnya terus menasehatiku tanpa mau membantuku menegakkan tubuh ini.
Tubuh yang mungil ini tiba-tiba terasa begitu berat. Kenapa aku sulit membangkitkannya? Setelah bersusah payah, aku berhasil membuat kedua kakiku berdiri tegak. Kini giliran aku mencoba mengayunkan kaki agar bisa memindah posisi.
Ya Tuhan, kenapa sakit sekali? Baru selangkah kuayunkan satu kaki. Padahal aku ingin berjalan mengitari kamar untuk membuktikan bahwa aku wanita yang kuat di hadapan suamiku. Kenapa ini? Rasa sakit semakin menjalar saja. Aku tidak bisa menahannnya.
"Abi!" teriakku saat tak bisa lagi menopang tubuhku dengan kedua kakiku yang tak lagi mau berdiri tegak.
"Sekarang kamu percaya abi? Abi tidak mencoba membohongimu, Sayang. Abj akan bantu kembali ke ranjang." Rio langsung mengangkat tubuhku dan kembali membaringkanku di ranjang.
Padahal jarakku berdiri tadi dengan ranjang hanya sejengkal. Tapi untuk membalikkan badan dan meraih tepi ranjang saja aku tidak mampu.
Aku juga pasti belum bisa menuruni anak tangga. Karena untuk melangkah di lantai rata saja aku masih merasakan sakit yang amat-teramat.
Tidak mungkin juga jika aku menceritakan hal yang sejujurnya padanya. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa semalam terjadi pertandingan di atas ranjangku.
Rio menangkap kecemasan di wajahku. Usapan lembut nan menenangkan mendarat di pipiku diikuti seulas senyum manis di bibirnya.
"Kenapa? Kamu tidak nyaman? Wajahmu nampak cemas," tanyanya dengan menatapku.
"Aku, apa yang harus aku katakan pada Bapak esok pagi? Beliau pasti akan menanyakan alasan, kenapa aku tidak keluar kamar, kan?" ujarku dengan pikiran yang mulai kacau.
__ADS_1
"Tidak perlu cemas. Abi akan yang akan memberitahu Bapak."
"Mengatakan hal ini? Jangan," protesku tak setuju.
"Hal lain, aku akan mengatakan alasan lain. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang tidur, dan jangan cemaskan apapun." Rio mematikan lampu. Tangan kanannya langsung meraih tubuhku. Semenjak aku menghapus larangan untuk tidak menyentuhku, semenjak itu juga suamiku tidak pernah absen merengkuh tubuhku dalam pelukannya.
Aku cukup lega karena Rio bisa mengatasi kecemasanku. Kupejamkan mata walau sebenarnya aku tengah menahan sakit.
Bukan hanya karena robekan yang terjadi di area sensitifku. Tapi juga karena aku mengingat Adi. Aku semakin jauh dari harapanku. Aku semakin menjauh dari mimpiku.
Adi telah memilih Amira. Sementara aku, aku masih mengharapkannya. Meski telah kuserahkan mahkota berharga dalam hidupku untuk Rio. Aku masih belum bisa sepenuhnya mencintainya.
Rasa cemburuku masih untuk Adi. Hasratku ingin bersama laki-laki yang kini resmi menjadi tunangan Amira itu masih menggebu. Rasa tidak mungkin yang terpampang dengan jelas seakan aku tepis. Aku lupakan tanpa melihat kenyataan.
Aku menangis dalam gelap. Aku kesepian dalam dekapan suamiku. Aku kedinginan dalam pelukan hangat yang selalu ada di setiap malamku.
Aku menginginkannya. Dia yang bukan menjadi takdirku. Dia yang hanya sebatas kembang tidurku. Adi menjadi angan yang tak bisa kugenggam.
**JANGAN LUPA VOTE, VOTE, VOTE
LIKE DAN KOMENTARNYA SELALU AUTHOR TUNGGU
MATUR SUWUN**....
__ADS_1