
Rintik hujan turun membasahi jendela kaca mobil yang aku dan suamiku tumpangi. Kali ini kami hanya pergi berdua. Meski Rio sudah mengetahui kondisi yang sebenarnya, tapi dia belum bisa mengingat semuanya yang hilang di dalam ingatannya. Rutin kami datangi dokter untuk melakukan terapi dan semacamnya.
Sepanjang mngemudi tak henti-hentinya, laki-laki yang selalu ingin kurengkuh itu memandangiku. Dia melempar senyumnya yang begitu manis.
Ingin aku nikmati keindahan yang tersuguh begitu jelas di hadapanku. Tapi hatiku mengatakan, aku akan menundanya. Aku harus menunggu hingga ia benar-benar telah kembali.
"Umi," panggilnya dengan lembut.
"Hmm?" Sekilas aku menoleh. Tapi tak lama pandangan ini aku alihkan ke hal lain.
"Dokter mengatakan bahwa Umi adalah kunci dari kembalinya ingatan abi yang hilang."
"Benar, lalu?" Aku tidak tahu ke mana pembicaraan itu.
"Kenapa abi melihat keraguan di matamu?"
"Keraguan?" Aku sungguh tidak tahu, keraguan apa yang dimaksud olehnya.
"Mungkin hanya perasaan abi saja."
"Coba jelaskan, aku sungguh tidak tahu arah pembicaraan ini." Kali ini aku memaksanya bicara.
"Aku merasa bahwa Umi menjauh dariku akhir-akhir ini. Apalagi saat aku berusaha menyentuh Umi. Apa ada keraguan di hati Umi yang membuat Umi bersikap seperti itu?"
Ternyata tidak mudah membohonginya. Aku telah berusaha keras menyembunyikan rasa ini. Rasa yang sebenarnya ingin aku turuti namun hatiku berkata jangan.
__ADS_1
"Insyaallah tidak ada keraguan apapun dalam hatiku."
Dia hanya menatapku tana arti. Kami hening sampai mobil terparkir di halaman rumah. Rio seperti biasa membukakan pintu untukku.
"Terimakasih," ucapku kemudian berlalu mendahuluinya.
Hujan turun lebih lebat selepas kami menunaikan salat ashar. Rio tiba-tiba saja mengajakku duduk minum teh di teras. Aku tidak menolaknya, walau sebenarnya aku harus melakukan tugas lain yaitu membantu menyiapkan makan malam.
"Ada apa, Abi?" Langsung kutodong dia dengan pertanyaan karena sepertinya Rio tidak cuma-cuma mengajakku duduk di sana.
"Bisakah mulai malam ini kita berlaku sebagaimana mestinya seorang suami dan istri?"
Apa Allah sedang menegurku? Hal yang sedang aku tua itu datang lewat bibir suamiku. Apa aku sudah melakukan kesalahan?
"Abi, apa tidak sebaiknya kita fokus dengan pemulihan kesehatan Abi lebih dulu?"
Sejenak aku diam, mencerna semua pikiran yang berkecamuk di dalam hati ini. Sekali lagi aku merasa bahwa aku belum berubah. Aku masih seorang istri yang egois.
"Baiklah, Abi."
"Aku tidak bermaksud memaksa Umi. Tapi jika memang tidak ada keraguan, maka buktikanlah nanti malam."
Aku mengangguk. Tak aku minum sedikitpun teh yang masih mengepul di dalam cangkir. Aku segera pamit untuk menyiapkan makan malam.
Selepas isya, aku menunggunya dengan cemas. Aku duduk di bathub dengan meremas lingerie tipis yang sudah aku kenakan.
__ADS_1
Satu jam lamanya aku di dalam kamar mandi yang dingin ini. Suara derit pintu yang dibuka seseorang disusul dengan suara lakah kaki yang semak mendekat aku dengar dari dalam kamar mandi.
"Abi?!" Setengah beteriak aku memeriksa seseorang yang datang itu.
"Umi di dalam? Sudah selesai atau masih lama? Abi ingin buang air kecil," katanya di depan pintu.
"Baik, sebentar lagi, ya?"
Aku semakin cemas saja. Entah bagaimana aku akan memperlihatkan wajah ini kepadanya. Rasanya lebih berat dari apa yang aku rasakan watu dulu pertama kali menaikan kewajibanku.
Kaki ini terasa berat, seperti ada puluhan batu besar menggelayutinya. Tangan ini juga sulit aku gerakkan untuk memutar knop pintu.
"Umi?!" Dia memanggilku lagi.
"Iya, Abi?"
"Bisa lebih cepat?"
"I-iya!" jawabku ragu. "Bismillah." Kuraih knop dan memutarnya pelan hingga pintu sedikit terbuka.
"Maaf, Umi!" Dia menerobos masuk begitu saja tanpa membiarkan aku keluar dari tempat itu.
Aku memalingkan wajahku begitu dia berdiri menghadap kloset untuk buang air kecil. Sementara aku lupa, seharusnya aku segera keluar dari tempat persembunyian di balik pintu.
Hallo, Apa kabar kalian semua?
__ADS_1
Ada yang kangen aku, nggak? Eh, kangen novel MCS2 maksudnya hihihi...