
Sesampainya di toko aku langsung mendapat sambutan hangat sahabatku Lili dan pegawaiku Mbak Nia. Alih-alih membalas dengan ramah, aku justru merespon mereka dengan lesu.
Moodku sedang tak begitu baik hari ini. Memulai hari dengan kegelisahan berimbas tidak baik untukku.
"Ada apa, Ndy?" tanya Lili setelah membuntutiku hingga sampai di meja kasir.
"Aku bingung," ucapku dengan nada lesu.
"Bingung? Apa yang membuat kamu bingung? Jangan bilang, kamu dan Rio sedang bertengkar?" Lili mulai berasumsi.
"Tidak, Li. Aku bingung tentang hal lain," jawabku. Lili nampak menghela nafas lega setelah mendengarnya.
"Ndy, kalau kamu butuh tempat untuk bercerita. Aku siap mendengarkan ceritamu. Jangan ragu, aku akan menyimpannya sebagai rahasia. Jika aku bisa, aku akan membantumu mencari solusi untuk memecahkan kebingungan yang sedang kamu hadapi."
Mendengar Lili mengucapkan kalimat itu, aku terharu. Ketulusannya sangat bisa aku rasakan. Aku memeluknya dengan erat, menumpahkan segala kegundahan yang menggelayut di hatiku sejak semalam.
Menceritakan ketakutanku dan mencoba meminta pendapat dari sudut pandangnya. Selain menjadi seorang sahabat, Lili juga bisa menjadi selayaknya kakak perempuan bagiku. Nasehatnya sama persis seperti nasehat-nasehat Bang Inu dulu padaku.
"Katakan yang sejujurnya. Aku yakin, Rio tidak akan memarahimu." Lili menghapus air mataku dengan jemarinya. Sekali lagi aku menghambur dalam pelukannya.
"Terimakasih, karena kamu tetap berada di sampingku meski aku setiap saat memahat luka di hatimu." Batinku.
*
*
__ADS_1
*
Usai ba'da isya, aku berdiri menunggu Rio di balcon kamar. Seperti biasa, Rio menemani bapaknya mengobrol di depan TV selesai makan malam.
Kuayunkan kaki seperti sedang mengukur lantai. Berjalan mondar-mandir sendirian dengan menggenggam sebuah kertas.
"Bismillah, aku bisa mengatakannya." Aku bicara sendirian.
"Mengatakan apa?" Suara Rio yang tiba-tiba menyahut membuatku kaget. Reflek kusembunyikan kertas yang ingin kuperlihatkan padanya di balik punggungku.
"Ti-tidak," jawabku terbata.
"Sedang apa Umi di balcon? Apa tidak dingin, anginnya cukup kencang, lho?" ujarnya seraya berjalan mendekat.
"Kenapa wajahmu tegang begitu? Adakah yang sedang kamu cemaskan?" Rio dengan mudah menangkap kecemasanku.
"Tidak, Abi. Ayo masuk, Umi sudah merasa dingin," ajakku berharap dia mau menuruti pintaku.
Alih-alih menunggunya berjalan masuk ke ruangan lebih dulu, Rio justru memelukku.
"Kalau dingin seharusnya abi peluk kan, Mi?" ucapnya disertai senyum jahil.
"Apa itu?" tanyanya lagi saat netranya menangkap sesuatu di genggamanku.
"Ya Tuhan.. Kenapa dia harus melihatnya. Apakah ini bagian dari rencana-Mu?" gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Bu-bukan apa-apa, ini hanya sebuah amplop biasa," jelasku agar Rio tidak memintanya dariku.
Namun perkiraanku justru meleset. Rasa penasaran justru tumbuh di benak Rio. Suamiku itu memintaku membuka amplop putih yang sedang kuremas.
"Kalau bukan apa-apa, kenapa Umi tidak mau membuka amplop itu di depan abi? Apa itu sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh suamimu?" Aku menelan salivaku sendiri sebab tercekat dengan ucapannya. Benar, memang tidak ada yang perlu aku sembunyikan darinya.
"Baiklah. Abi bisa membukanya sendiri." Aku menyodorkan amplop yang sudah tak berbentuk sempurna. Dalam kecemasan aku telah merusaknya hingga amplop itu menjadi sedikit kusut.
"Umi, benarkah Umi sedang hamil?" tanyanya dengan kegirangan.
"Mungkin," jawabku dengan nada biasa saja.
"Kok mungkin? Alat tes kehamilan ini menunjukkan kalau Umi positif hamil." Rio menatapku bingung.
"Aku belum terlalu yakin karena belum melakukan USG. Itu hanya hasil dari alat tes sederhana." Aku berjalan meninggalkannya yang masih kegirangan menatap alat tes bergaris dua di tangannya.
Berapa detik kemudian Rio berlari menyusulku dan memeluk erat tubuhku.
"Abi sangat bahagia. Tidak tahu harus mengatakan apa pada Umi. Yang jelas abi sangat bersyukur karena Allah sudah mempercayai kita untuk menjadi orang tua yang sesungguhnya." Dia kemudian melepaskan pelukannya.
"Umi, terimakasih Sayang …," ucapnya seraya menciumi wajahku.
"Besok kita USG, ya? Abi tidak sabar ingin lihat calon jagoannya abi." Kini Rio berganti mengelus-elus perutku yang masih sangat rata. "Assalamualaikum, Sayang. Nak, ini abi. Ini suaranya abi, Sayang. Sehat-sehat di perut Umi ya, Nak. Abi menyayangimu." Dikecupnya perutku olehnya.
"Mi, mulai sekarang jangan terlalu banyak berkegiatan ya. Umi tidak perlu lagi menyiapkan sarapan. Jangan lakukan apapun lagi. Umi hanya perlu menjaga anak kita. Istirahat saja yang cukup." Telapak tangannya yang hangat nan lembut itu membelai pipiku. Cintanya begitu tulus padaku. Tapi kenapa cintaku belum juga hadir untuknya?
__ADS_1