Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Pistol Air


__ADS_3

"Kenapa berhenti?" tanyanya saat kulepaskan ciuman itu dari bibirnya.


"Ada sesuatu yang bergerak. Di bawah umi," ucapku tanpa sadar telah memancing sesuatu dengan hasratku.


"Aaaahhh … itu pistol milik abi," jawabnya yang sontak membuatku melompat menjauhi tempat tidur.


"Abi menyembunyikan pistol? Untuk apa abi? Cepat singkirkan, atau pelatuknya akan tertarik dan pelurunya akan terlepas mengenai abi. Cepat abi … cepat," ujarku khawatir karena benar-benar mengira itu adalah pistol sungguhan.


"Pistolnya jinak, Sayang. Tidak akan melukai siapapun. Kemarilah," ucapnya seraya merentangkan tangan agar aku mau kembali dalam dekapannya.


"Tidak, sebelum Abi menyingkirkan pistol itu. Coba periksa, tadi umi mungkin tidak sengaja mendudukinya dan dia jadi bergerak. Ayo cepat periksa Abi …." Rio menghela nafas lemas sembari mengintip isi celana tidurnya.


"Aaawww … tidaaakkk." Teriakannya yang merupakan bagian dari rencananya untuk menipuku itu berhasil membuat aku masuk dalam perangkapnya dan mulai ketakutan.


"Abi … apa pelurunya mengenai Abi? Tunggu, umi akan meminta pertolongan." Aku langsung berlari meraih pintu. Tapi belum sempat aku membuka pintu, Rio melompat dari atas ranjang.


"Jangan minta tolong pada siapapun. Abi tidak apa-apa, Sayang. Abi baik-baik saja." Aku tidak percaya karena wajahnya nampak pias.


"Pistol yang abi maksud …." Dia menarik telapak tanganku dan menuntunku untuk meraba bagian sensoriknya.


"Pistolnya lunak abi?" ucapku kini menganggap benda itu adalah sebuah pistol mainan yang mungkin terbuat dari bahan silicon.


"Apa mainan ini hadiah untuk anak kita lagi? Kapan Abi membelinya?" Aku benar-benar tidak bisa membedakan itu mainan atau sungguhan.


"Kamu mau melihatnya?" tanya suamiku dengan sedikit desisan karena dia terus menuntun tanganku untuk meremas bagian sensoriknya.


"Boleh." Aku antusias ingin melihat mainan pistol silicon itu.


"Ayo kita kembali ke ranjang." Rio menyeretku dengan langkah gontai.

__ADS_1


"Lihat ini." Dia membuka pintu yang menutupi bagian sensoriknya itu. Aku terperangah, melihat apa yang muncul dari dalam sana dan benda itu mengangguk-angguk seperti menginginkan sesuatu.


Tidak sanggup lagi untuk hanya melihat guratan otot-otot yang mengeras di batang pistol silicon itu. Aku langsung melu*uti tubuhku sendiri. Menidurkan suamiku dan aku mulai memanjakannya. Aku ingin malam ini menjadi milikku. Jika biasanya aku yang menjadi miliknya, kini aku yang akan menunjukkan kerakusanku dan membuncahkan peluhnya.


Hanya setengah jam aku mampu mempertahankan bentengku. Aku tak bisa berlama-lama menahan air terjun yang ingin segera meluncur. Rona kenikmatan sama-sama terlukis di wajah kami.


Aku belum merubah posisiku yang berada di atasnya sembari mengatur nafas dan juga detak jantung yang masih belum normal. Rio meraih wajahku dan mendaratkan kecupan mesra.


"Aku tidak menyangka kamu sepintar ini bermain pistol," pujinya masih dengan nafas tersengal-sengal.


"Aku juga tidak menyangka, pistolmu itu ternyata hanya pistol air."


Rio mencubit hidungku gemas. Kemudian menidurkanku dalam dekapannya.


"Apakah benar perasaan ini adalah cinta? Atau hanya bawaan dari janinku saja?" tanyaku dalam dekapannya.


"Bisa kita tidur?" sambungnya.


"Abi sudah mengantuk? Atau Abi sudah lelah?" Kutegakkan kembali kepalaku.


"Umi mau melakukannya lagi," lanjutku.


Tanpa aba-aba Rio bergantian menampilkan keberingasannya. Kini giliran tubuhku yang ia jajah. Aku berubah posisi menjadi tawanannya setelah tadi aku lebih dulu menjajahnya.


*


*


*

__ADS_1


Keesokan paginya Rio bangun lebih dulu daripada aku. Dia memeriksa tubuhku, bahkan memeriksa seluruh bagian yang masih tertindih tubuhku.


Merasakan sebuah sentuhan tak kunjung berhenti menggoyang tubuhku ke kanan dan kiri, aku mengerjap. Mengucek kedua mataku hingga bisa menyaksikan dengan jelas apa yang sedang dilakukan suamiku saat ini.


"Abi sedang apa?" Aku melihat wajahnya yang nampak cemas.


"Apa Umi baik-baik saja? Tidak merasakan apapun?" tanyanya masih dengan memeriksa tubuhku.


"Iya, umi merasa baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Aku masih penasaran. Kenapa suamiku khawatir saat bangun tidur begini?


"Abi hanya takut terjadi sesuatu. Semalam kita bahkan bermain hingga dua ronde. Abi khawatir Umi kelelahan dan berimbas tidak baik pada janin dalam kandunganmu." Rio menempelkan telinganya tepat di atas perutku.


"Tapi umi tidak merasakan satu hal apapun yang aneh. Umi justru bisa tidur dengan nyenyak. Abi jangan ber …." Belum aku selesai bicara, suamiku sudah memotong terlebih dulu. "Sstttt … Umi diam sebentar. Abi ingin memeriksa detak jantung anak abi." Dia ingin mendengar detak jantung anaknya tanpa menggunakan alat pendeteksi detak jantung janin. Apa bisa? Aku hanya bisa diam menuruti keinginannya.


"Umi, kenapa detak jantung bayi kita terdengar berbeda?" ucapnya setelah hening tak berapa lama.


"Apa maksud Abi? Berbeda bagaimana? Apa bunyinya tidak dag, dig, dug, seperti detak jantung kita?" Aku tersulut karena pernyataannya yang sontak membuatku khawatir. Apakah dua ronde yang semalam kami lakukan berimbas pada perubahan bunyi detak jantungnya? Mengerikan sekali jika benar begitu.


"Sebentar, abi akan memastikan lagi. Umi tetaplah diam dan tenang," pintanya lagi ingin memastikan.


"Aneh … bunyi detak jantungnya malah terdengar krucuk-krucuk, bukan dag, dig, dug," ucapnya kemudian.


"Itu bukan bunyi detak jantung anak kita, Abi … tapi bunyi cacing di perut umi yang sudah minta makan." Rio menegakkan kepalanya dan menatapku.


"Lagipula, apa bisa mendengar detak jantung bayi tanpa menggunakan alat pendeteksi? Sepertinya tidak bisa," lanjutku.


"Jadi, itu bukan bunyi detak jantung anak kita? Melainkan bunyi perut Umi yang lapar?" tanyanya lagi. Aku tidak menyangka dengan otak yang cerdas yang dia miliki. Rupanya masih tersisa sedikit kepolosan dalam diri suamiku.


"Iya, umi la to the par LA-PAR," tegasku.

__ADS_1


__ADS_2