Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Nyidam Yang Aneh


__ADS_3

Rio kaget bukan kepalang saat bangun tidur mendapati bercak darah menempel di kulit pahanya. Semalaman tubuh kami menempel tanpa berubah posisi sedikitpu. Aku tetap merasa begitu nyaman dalam dekapan Rio walau perutku sedikit terasa nyeri.


Aku tak menghiraukan rasa nyeri itu hingga pagi ini darah sudah membasahi bagian sensitifku. Rio menepuk-nepuk pipiku. Berusaha membangunkanku yang masih belum menyadari sesuatu sedang mengancam keselamatan janinku.


"Umi bangun … bangun Sayang," ucapnya dengan nada khawatir.


"Emmmmm … sudah pagi ya, Bi?" tanyaku dengan polos masih belum menyadari apapun.


"Umi-Umi, jangan banyak bergerak Sayang," titahnya saat melihatku mulai menggeliat meliuk-liukkan tubuhku yang b*gil masih di atas ranjang.


"Abi, kenapa wajahmu cemas begitu?" tanyaku setelah mengintip wajahnya saat berusaha membuka mata.


"Kamu tidak baik-baik saja, Sayang. Kamu sepertinya mengalami pendarahan," jelasnya lirik dengan mengusap dahiku.


"Pendarahan?" Aku langsung melirik tubuh bagian bawahku. Benar, noda darah yang tak sedikit menempel hampir di seluruh pahaku.


"Abi, bagaimana ini?" Kecemasan dan juga kepanikan mulai menghinggapiku.


Aku sangat takut. Takut kehilangan janinku. Tak kuasa menahan ketakutan, air mata jatuh begitu saja mengaliri pipiku.


Rio beranjak dari tempatnya dan memelukku. Ciuman mesra hinggap di pucuk ubun-ubunku. Dia berusaha membuatku tenang meski kegelisahan tengah merundungnya.


"Tenanglah, abi akan bawa Umi ke dokter. Abi akan bantu Umi bersiap. Jangan banyak bergerak, Sayang," titahnya lagi yang kemudian diimbangi dengan membantuku memakai baju.


Rio lagi-lagi membopongku menuruni anak tangga. Kepanikan juga terjadi di lantai bawah. Sebab bapak mertua melihat tinta merah menembus kain yang membalut tubuhku.

__ADS_1


"Ada apa, Nak? Apa yang terjadi?" cecarnya pada Rio seraya mengikuti langkah gontai Rio menuju mobil.


"Doakan tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Rio akan membawa Indy ke dokter. Indy pendarahan," tutur suamiku pada bapaknya.


"Baiklah. Hati-hati di jalan, bapak akan menunggu kalian di rumah." Wajah mertuaku itu nampak pias melihatku yang kembali harus menemui dokter dengan kondisi mengkhawatirkan.


Sepuluh menit Rio membelah jalanan dengan mobilnya dan akhirnya kami bisa sampai di klinik. Rio segera membawaku masuk ke dalam. Berteriak sekeras mungkin memanggil tenaga medis yang berjaga di pagi buta seperti ini.


Dokter datang beriringan dengan suster. Rio menjauh dari pandanganku saat dokter memeriksa kondisiku.


"Detak jantung janin masih ada. Tapi cukup lemah," tutur dokter menjelaskan setelah sebuah alat pendeteksi detak jantung janin ia tempelkan di perutku.


"Alhamdulillah," ucap Rio lirih.


"Tidak, saya tidak melakukan kegiatan yang berat. Saya juga tidak merasa stres," jawabku dengan yakin.


"Tunggu, apa berhubungan intim berpengaruh pada janin sampai menimbulkan efek semacam ini dokter? Jujur saja, semalam kami melakukan hubungan intim. Dan pagi ini istriku mengeluarkan darah yang cukup banyak." Rio dengan gamblang menceritakan hal sensitif itu tanpa canggung pada dokter.


"Nah, mungkin itu penyebabnya. Saya sarankan jangan terlalu sering atau jika bisa jangan melakukannya selama trimester awal kehamilan. Sebab di usia kandungan yang masih muda sangat rentan terjadi keguguran janin." Dokter menjelaskannya dengan detail kepadaku dan Rio.


Dokter juga memberikanku resep baru. Sebab saat ini kandunganku cukup lemah. Aku bersyukur karena janinku masih bisa terselamatkan. Dan akan aku pastikan, tidak akan ada lagi kecerobohan yang akan mengancam nyawanya lagi.


"Abi sanggup puasa selama empat bulan?" tanyaku saat kami dalam perjalanan pulang.


"Demi kamu dan jagoanku, aku sanggup tidak menyentuhmu." Rio mantap dengan keputusannya. Aku lega mendengarnya. Sebab pasti dia tidak akan merengek lagi meminta jatah mantap-mantap padaku.

__ADS_1


Sampai di rumah, aku melihat bapak mertua masih menunggu di teras. Wajar bukan jika beliau begitu khawatir, yang kukandung adalah calon cucu pertamanya. Yang tentu saja akan menjadi ahli warisnya juga penerus generasinya.


"Bagaimana kondisimu, Nak?" pertanyaan itu langsung menyambutku begitu kaki ini memijaki lantai teras.


"Bapak jangan khawatir. Indy dan dede bayi baik-baik saja." Aku menyunggingkan senyum agar wajah pias mertuaku memudar.


"Alhamdulillah, bapak khawatir sekali. Ayo Rio, bawa Indy masuk. Dia harus banyak beristirahat." Rio pun langsung menggendongku. Membawaku kembali masuk ke dalam kamar.


Spray yang tadi berlumuran noda darah kini sudah terganti dengan yang baru. Wangi semerbak menyambut lubang hidungku saat pintu kamar dibuka.


Tapi tiba-tiba … huek, huek, huek. Perutku menolak aroma wewangian ini. Padahal dulu aku sangat suka dengan aroma jeruk di kamarku.


"Umi … Umi baik-baik saja?" tanya suamiku setelah mengantarku ke kamar mandi.


"Kamar kita sangat wangi. Umi tidak suka," ucapku seraya membasuh mulut.


"Baiklah. Jangan keluar sebelum abi menyuruh Umi keluar dari sini. Tunggu sebentar ya, Sayang." Suamiku itu langsung meninggalkanku.


Dan apa yang dia lakukan? Rio membuka lebar jendela kamar. Membawa kipas angin dan memutarnya kencang untuk mengusir wangi yang memenuhi kamar.


Sepuluh menit dirasa sudah hilang aroma wewangian itu. Rio menyuruhku keluar dari kamar mandi.


"Umi, keluar Sayang. Kamarnya sudah tidak wangi lagi," ucapnya dari depan pintu kamar mandi.


Kukeluarkan sedikit wajahku, lebih tepatnya hidungku untuk mengendus aroma yang kubenci itu. Benar, sudah hilang. Aku tidak mencium aroma itu lagi. Kini aku bisa keluar dengan perasaan aman.

__ADS_1


__ADS_2