Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Tak Sengaja Yang Kedua


__ADS_3

Genap sebulan sudah toko pakaian yang aku dirikan bersama suamiku berjalan dengan lancar. Pembeli datang silih berganti setiap harinya memadati toko.


Dua orang karyawati juga telah aku pekerjakan untuk membantu melayani para pembeli.


Mbak Ina dan mbak Nia aku memanggil mereka yang sudah seminggu menemani hari-hariku di dalam toko. Rio juga telah mengenal baik mereka berdua. Sebab salah satunya adalah teman sekelasnya di kampus, yaitu mbak Ina.


"Mbak Nia, aku pamit keluar sebentar, ya? Mau nyari buku, soalnya buku yang lama sudah habis terbaca," pamitku pada mbak Nia seraya menitipkan toko padanya.


"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan," ucapnya setelah menghentikan pekerjaan yang sedang ia lakukan saat ini.


"Mau aku bawakan sesuatu?" tawarku sebelum pergi.


"Hehe, apa saja, Mbak," balasnya dengan senyum sumringah.


Senyuman manis yang nampak tak asing lagi bagiku menyambut ayunan kakiku menuju ke dalam gedung yang dipenuhi berbagai macam buku.


Rak-rak buku berbaris dengan rapi, membentuk lorong yang berliku-liku. Bagi si kutu buku, menelusuri lorong panjang, berliku, dengan netra yang menelisik ribuan buku menjadi wisata yang menyenangkan.


Dulu saat masih menjadi mahasiswi, yang paling awal kusapa dan kusentuh begitu datang adalah buku yang berjejalan di rak ilmu bisnis.


Tapi sekarang, rak itu justru menjadi akhir petualanganku di sana. Aku sedang jatuh cinta dengan novel islami yang mengangkat banyak pelajaran hidup. Selain menjadi pelipur kekosonganku, sedikit banyak ada juga pesan tersirat yang bisa aku ambil.


Setelah mengambil lima buku yang berhasil mencuri hatiku, aku pun melenggang menuju kasir. Senyum ramah dari seorang gadis yang usianya di bawahku kembali menyapaku lagi.

__ADS_1


Namanya Melisa, gadis setinggi pohon kencur itu telah bekerja menjadi kasir di sana tiga tahun belakangan. Menurut penuturannya, wajahku yang paling sering dia jumpai. Dia sampai hafal dan tak canggung melontarkan pertanyaan random padaku.


Sedikit cerita tentangnya, awalnya Melisa adalah gadis yang setiap harinya bermake up tebal. Bedak, lipstik, dan pensil alis yang ia lukis di wajahnya nampak sangat mencolok. Sampai-sampai aku sulit menebak usianya yang sesungguhnya.


Topeng yang ia lukis itu membuat wajahnya nampak terlampau jauh di atas usianya. Ya, Melisa kelihatan lebih dewasa atau tepatnya tampak lebih tua dari anak-anak seusianya yang wajahnya belum terpoles bedak padat maupun lipstik.


Dia begitu kagum melihat wajahku yang bersih tanpa polesan bedak tebal atau lipstik berat menggaris dibibirku. Pada suatu ketika, dia mengutarakan keinginannya untuk lepas dari topeng yang dia buat sendiri.


Melisa memulainya, melepas topeng itu pelan-pelan. Hingga dia menemukan kenyamanan tanpa menyembunyikan lagi wajah ayu natural miliknya.


Perjumpaan selanjutnya, aku mulai merayunya. Kumanfaatkan kekagumannya padaku. Aku memberikan beberapa koleksi jilbab yang sudah tak terpakai olehku padanya.


"Tidak perlu setiap saat, setidaknya untuk bekerja." Begitu mantra yang aku ucapkan saat itu padanya.


Seiring berjalannya waktu, Dia semakin istiqomah. Aku tambahkan lagi koleksi hijabku yang lain untuknya. Karena itulah, dia selalu mengingatku.


"Nggak duduk dulu di bilik, Kak?" tanyanya seperti biasanya saat aku tak singgah untuk membaca.


"Lain kali saja, masih banyak pekerjaan yang menungguku." Melisa mengangguk mengerti seraya mengulas senyum saat menyerahkan buku-buku yang telah terbungkus rapi padaku.


"Aku duluan, ya. Assalamualaikum," pamitku pada Melisa.


"Wa'alaikumsalam. Terimakasih, Kak," jawabnya disertai lambaian tangan.

__ADS_1


Masih ada yang harus kubeli sebagai oleh-oleh untuk kedua karyawati di toko. Meski mereka tidak meminta dengan pasti, tapi aku sempat menawarkan. Dan tawaran itu seperti sebuah janji yang harus kutepati.


Aku membeli satu box kue balok coklat, sengaja aku minta yang masih panas agar nanti saat digigit isian coklatnya akan meleleh keluar. Selain kue balok, aku juga membeli minuman segar es dari tebu. Kue balok yang rasanya sedikit pahit akan nikmat jika di dorong dengan es Sari tebu yang dingin, manis, dan menyegarkan.


Mengingat sebentar lagi jam makan siang segera datang, aku memesan makanan melalui aplikasi online. Selain untuk menghemat waktuku juga karena aku sudah malas berkeliaran di jalanan panas demi mencari menu makan siang.


Tepat sebelum turun ke parkiran untuk mengambil motorku, aku menekan tombol pesan di aplikasi online. Namun ada saja yang menyandung niatku untuk segera kembali ke toko.


"Kita ketemu lagi secara tidak sengaja. Apakah ini sebuah pertanda kalau kita …."


"Kita tetangga, Adi," potongku dengan sengaja.


Hanya sekali bertemu, walau tak bisa melihat seluruh bagian wajahku kini dia bisa mengenaliku.


Tak perlu lagi dengan suaraku. Tapi kini, sorot mataku lah yang menjadi tanda pengenal untuknya.


**YANG PENASARAN SAMA LANJUTAN OBROLAN ADI DAN INDY


BOLEH TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR DI CHAPTER INI


JANGAN LUPA JUGA SUNTIKKAN SEMANGAT UNTUK AUTHOR DENGAN KLIK BINTANG LIMA DAN VOTE KARYA INI


TERIMAKASIH**

__ADS_1


__ADS_2