Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Selamat Jalan Anakku


__ADS_3

Kutitipkan cincin merah jambu itu pada bapak mertua. Kusematkan sepucuk doa di dalam cincin itu. "Semoga Abi mengingatku dan anak kita."


Aku tidak mengerti, kenapa hari ini perutku rasanya sangat sakit. Setelah beberapa hai dirawat, aku pikir, aku sudah baik-baik saja. Darah sega meluncur begitu deras kala aku bangun dari tempat tidur.


Adzan subuh baru saja berkumandang. Hari masih begitu gelap. Aku tabisa memanggil siapapun, hanya bisa menyeut nama Robb-ku. Hatiku diselimuti kecemasan. Dan lidahku ikut kelu sebab kesedihan. "Ya Allah ... Aku pasrah. Jika memang bayi ini tidak Engkau ridhoi lahir sebagai anakku."


Setengah jam aku tak bergerak, merasai nyeri dan panas yang melingkari perut serta pinggangku.


Siapa yang mendapatiku pertama kali? Mbok ART yang diminta bapak mertua memanggilku. Wanita paruhbaya itu lari terbirit-birit guna memanggil seuruh penghuni rumah, sedetik selah melihatku bersimbah darah di lantai. Aku sudah tidak sadarkan diri. Rasa itu terlalu sakit dan tak bisa aku tahan.


Entah apa yang terjadi setelahnya. Yang pasti, hari ini menjadi hari paling buruk dalam hiupku, setelah hari dimana suamiku kehilangan ingatannya.


Ketika aku sadar, tubuhku sudah terbaring di atas ranjang pesakitan. Kepalaku rasanya pusing sekali. Perlahan kugerakkan kepala ke kanan, ada bapak mertua yang sedang duduk di sofa bersama Rio.


Aku menangis, kali ini tak bisa aku sembunyikan kepedihan yang begitu dalam yang selama ini terpendam sedirian.


"Ndy!" pekik bapak mertua seraya mendekat.


"Nyebut, Nduk ... Nyebut. Astaghfirullaha'azim ...." Beliau menuntunku.


"Astaghfirullaha'azim ...."


"Yang tabah, Nduk," katanya lagi kemudian memelukku. Laki-laki itu sudah kuanggap seperti ayahku sendiri.

__ADS_1


Sungguh ... Rasa sakit yag menyesakkan dada itu aku tumpahkan dalam pelukannya.


"Indy ikhlas ...." Lirihku.


"Ya, Nduk."


Aku terus menangis sesenggukan di dalam pelukkannya. Beliau membiarkanku menangis kali ini. Mungkin beliau mengerti, betapa sulitnya kondisi ini untukku.


Suami yang pelukkannya aku dambakan, hanya bisa menatapku kosong. Aku tahu, dia bingung harus bersikap bagaimana. Sebab kami bagaikan orang asing saat ini.


"Bapak akan pulang sebentar, untuk mengurus pemakaman anakmu. Biarpun masih kecil, tetap saja dia makhluk Allah yang bernyawa. Harus dirawat sebagaimana mestinya." Aku mengangguk seraya melepas pelukannya.


"Rio bisa di sini, temani Indy?" Rio mengangguk. Entah karena tak enak menolak permintaan ayahnya, atau memang karena tak tega meninggalkan aku.


Dokter datang, menyerahkan sebuah tabung yang aku sudah bisa menebak apa isinya. Tabung kaca bening berukuran sedang itu berisi janinku.


Dokter memeriksaku, tenyata dokter telah melakukan tindakan kiret karena bayiku sudah tidak bisa lagi diselamatkan seperti hari lalu. Guncangan pasca jah dari motor itu ternyata sangta mempengaruhi janin daam kandunganku.


Obat penguat yang pernah diberikan padanya tak mampu membantunya bertahan lebih lama lagi. Selesai memeriksa, Rio dan bapak mertua diperbolehkan masuk kembali ke dalam ruangan.


"Bapak pulang sekarang ya, Nduk." Bapak mertua pamit setelah dokter meninggalkan ruangan.


"Pak."

__ADS_1


"Ya," jawabnya tenang.


"Boleh Indy lihat sebentar?" Yang aku maksud adalah tabung kaca bening yang sudah dibungkus kain putih digenggaman bapak mertua.


Beliau ragu, tapi aku sungguh memaksa. Dengan linang air mata yang kembali deras aku memohon, "Izinkan Indy ucapkan selamat tinggal padanya."


Beliau mengangguk dan membuka kain putih penutupnya. Kemudian membuka penutup tabung dan barulah menyerahkannya padaku.


MasyaAllah aku menggenggamnya dengan tangan yang bergetar. Aku menangis lebih pilu lagi. Terpejam beberapa saat, kemudian menatap tabung itu lagi.


"Assalamualaikum, Nak. Ini umi, maaf umi cegeng, ya?" Kuambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


"Maaf untuk semua kelalaian umi, maaf karena umi belum bisa menjagamu dengan baik. Tapi InsyaAllah, umi akan memeliharamu di dalam doa-doa terbaik umi. Selamat jalan, doa umi mengiringi jalanmu menuju Jannah-Nya. Selamat tinggal sayangnya umi. InsyaAllah, kita akan kembali berkumpul."


Lama aku mencium bagian luar tabung kaca itu, aku tidak mau air mataku jatuh mengenainya. Kuserahkan kembali pada bapak mertua setelah dirasa cukup aku mengucap salam perpisahan pada janinku.


"Selamat tinggal, Anakku ...."


Kosong, aku merasa benar-benar kosong sekarang ini. Suamiku memang berada di sini, bersamaku. Tapi dia bukan laki-laki yang dulu amat menyayangiku.


Aku tak bisa membagi kepedihan ini kepadanya. Aku tidak bisa mengadukan hancurnya perasaanku padanya. Hanya kepada Roobb-ku, aku meminta kekuatan dan ketegaran.


Mataku terus terpejam, tapi air mata masih mengucur dan entah kapan mau berhenti. Jariku sibuk mengulur biji tabih, dan hatiku terus merapal kalimattullah.

__ADS_1


Hanya dengan begitu aku tenang, hanya dengan mengingat Allah aku sadar bahwa apa-apa yang terjadi padaku, baik dan buruknya adalah atas ridho-Nya.


Tidak ada yang salah dan patut disalahkan. Semuanya terjadi atas dasar garis takdir Yang Maha Mengetahui segalanya.


__ADS_2