Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Hadiah Spesial


__ADS_3

Belum selesai Rio mengeluarkan semua isi kardus, hidungku mulai menunjukkan aksi protesnya. Aku memang tidak tahan terlalu lama berada di tempat yang berdebu. Hidungku akan bereaksi dengan bersin tiada henti.


Menyadari bersinku yang tidak kunjung berhenti, Rio menyuruhku untuk kembali ke kamar. Sementara dirinya berjanji akan menyusulku setelah membereskan kembali barang-barang yang telah ia buat berpindah dari tempatnya semula.


Kuraih tisu kering yang ada di atas nakas untuk membuang ingus yang mengganggu kenyamanan hidungku mengambil oksigen. Setelah dirasa hidungku kembali bersih. Kini tanganku beralih meraih minyak angin hirup varian mint yang aku simpan di dalam laci. Kubuka penutup stik aroma therapy itu lalu menghirupnya pelan.


PLONG


Seketika rongga hidungku merasakan hawa dingin sekaligus segar yang berasal dari aroma therapy. Sumbatan yang sempat menghalangi laju oksigen ke dalam paru-paru kini sudah hilang. Terusir bersamaan dengan masuknya aroma semriwing yang aku hirup.


Aku kembali menyimpan aroma therapy itu ke dalam laci tepat saat Rio masuk ke dalam kamar. "Sudah hilang bersinnya, Sayang?" tanya Rio seraya berjalan mendekati sofa.


"Alhamdulillah ... Sudah Abi ...."


"Kemari Sayang, ada sesuatu untukmu." Aku mengernyit. Sesuatu? Sesuatu semacam apa yang dia maksud? Aku baru menyadari kalau satu tangan suamiku sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya.


"Abi akan memberi umi hadiah?" tanyaku saat tubuh kami hanya berjarak satu jengkal saja.


"Ya. Hadiah spesial," ucapnya dengan senyum jahil. Aku curiga melihat senyumannya yang tak terlihat manis itu.


"Hadiah spesial?" Netraku berusaha mengintip sesuatu yang tengah ia sembunyikan di balik tubuhnya. Tapi gagal, aku tidak bisa melihat apapun dengan mudah.


"Sabar dong, Mi ... akan Abi tunjukkan."


Daaaannn .... Tadaaaaa .....


Sebuah lingerie berbahan satin berwarna merah maroon terpampang di hadapan wajahku. Apa ini? Aku belum pernah melihat pakaian seperti ini sebelumnya.


"Apa ini?" tanyaku dengan polos pada suamiku.


"Baju tidur untuk Umi," jawabnya dengan wajah sumringah.


"Baju tidur? Apa tidak kedinginan kalau tidur dengan pakaian yang kurang bahan ini, Bi?" Rio tergelak mendengar ucapanku. Padahal tak jarang saat kelelahan selesai beradu boxing dengannya aku hanya tidur berselimut tubuh suamiku dan badcover saja hingga pagi.


"Coba Umi pakai. Abi penasaran ... Cantikkah istri Abi jika memakai pakaian kurang bahan ini?" Rio menyerahkan lingerie itu ke tanganku. Serta mendorong tubuhku agar segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menjajal pakaian kurang bahan itu.


Di dalam kamar mandi aku justru kebingungan. Bagaimana aku harus memakainya? Mana yang membedakan antara bagian depan atau belakang? Aku menjajalnya hingga berkali-kali melepas pasang pakaian itu ke tubuhku. Hingga menemukan pemandangan paling cocok menurutku.

__ADS_1


"Mungkin seperti ini memakainya," ucapku sendiri di depan cermin sembari mematut diri.


Aku keluar dengan tak percaya diri. Pakaian ini sepertinya memang belum selesai dibuat. Aku menyebutnya sebagai barang gagal. Sebab bagiku pakaian ini tidak layak jual sama sekali. Seumur hidup aku baru sekali ini melihatnya dan langsung mencoba memakainya.


Aku membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan, bahkan sampai tak menimbulkan suara. Kulihat Rio tengah membuka lembaran-lembaran buku di tangannya. Suamiku nampak serius. Dan aku sungguh tidak punya nyali untuk menunjukkan penampilanku ini.


Kain ini hanya mampu menutupi bagian pinggulku hingga satu jengkal ke bawah jaraknya. Selebihnya terumbar bebas tanpa apapun menutupinya. Sementara bagian dadaku, bahkan setengah bagian gunung kembarku harus keluar tanpa pagar. Dan parahnya pakaian ini bisa langsung melesat kebawah terlepas dari tubuhku hanya dengan menarik satu tali yang melingkari leherku.


Aku tetap diam berdiri berharap suamiku tidak sadar dengan kehadiranku ini. Dengan berjinjit aku memutar tubuhku untuk kembali masuk ke kamar mandi dan melepaskan pakaian yang sangat tak nyaman ini. Tapi naas, netra Rio justru sudah menangkap basah tubuhku.


"Umi mau kemana?" tanyanya dengan melempar tatapan tajam padaku.


"Emmmm ... Tidak. Umi tidak ingin kemana-mana," elakku.


Sejenak Rio tak mengedipkan matanya sama sekali. Melihat lekuk tubuhku yang tergambar jelas menjiplak di pakaian berbahan satin yang kini melekat di tubuhku.


"Cantik," pujinya seraya meraih jemariku. Aku mengikuti tarikan tangannya yang membawaku ke dalam pangkuannya.


"Umi tahu tidak ini baju siapa?" Rio melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Aku menggeleng karena tidak tahu baju yang aku pakai ini milik siapa.


"Astaghfirullah. Kenapa Abi membiarkan umi berbuat tidak sopan begini pada ibu? Umi sudah kurang ajar memakai baju ibu tanpa izinnya. Tunggu, umi akan segera melepaskan baju ini." Saat aku akan berlari untuk kembali ke kamar mandi, tangan Rio langsung meraih pergelangan tanganku. Mencegah apa yang akan aku lakukan.


"Baju ini masih baru. Bahkan belum sempat ibu pakai. Karena ibu tidak menyukainya. Bapak yang menginginkan abi membawa baju ini. Abi menemukannya di lemari gudang. Abi pikir baju ini akan membuatmu semakin bersinar. Jadi, bawa saja."


"Sebenarnya bukan hanya ibu yang tidak suka dengan baju ini. Aku pun demikian. Tapi karena Abi meminta umi untuk mencoba baju ini, umi tidak menolak. Apapun akan umi lakukan demi kebahagiaan suami," terangku kemudian kembali ke dalam pangkuan suamiku.


"Bolehkah abi memulai pemanasan?" ucapnya saat kedua tanganku kukalungkan ke lehernya seakan menggoda iman suamiku.


"Lakukanlah, umi dengan senang hati menerimanya."


Rio meraba pelan kedua balon air yang kenyal tepat di depan wajahnya. Dengan sengaja jemarinya menyentuh kutil yang menempel permanen di bagian depan balon air milikku. De*sahan kecil lolos dari bibirku.


Tak puas hanya mendengarku mende*sah kecil, Rio membuka pagat yang menutupi setengah bagian balon airku. Kini semua bagian balon air terlihat jelas di hadapannya. Nada lenguhanku naik satu oktaf saat lidahnya menggocek kutilku. Hawa panas merambat begitu cepat ke seluruh tubuhku.


Tidak puas dengan menikmati dua balon air yang terasa begitu kenyal. Rio mengangkat kain yang panjangnya tak seberapa menutupi area terlarangku. Kemari nakalnya bersafari di dalam segitiga bermudaku.


Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Pantas jika makhluk di jagat raya ini menyebutnya sebagai surga dunia.

__ADS_1


Kejadian tak terduga datang tiba-tiba. Salah satu ART di rumah kami masuk untuk mengantar air minum. Sontak aku terperanjat dan hampir kehilangan keseimbangan. Untung saja Rio segera menangkap tubuhku.


"Letakkan saja di nakas, Mbok. Dan tutup mata si Mbok saat akan kembali. Istriku malu jika kecantikannya ini terlihat oleh orang lain selain suaminya." Rio bisa tetap tenang padahal kami sudah tertangkap basah seperti ini. Sungguh aku malu sekali. Sampai-sampai aku tidak berani memalingkan wajahku pada si mbok.


"Baik Mas," jawabnya dan segera pergi meninggalkan kamar kami setelah dua gelas air ia letakkan di atas nakas.


Si mbok bahkan benar-benar menuruti apa yang Rio minta padanya. Beliau kembali dengan menutup matanya rapat. Bahkan rela berjalan dengan meraba-raba tembok agar bisa cepat keluar.


Aku mencubit hidung suamiku saat pintu kembali ditutup. "Kenapa? Malu?" tanyanya dengan jahil.


"Besok-besok kunci pintunya agar hal seperti ini tidak terjadi lagi," ucapku.


"Siap Komandan." Rio menyuruhku berjalan ke tempat tidur. Aku cukup bingung, biasanya dia langsung menggendongku. Bukan menyuruhku berjalan sendiri seperti ini. Alangkah terkejutnya aku saat langkahku sampai di depan ranjang, Rio menarik tali yang melingkari leherku. Dan seketika ....


BRAAAHH


Pakaianku jatuh ke lantai. Tubuhku tak lagi tertutupi oleh apapun kini. Aku seperti bayi yang baru lahir. Tak berselimut apapun alias telan*jang bulat. Rio yang ternyata membuntuti langkahku langsung membopong tubuhku dan membawaku kembali merengkuh surga dunia.


*


*


*


Sedangkan keadaan di luar berubah ricuh sejak sekembalinya salah satu Mbok ART yang melihat kejadian gerhana bulan di kamar majikannya.


"Ada apa Mbok? Kok pada belum tidur?" tanya Dhanu yang tak lain adalah bapak mertuaku.


"Anu, Pak. Saya tidak sengaja melihat gerhana bulan saat mengantar air minum ke kamar Mas Rio," ucapnya dengan sedikit terkekeh.


"Benar-benar bandel mereka berdua." Bapak mertuaku itu menggeleng tidak percaya dengan apa yang kami lakukan. Padahal jelas-jelas dokter sudah meminta kami berpuasa hingga usia kehamilan empat bulan.


"Maklum, Pak. Mas Rio sama Mbak Indy kan lagi harmonis-harmonisnya. Pasti tiap malam wajib bulan madu, Pak," timpal salah seorang lainnya yang juga nampak bahagia dengan kabar gerhana bulan yang tak sengaja rekannya saksikan.


"Ya sudah. Kalian pura-pura saja tidak tahu atau lupa dengan kejadian ini. Bisa-bisa menantuku malu karena sudah tertangkap basah oleh kalian." Laki-laki paruh baya itu langsung naik kembali ke kamarnya setelah mengambil air minumnya.


Dan saat melewati kamarku, beliau kembali menggeleng mengingat aku dan Rio yang tidak patuh peraturan dokter.

__ADS_1


__ADS_2