Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Suamiku Kembali


__ADS_3

Kami larut dalam tangis. Banyak sesal yang Rio tumpahkan dalam pelukan ini yang masih terasa asing. Aku menyudahinya lebih dulu, mengusap air mata yang membanjiri wajah suamiku. Sudah lama sekali, sejak kami menjadi orang asing, baru kali ini aku melihatnya dengan jarak yang sangat dekat dan bahkan aku bisa menyentuh wajahnya.


Ingatannya belum kembali, tapi suamiku telah mengetahui bahwa aku adalah istrinya. Aku bukanlah orang asing yang tak ia kenali sama sekali.


"Maafkan aku," ucapnya lagi.


"Sudahlah, Abi tidak perlu terus meminta maaf. Umi suah ikhlas."


Dia menatapku lekat. Untuk pertama kalinya aku merasa gugup ditatap seperti itu oleh suamiku. Aku merasa perlahan dia kembali. Orang yang selalu memberiku senyum hangat, pelukan mesra, serta untaian kata manisnya, aku rindu.


"Apa panggilan sayangku padamu? Apakah 'Umi'?"


Aku langsung menghambur ke pelukannya lagi dengan penuh haru. Dia cuma menebak, bukan sebab telah ingat kenangan manis kita. Tapi aku begitu bahagia, mendengarnya memanggilku dengan panggilan sayangnya padaku yang telah lama tidak menggema dari bibirnya.


"Apa benar?" Aku mengangguk cepat.


"Alhamdulillah, aku akan memanggilmu begitu mulai sekarang."


Dia memaksaku menatap wajahnya lagi, dan aku mengendurkan pelukanku. "Jangan menangis lagi, satu air mata yang luruh ke pipimu, maka satu penyesalanku akan bertambah. Aku sungguh minta maaf telah banyak menyakitimu, Umi."


"Ya Allah ... Terimakasih, Engkau telah mengembalikan suamiku," gumamku dalam hati.


Tiba-tiba, saat kami sedang menikmati serantang nasi beserta lauk sederhana yang terasa sangat enak karena kami bergantian menyuapi. Lili datang. Mungkin dia tidak tahu kalau Rio bersamaku. Dia cukup terkejut dan tercekat melihat kemesraan kami.


"Maaf, Ndy. A-aku nggak berniat mengganggu," katanya sembari menurunkan langkahnya berniat mengurungkan niatnya menemuiku.


"Tidak apa, ada apa, Li?" Aku mendekatinya yang belum sepenuhnya sampai di lantai dua.


"Ada pembeli yang menanyakan model baru," lapornya.

__ADS_1


"Oh, maaf, aku lupa memberitahu. Model barunya belum aku keluarkan, masih di dalam gudang."


"Aku akan panggil Mbak Nia untuk membantu mengeluarkannya dari gudang." Lili bergerak cepat sekali ingin meninggalkanku. Tapi aku mencegahnya dan menyeretnya mendekat ke Rio yang duduk di sofa.


"Ada apa?" Dia kebingungan karena kali ini aku sangat memaksanya bergabung.


"Dia sudah tahu aku istrinya."


"Alhamdulillah, jadi ingatan Rio sudah kembali? Alhamdulillah ...." Lili terus mengucap syukur dan menghambur memelukku.


"Ingatanku belum kembali," ucap Rio tiba-tiba.


Lili langsung melepaskan pelukannya dari tubuhku. "Maksudnya?" Dia nampak sangat kebingungan.


"Aku memaksa Indy untuk jujur. Perasaanku mengatakan bahwa yang terjadi setelah aku kehilangan ingatan adalah salah. Aku kehilangan rasa nyaman terhadap pasangan. Yaitu kamu, perempuan yang kuanggap sebagai kekasihku. Aku tidak lagi merasa bahwa kamu adalah orang yang aku sayangi. Maaf, aku juga membuatmu terjebak dalam kondisi yang sulit."


Lili segera pergi, dia teringat bahwa di bawah ada pembeli yang sedang menunggu model baju terbaru. Setelah ruangan kembali hanya diisi oleh aku dan Rio, laki-laki itu langsung memelukku lagi. Membawaku ke dalam kenyamanan.


"Rasanya memang sangat berbeda. Aku tenang berada di dekatmu. Memelukmu seperti ini, rasanya sangat damai." Aku tidak bergerak sama sekali. Aku sungguh menikmati moment ini. Moment yang kukhawatirkan hanya sebuah mimpi di siang bolong.


"Umi," panggilnya tiba-tiba.


"Ya," jawabku lalu melepas pelukan.


"Boleh aku melihat wajahmu?" Aku tercekat. Benar, kapan terakhir kali dia melihat wajahku? Aku teringat saat wajahku basah disiram air mata di hari itu, di hari saat aku kehilangan anakku. Dia melihat wajahku yang hancur.


Aku mengangguk seraya melepas cadar yang sedari tadi menutupi wajah. Begitu wajahku tak tertutupi lagi, dia meraih daguku. Menangkup wajahku dengan telapak tangan hangatnya. Kemudian kecupan-kecupan dari bibir lembutnya mulai kurasakan di setiap kulit wajahku.


"Masya Allah, bidadari abi."

__ADS_1


Dia memujiku? Benarkah? Tidak salahkah yang aku dengar tadi? MasyaAllah aku sangat bahagia mendengarnya.


"Ada yang ingin abi ceritakan," sambungnya. Binar mataku berubah memancarkan rasa penasaran. Dia tahu jelas.


"Nanti saja, saat kita di rumah."


Aku benar-benar merasa dia telah kembali. Dia berbeda sekali dari Rio yang kemarin. Rio yang tak mengenali istrinya dan Rio yang lupa ingatan.


Kini dia seperti laki-laki yang sangat mengenaliku. Laki-laki yang mengingat semua kenangan manis kita. Dan Laki-laki yang biasa menggodaku hingga membuat pipiku merona.


Hallo, temen-temen MCS2


Aku mau kasih PENGUMUMAN


Tanggal 1 Februari aku akan mengadakan Give Away


Siapapun bisa ikutan, hadiahnya berupa pulsa/voucher


Heheh.. nggak besar tapi InsyaAllah sedikit bermanfaat buat temen-temen semua


Yang mau ikutan bisa follow Ig aku @ind_sychd


Karena aku akan share pertanyaan di Ig


Pertanyaannya mudah, seputar novel MCS2 dan novel Can't Move On yang ada di platform Novel Life


Yuk ikutan......


Ada hadiah pulsa untuk 5 orang pengirim jawaban benar tercepat

__ADS_1


__ADS_2