
Ingin rasanya aku lari dari tempat ini. Tapi kakiku yg sudah mulai bergetar ini justru menginginkan sebaliknya. Aku tetap berdiri menahan tubuh yang melemas. Hingga rasanya sudah tidak sanggup lagi.
Telapak tangan mengayun gagang pintu dengan sendirinya. "Assalamualaikum," ucapku dengan menahan gemetar di bibir.
Semuanya menoleh, melihat ke arahku yang masuk tanpa permisi. Begitu kubalikkan wajah setelah menutup pintu, raut kecewa kudapati di wajah Rio. "Wa'alaikumsalam," jawab serempak bapak mertuaku dan Lili.
Sedang Rio menjawab terjeda sedikit dari mereka. Itupun terdengar sangat malas. "Ndy!" pekik Lili yang hampir menghampiriku jika saja Rio tidak menahan lengannya.
Suamiku telah berani menyentuh perempuan lain tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dia sudah benar-benar lupa akan batasannya. Tapi aku mengerti dan aku memaafkan kekhilafahannya.
"Ndy?" Aku tahu, Lili juga sedang dirundung rasa bersalah saat ini. Ada sebuah penjelasan yang tak bisa diucapnya lewat kata-kata. Aku mengangguk tanda mengerti apa yang ingin ia jelaskan. Tentu agar Lili merasa lebih tenang. Dan terus memikirkan perasaanku. Karena saat ini yang tengah menjadi prioritas adalah kepulihan Rio.
"Kenapa datang lagi?! Kita tidak saling kenal meski bapak mengatakan kau itu saudara kami. Aku tidak suka melihatmu terus datang." Aku terus diusir olehnya tanpa ragu.
"Bi, dia juga temanku. Aku menyuruhnya datang ke sini karena kami akan mengerjakan tugas bersama."
DEG
"Bi?" batinku. Jadi, Lili juga pernah memanggil suamiku dengan sebutan yang sama? Lalu, yang disebut 'Umi' dalam mimpinya berarti, Lili? Bukan diriku?
Ya Tuhan ... Apakah benar ini hanya cobaan? Atau Engkau berniat menyatukan mereka kembali? Benarkah aku hanya pemisah sementara hubungan mereka? Mungkinkah mereka memang benar-benar ditakdirkan berjodoh? Lalu bagaimana nasib bayiku?
Sebulir air mata hampir jatuh jika aku tidak segera mengusirnya dengan melengkungkan sudut mataku. "Benar, aku hanya ingin menemui Lili. Tapi jika mengganggu, aku akan menunggu di luar saja."
__ADS_1
"Tidak perlu, kamu bisa tetap di sini." Lili menahan lenganku.
"Bi, biarkan temanku ini di sini. Dia sedang hamil, lihat, tidakkah kamu kasihan padanya?" Lagi, Lili berusaha membelaku agar aku tetap bisa berada di sana.
"Ya, baiklah. Tapi jangan berdiri di sini. Sana, duduk di sofa." Suaranya masih saja ketus. Tapi aku sangat bahagia bisa melihatnya duduk tegak tanpa dibantu siapapun.
Rio terus mengumbar senyum manisnya. Jemarinya bahkan tak henti membelai punggung tangan Lili. Meski tak rela, aku harus kuat melihatnya. Suamiku pasti akan kembali suatu saat nanti.
Aku hanya perlu bersabar. Melihatku yang terus meratap kemesraan di ruangan itu, bapak mertuaku mendekat. Beliau duduk bersamaku di sofa.
"Sudah makan?" tanyanya dengan lengkungan bibir yang khas.
"Sudah, Pak." Beliau mengangguk lega.
"Besok Rio sudah boleh pulang." Sedikit berbisik tapi aku bisa mendengarnya. "Alhamdulillah," ucapku penuh syukur. Beliau tersenyum lebih indah lagi mendengar jawabanku.
Tak lama setelahnya, Adzan maghrib terdengar. "Kita jamaah di sini saja," kata bapak mertuaku.
Secara bergantian kami mengambil wudhu di toilet. Setelahnya kami mengambil posisi masing-masing dengan bapak mertuaku sebagai imamnya.
"Allahuakbar." Kupasrahkan segala ketentuan yang telah digariskan Yang Kuasa hingga aku bisa sampai di titik ini.
Tanpa bisa lagi kubendung, sebulir air mata justru mengundang rekan-rekannya yang sedari tadi menjejal ingin meluap ke permukaan.
__ADS_1
Kututup rapat wajahku yang memerah dengan telapak tangan. Mereka sedang khusuk dengan doa dan pengampunan masing-masing. Aku akan berusaha menetralisir perasaanku sebelum mereka selesai memanjat doa.
Tak kusangka, Rio memperhatikanku cukup lama. Rupanya dia tidak memanjatkan doa. Aku bisa melihat tatapannya dari sudut mataku. Entah apa artinya tatapan itu. Aku segera mengusap wajahku dan kembali melengkungkan bibir mataku agar tidak ada yang melihat kesedihanku yang luruh.
"Kau, kenapa tidak kembali saja dengan suamimu? Apa kalian tidak punya rumah?" Untuk pertama kalinya Rio mau bicara denganku.
"Suaminya sedang dinas di luar kota. Dia menitipkan Indy pada kita. Kau pasti lupa itu." Bapak mertua langsung menyahut.
"Bagaimana bisa seorang suami meninggalkan istrinya di tempat orang lain dengan tenang? Suamimu sungguh tidak bertanggungjawab," sambung Rio.
"Bukan tidak bertanggungjawab, Nak. Tapi apa tega membawa istri yang sedang hamil begini dalam perjalanan yang tidak dekat? Tentu kasihan." Bapak mertuaku terus menyanggahnya.
"Tadi kenapa kau menangis?"
DEG
Dia melihatku menangis? Ingin rasanya aku menjawab, "Aku menangis sebab merindukanmu." Tapi lidahku kaku.
"Menangis?" Wajah bapak mertuaku dan wajah Lili tidak ada bedanya. Mereka menatapku penuh pertanyaan.
"Ah, Tidak. Aku bukan menangis. Tapi, aku kelilipan." Astaghfirullah, aku berbohong.
"Kalau kelilipan kenapa cadarmu basah kuyup? Mengaku saja, kau pasti merindukan suamimu, kan? Kalau aku jadi dirimu, aku pasti akan menyusulnya." Rio memberikan ide yang tak bisa aku pakai.
__ADS_1
"Sudah-sudah, jangan bahas itu. Lebih baik kamu istirahat. Jangan sampai kepulanganmu besok ditunda lagi."
Rio membaringkan tubuhnya dengan ringan tanpa dibantu. Dari pengamatanku, sepertinya tubuh suamiku memang sudah sehat. Tapi bagaimana dengan ingatannya? Kapan ia akan sadar seperti sedia kala?