Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Dia Pulang


__ADS_3

Pukul sepuluh tepatnya Rio baru terlelap. Tangannya terus bertaut dengan telapak tangan Lili. Beberapa kali Lili memalingkan wajahnya padaku saat duduk di samping ranjang pesakitan. Ia tahu, dia telah menyakitiku.


Dengan cepat Lili menyeretku ke luar ruangan. Gadis itu sudah tidak sabar lagi ingin bicara denganku yang nampak ikhlas menerima segala yang aku lihat.


"Kamu sudah gila? Kamu bisa saja berteriak histeris di depannya agar ingatannya cepat kembali. Kenapa kamu memilih jalan ini?" Dia mencecarku. Bukan lagi aku yang menangis. Tapi kini justru Lili yang bersimpuh meminta ampunan di hadapanku.


"Bangun, Li. Aku tidak menyalahkanmu. Sumpah, Demi Allah, aku ikhlas. Hanya kamu yang bisa membantunya pulih." Aku meraih bahunya yang kecil. Tidak ada orang selain kami di tempat itu. Lorong rumah sakit nampak sangat sepi. Mungkin semuanya sudah tidur.


"Aku Ndak bisa, Ndy. Aku berdosa," katanya dengan derai air mata.


"Kamu sama sekali tidak menanggung dosa apapun, Li. Percayalah."


"Tidak menanggung dosa apapun? Dia bukan mahramku!" tegas Lili. "Dia suamimu," lanjutnya yang kini menatapku dengan iba.


"Aku yang memintamu melakukan semua ini. Demi Allah, jika ada dosa yang disebabkan suamiku, aku yang akan menanggungnya."


"Kamu gila, Ndy." Gadis itu terkulai lemas. Duduk tak bertenaga di deretan kursi tunggu. Aku pun ikut duduk bersamanya.

__ADS_1


"Jika ingatannya tidak akan pernah kembali, aku ikhlas." Lili membelalak mendengar ucapanku.


"Apa maksudmu?! Jangan berputus asa. Baiklah jika memang kamu menginginkan jalan seperti ini. Aku akan membantumu, tapi tolong jangan katakan itu lagi. Maafkan aku, Ndy. Maaf." Aku sungguh tak tega melihat raut bersalah di wajahnya.


Semua yang terjadi sudah menjadi garis tulis Yang Kuasa. Bukan sebab Lili ataupun Rio. Diantara mereka tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi. Apalagi aku.


Kami saling memeluk. Sudah tak ada lagi tangis yang keluar dari sudut mataku. Sakit dalam dada tak mampu lagi memeras air mata.


Aku melerai pelukan begitu Lili merasa lebih tenang. "Tetaplah di sini, aku akan pulang untuk menyambut kepulangannya besok." Terasa telapak tangan kecil itu menahanku. Tapi aku melepaskannya paksa dan berjalan gontai menuju luar gedung.


Malam sudah semakin larut. Aku yakin akan sulit menemukan taksi di sekitaran rumah sakit. Tapi aku harus bisa sampai di rumah. Esok suamiku akan pulang. Dan malam ini akan aku persiapkan penyambutan kepulangannya.


Hingga aku bisa duduk dengan nyaman di jok empuk taksi yang sedang melaju menuju rumah. Sesampainya di rumah, para pekerja di rumah itu menyambutku.


Tak terkecuali bapak dan mama. Rupanya mereka menungguku di sana. "Ndy." Mama langsung memelukku dengan erat. Lagi-lagi bukan air mataku yang luruh. Justru mama yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan.


"Indy kuat kok, Ma," bisikku agar Mama cepat tenang.

__ADS_1


"Mama tahu, Ndy. Kuat ya, Nduk." Beliau mengecup dahiku. Dengan terpaksa aku sembunyikan sakit di dadaku dengan melengkungkan sudut mata.


"Besok Rio pulang. Boleh Indy minta tolong?" Secara bergantian bapak dan mama menatapku bingung.


"Pak, Ma ... pulanglah."


"Ndy?" Bapak mendekat dan memeriksa wajahku yang tertutup cadar.


"Kalian tentu sudah tahu kalau suamiku sedang hilang ingatan. Aku saja tidak diingatnya. Mungkin sebaiknya, Bapak dan Mama tidak menemuinya sekarang. Rio sangat sensitif dengan orang-orang baru yang dilihatnya dalam ingatannya saat ini," terangku mencoba memberikan pengertian.


"Baiklah, Ndy. Bapak dan mama akan pulang. Jaga dirimu dan bayimu. Kabari bapak jika kamu membutuhkan sesuatu."


Aku mengangguk. Setelah mengantar kepulangan mereka dari teras rumah, aku kembali ke kamarku. Sengaja aku tidak meminta bantuan ART untuk membenahi kamar. Mereka pasti sudah lelah dengan pekerjaan pagi hingga sore.


Mula-mula aku mengganti kain sprei. Kemudian mengepel lantai juga mengelap nakas yang berdebu.


Setelah itu kuboyong semua bajuku di lemari ke kamar lain yang akan aku tempati selama suamiku tak menganggapku istrinya.

__ADS_1


Semua barang-barang milikku sudah berpindah tempat. Kamar itu sudah kembali menjadi kamar Rio seutuhnya. Tidak ada lagi barang-barang milikku berbaur dengan barangnya.


Aku menghela napas lega kemudian mematikan lampu hingga ruangan yang sudah amat bersih itu menjadi gelap gulita.


__ADS_2