
Seharian aku tak keluar kamar. Makan siang dan makan malam ku diantar oleh ART ke kamarku. Rasanya tubuhku seperti remuk. Tulang-tulang dan persendianku terasa ngilu.
Barulah pukul 11 malam, saat aku pikir semua orang telah tertidur, aku keluar dari kamar. Lampu utama masih menyala, padahal biasanya lampu itu ikut dipadamkan saat semua penghuni tidur.
Kira-kira siapa yang masih terjaga? Mungkinkah bapak mertua?
Aku tetap menuruni anak tangga dengan tenang, sembari menelisik ke segala arah. Sayup-sayup kudengar suara merdu yang tengah melantunkan ayat suci. Itu suara Rio.
Aku tersenyum tipis, aku sudah sangat rindu dengan suaranya yang begitu merdu dan fasih.
Kulepas sandalku dan berjalan dengan hati-hati, sepertinya Rio tengah berada di ruang tamu. Aku berjalan ke sana. Mengintip punggungnya dari balik dinding penyekat.
Ya Allah ... Hatiku seketika menjadi sejuk. Aku mengusap perutku saat denyutan-denyutan kecil timbul. Sepertinya bayi itu juga mendengar suara merdu abinya.
"Ya ... Itu suara abi, Sayang." Batinku.
Cukup lama aku berdiri di sana. Dan tiba-tiba lantunan itu dihentikan.
"Giliranmu," ucap Rio.
"Giliranmu? Apa Rio mengetahui keberadaanku?" Jantungku berdebar tidak karuan. Aku harus segera pergi sebelum Rio membentakku lagi. Tapi belum genap satu langkah aku meninggalkan dinding sandaranku, suara merdu yang lain menyahutinya.
"Sudah malam, Abi harus istirahat. Kita lanjutkan mengajinya besok saja." Lili. Gadis itu masih berada di sini? Dan mereka sedang bersama untuk mengaji? Ya Allah ... Kenapa aku merasa sangat iri?
Segera aku melangkah meninggalkan mereka. Hatiku memanas, aku cemburu ... Sangat cemburu.
Di dalam kamar, aku sedikit mengadu pada bayiku. Aku tidak bisa menahan kecemburuan ini. "Dulu, Abi juga sering mengaji, selepas sholat. Dan umi membaca buku. Tenang saja, saat ingatan Abi sudah kembali nanti, kita akan mengaji sama-sama. Umi tidak akan membaca buku lagi, umi juga akan ikut mengaji. Membaca bukunya nanti saja."
Mungkin aku terdengar kekanakan saat ini, tapi aku rasa itu wajar-wajar saja. Hormonku sedang tidak stabil, aku sedang hamil.
__ADS_1
Esok paginya, pagi-pagi sekali aku sengaja ke dapur. Dan aku melihat Lili sudah lebih dulu berada di sana.
"Li ...," sapaku sembari berpura-pura mengambil susu di dalam kulkas.
"Pagi, Ndy. Aku menginap." Dia menyunggingkan senyum manisnya.
"Ya, aku tahu," batinku. Perasaan macam apa ini? Bukankah aku yang memintanya sendiri untuk membantu Rio mengingat kembali semua yang sedang terlupakan? Kenapa aku mencemburui Lili?
"Ndy." Dia menepuk bahuku saat tanganku tak juga menyentuh kardus susu.
"Kamu sakit?" lanjutnya.
"Tidak." Rasa itu tak bisa aku sembunyikan, aku sedikit ketus padanya. Maafkan aku, Li.
"Duduklah, Ndy." Lili menyeretku ke sebuah kursi yang berada di dapur. Letakkan di meja bar.
"Ada apa?" Aku langsung penasaran. Jantungku berdetak lebih kencang, aku takut, dia mengetahui bahwa aku tengah mencemburui-nya.
'Kamu sedang berbohong untuk menghiburku atau apa, Li? Jelas-jelas semalam aku melihatmu mengaji dengannya.' Aku tetap mendengarkannya.
"Semalam, Rio mengajakku mengaji. Dan aku lebih memilih membaca buku. Aku sedang haid. Tapi tiba-tiba, dia mengatakan 'aku seperti melihat kebiasaan ini, tapi siapa? Yang mempunyai kebiasaan membaca saat aku mengaji?' begitu, apa mungkin itu kebiasaanmu?"
"Ya. Itu kebiasaanku." Sebenarnya aku bahagia mendengar itu, tapi entah kenapa, aku masih dilimbungi perasaan cemburu.
"Itu tandanya, tidak akan begitu sulit mengembalikan ingatannya, Ndy. Aku tahu caranya." Aku mengernyit.
"Aku hanya perlu menirumu," lanjutnya.
"Meniruku?"
__ADS_1
"Ya. Kebiasaannya tidak berubah, Ndy. Hanya ingatannya tentang kalian saja yang hilang, kita harus menuntunnya agar mengingat semua tentang kalian. Dengan mengulangi kebiasaan-kebiasaan kalian. Bagaimana menurutmu?" Dia meminta pendapatku dengan antusias.
"Ya, aku setuju saja." Dan aku membalasnya dengan pasrah. Tak seantusias dirinya.
"Apalagi yang biasanya kau lakukan? Hari ini aku akan mencobanya, doakan aku, Ndy. Aku sungguh ingin membuat kalian segera bersatu lagi."
"Aku selalu mendoakanmu." Terpaksa aku menyimpulkan senyum tipis untuknya.
'Benarkah yang kau maksudkan itu? Atau kau sedang menikmati peran? Katakan yang sejujurnya, Li.' Batinku tetap saja meragukannya.
"Hari ini aku visit ke toko. Aku bosan seharian di kamar." Aku kembali merengek padanya, seperti kebiasaan yang lalu-lalu. Saat didekatnya, aku merasa seperti sedang bersama mama.
"Kamu boleh ke toko, tapi jangan lakukan apapun di sana, Ndy. Duduk di meja kasir saja." Dia mewanti-wanti diriku, persis seperti mama yang sedang mengingatkanku.
"Mau kubawakan bekal?" Lili menawarkan.
"Tidak usah. Aku berangkat sekarang, Li. Sebentar lagi Rio akan turun untuk sarapan, sampaikan salamku pada bapak mertua."
Sesudah itu aku hanya kembali ke kamar untuk mengambil tas dan kunci motor. Oh ya, aku lupa menceritakan hal ini. Kunci motorku yang selama ini disembunyikan oleh Rio telah aku temukan. Saat aku membereskan semua barang-barangku dari kamar itu. Semua sudutnya hampir tak ada yang tidak tersentuh, dan aku berhasil menemukan kunci motor kesayanganku.
Aku sedikit ragu sebenarnya, sudah sekian lama tak menyentuh benda kesayangan itu. Tapi aku yakin, aku tidak lupa bagaimana cara menggunakannya.
Perlahan aku melajukannya. Sedikit takut untuk menambah kecepatan karena aku tak duduk sendirian di atas jok motorku. Aku bersama bayiku juga.
Memasuki jalan raya, gamisku mulai tersapu angin yang cukup kencang. Angin yang berasal dari kendaraan lain. Aku membuka kaca helm, aku suka udara pagi yang sejuk.
Saat sebelah tanganku hendak membuka kaca helm, aku tak melihat bahwa di depan sana, yang jaraknya sudah teramat dekat denganku, ada lubang yang tergenang air.
BRUUKKK
__ADS_1
Aku jatuh bersama motor kesayanganku yang sudah lama tak aku kendarai itu. Kendaraan lain yang melaju di belakangku, seketika berhenti. Beruntung tubuhku yang terlempar ke tengah jalan tak dilindas mobil-mobil itu.