
"Argh!" Rio mengerang kesakitan saat punggungnya diamuk besi keras.
Pelukannya semakin mengerat di tubuhku. Aku tidak bisa menolak dan menyingkirkan tubuhnya yang bertumpuk dengan tubuhku.
Demi Allah, aku tidak merasa sakit sedikitpun. Aku justru sangat mengkhawatirkan kondisinya yang tertimpa rak besi. Aku menatap wajahnya yang memerah akibat menahan sakit.
Kasihan, bisikku dalam batin. Namun aku tidak bisa melakukan apapun untuknya selain berteriak meminta pertolongan. Bang Raka dan mama berteriak-teriak dengan kencang memanggil bapakku dan bapak mertuaku.
Rak itu cukup berat dan mustahil untuk diangkat oleh satu orang. Meskipun bang Raka laki-laki dan tenaganya cukup besar, tetap saja butuh bantuan orang lain untuk mengangkat rak besi yang roboh akibat kecerobohanku.
Bapak mertuaku nampak sangat panik melihat punggung putranya tertimpa rak. Tanpa aba-aba, bapak, bang Raka, dan mertuaku mulai berusaha membuat rak itu berdiri kembali.
Rio masih sempat membantuku menegakkan tubuhku yang sedari tadi tertindihnya. Padahal aku tahu, dia tengah menahan nyeri di bagian punggungnya.
"Punggungmu?" Aku menunjuknya dengan ragu.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir." Meski berkata tidak apa-apa, tapi aku mendengar desisan kecil di bibirnya.
"Nak, kalian tidak apa-apa?" Mertuaku nampak sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Tapi sepertinya, Rio sedikit mendapat cidera di punggungnya." Aku yakin, Rio tidak baik-baik saja. Bibir memang bisa berdusta, tapi hati tak semudah itu bisa dibohongi.
Aku bisa melihatnya. Suamiku tengah menahan sakit saat ini. Untuk pertama kalinya, dia menghindari pandanganku. Rio ingin menyembunyikannya dariku. Tapi aku tidak akan melepaskannya. Karena semua ini terjadi karena kecerobohanku.
"Ayo, ikut aku." Aku menarik telapak tangannya agar mau ikut denganku.
"Kemana?" tanyanya.
"Ikut saja." Kali ini aku benar-benar memaksanya.
"Kami permisi sebentar." Aku berpamitan kepada semua yang ada di ruangan itu. Mereka pun mengerti dan tidak menghalangiku dengan pertanyaan.
Aku membawa Rio masuk ke dalam mobil. Aku berniat untuk melihat seberapa parah luka yang telah aku hasilkan. Tapi bagaimana caranya? Aku malu jika harus meminta dia menunjukkannya padaku.
"Kok, diam? Kamu kenapa ngajak aku ke mobil?" Rio mulai bingung karena aku tidak juga mengujungkan niatku.
__ADS_1
"Apa boleh, aku melihat punggungmu? A-aku hanya khawatir kamu terluka." Setelah mengumpulkan energi, aku akhirnya memberanikan diri mengatakannya.
"Kamu khawatir?" Aku menjawabnya hanya dengan mengangguk pelan. Aku sudah kembali menjadi diriku yang tak berani menatap wajah suamiku.
"Kamu bisa melihatnya."
"Terimakasih."
Suamiku telah memberikanku izin. Tapi aku masih saja ragu untuk menyentuh kain yang menutup tubuhnya. Hingga Rio kembali menyadarkan aku dari keraguan.
"Tidak akan berdosa. Aku suamimu," ucapnya karena aku tidak kunjung menyentuh tubuhnya.
"Aku tahu."
Pelan aku menggulung kaos yang melekat di tubuhnya. Aku melihat dengan jelas sebuah guratan merah melintang di punggung suamiku.
Lembut kesentuh luka yang tercipta sebab kebodohanku. Rio sempat terkejut saat luka itu tersentuh jemariku.
"Maaf." Aku tak bisa lagi menahan bendungan air mataku yang akan segera meluap. Tes … satu bulir bening jatuh. Dan buliran lain pun seakan menyerbu wajahku.
"Kenapa menangis? Aku tidak apa-apa. Berhentilah menangis, Sayang. Aku baik-baik saja. Percayalah …." Rio meyakinkanku.
"Memang sakit. Tapi seketika hilang setelah tahu istriku ternyata mengkhawatirkan suaminya." Gombalnya.
"Ayo, kerumah sakit saja," pintaku setelah tangis mereda.
"Untuk apa? Itu cuma memar, tidak perlu ke rumah sakit." Rio terus mengelak.
"Kalau ada apa-apa dengan luka itu, aku tidak akan pernah maafkan diriku. Aku yang bersalah. Aku yang seharusnya tertimpa rak itu, bukan kamu."
"Aku ikhlas menggantikan posisimu. Sebab aku suamimu. Sudah menjadi kewajibanku melindungi istriku dari apapun yang berusaha menyakitinya. Jangan bersedih lagi, ya," bujuknya padaku.
"Sekali lagi, aku minta maaf." Aku tidak bisa lega begitu saja setelah melihat luka yang melintang dengan jelas di punggungnya.
"Sudah. Jangan bersedih, aku tidak suka." Senyum mengembang itu kembali tercetak di bibir Rio. Usapan lembutnya yang selalu ia daratkan di pucuk kepalaku juga menyusul.
__ADS_1
.
.
.
Aku terjaga karena mimpi buruk mengganggu tidurku. Kulirik jam yang tergantung di dinding kamar. Baru pukul 11 malam, mungkin rasa lelah dan kejadian siang tadi membuatku tidur tak tenang. Hingga mimpi buruk menyelinap masuk mengusik tidurku.
Aku menyandarkan tubuhku karena tak bisa lagi memejamkan mata. Tak disangka, Rio ternyata tengah kesulitan mengompres luka memar di punggungnya.
"Boleh aku bantu?" ucapku seraya mendekat kepadanya.
"Apa aku mengganggu tidurmu? Apa aku berisik?" Dia selalu khawatir mengganggu tidurku. Padahal aku terbangun karena mimpi buruk, bukan karenanya.
"Tidak. Aku memang tidak sengaja terbangun. Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Aku tidak mau mengganggu istriku yang lelah."
"Kemarikan kain itu. Aku yang menoreh luka di punggungmu, maka seharusnya aku yang bertanggungjawab untuk mengobatinya."
Sebelum Rio memberikan kain kompresan, aku lebih dulu mengambilnya dari genggaman suamiku. Dia seperti tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan untuknya.
Wajar jika Rio ragu padaku. Sebab selama ini aku tidak pernah mencurahkan perhatianku seperti sekarang ini padanya. Aku tidak pernah merasa khawatir atas kondisinya seperti saat ini.
Aku memeras kain yang telah aku basahi dengan air hangat. Kemudian menempelkannya di memar yang masih sangat jelas menggurat.
Hanya ada keheningan diantara cahaya temaram yang berpendar di kamar kami.
"Kamu boleh tidur di ranjang. Sofa sepertinya hanya akan membuat luka ini semakin sakit."
Rio membalikkan badan dan mengubah posisi duduknya. Dia melihat wajahku dengan serius. Satu jemarinya mengangkat daguku yang selalu tenggelam.
*Jangan lupa tinggalkan LIKE DAN KOMENTAR*
*Klik LOVE untuk berlangganan novel MCS 2*
__ADS_1
*Beri VOTE DAN RATE sebagai bonus untuk Author*
*Thankyou.. *