
Aku terkejut saat tiba-tiba wajah di dalam foto yang sedang kupandangi dari galeri ponselku muncul dengan nyata di hadapanku. "Abi?" celetukku saat mendapatinya berdiri di pintu.
"Assalamualaikum, Sayangnya abi …," sapanya dengan wajah manis.
"Wa'alaikumsalam, bukannya Abi akan pulang dua jam lagi? Ini baru pukul 10, kenapa Abi sudah sampai di rumah? Apa Abi melewatkan kelas?" Aku curiga suamiku membolos dari kelasnya.
"Tidak Sayang … abi sudah mengikuti semua kelas hari ini. Hanya saja dua jam terakhir dosennya tidak hadir dan juga tidak meninggalkan tugas apapun. Sebagai ganti, minggu depan diadakan ujian. Jadi abi bisa pulang lebih awal," tuturnya dengan detail.
"Oh … seperti itu. Kalau begitu Abi bisa melanjutkan tidur, pasti masih ada kantuk yang tersisa karena semalaman Abi membakar sate 'kan?" Aku menepuk bantal empuk miliknya yang tepat berada di sampingku.
"Kenapa menyuruh abi tidur? Kalau tidak salah ada yang mengatakan sedang merindukan abi tadi." Sindirannya membuatku kembali mengingat ucapanku di dalam telepon.
"Emmmm … sebenarnya umi …." Belum genap aku menuntaskan kalimatku, Rio buru-buru memotongnya. "Sebenarnya bukan Umi yang merindukan abi. Tapi jagoan abi yang mendesak Umi untuk mengatakannya. Begitu bukan?" Begitu sambungnya.
"Ya …." Aku membenarkannya. Padahal aku juga tidak tahu pasti siapa yang sedang merindukannya. Aku … atau bayiku.
"Assalamualaikum … Jagoan." Dia menyapa janin yang bulan ini genap berusia tiga bulan dalam kandunganku. "Abi bawakan headphone untuk kamu. Supaya saat abi tidak ada di dekatmu, kamu bisa mendengarkan rekaman suara abi. Tendang saja perut Umi sekuat tenaga … Umi pasti akan langsung mengerti dan memasangkan headphone ini di perutnya." Rio melirikku yang tengah menatapnya lekat.
"Apa hanya dia yang mendapat hadiah dari Abi?" ucapku cemburu. "Untuk umi … tidak ada?" lanjutku.
"Emmm … sepertinya abi telah melupakan Umi. Maaf ya?" balas Rio dengan wajah penuh penyesalan. Rasa kesal tiba-tiba menyelubungi hatiku. Moodku seketika anjlok dan wajah ini kutekuk dalam. Aku enggan melihat wajah suamiku lagi.
"Lho, lho, lho … kok sedih, Umi kecewa karena tidak abi bawakan sesuatu? Atau Umi cemburu karena abi hanya membawakan hadiah untuk anak kita?" Ingin sekali aku menjawab, "dua-duanya, Abi …." Itupun disertai nada penuh penekanan.
Tapi nyatanya aku tak bisa megucap satu katapun. Kesal, kecewa, dan cemburu yang begitu kuat menguasai hatiku hingga aku tak mau lagi mengucap sepatah kata untuk menjawabnya.
"Maafkan abi, Sayang. Abi memang tidak membawa sesuatu apapun untukmu. Tapi, abi akan mengajakmu jalan-jalan." Aku mendongak, menatap kedua bola mata suamiku dalam-dalam. Berusaha mencari kebohongan atas ucapannya yang terlanjur kudengar. Tapi aku tak menemukan satupun kebohongan di sana.
"Benarkah Abi akan mengajakku keluar? Apa kita akan pergi jalan-jalan?" tanyaku untuk memastikan.
"Iya Sayang … ayo bersiap. Kita akan berangkat sekarang."
"Benarkah? Baik, umi akan bersiap dengan cepat. Abi tetap duduk di sini dan jangan berubah pikiran." Aku seperti anak ayam yang berbulan-bulan terkurung di dalam sangkar dan mendapatkan kesempatan untuk menjelajah dunia.
__ADS_1
Semangatku bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tak ingin membuang kesempatan ini, aku berganti baju dengan cepat. Meraih asal baju yang tergantung di lemari dan tak mempedulikan lagi riasan wajahku. Toh aku memakai cadar saat keluar nanti. Walau wajah ini pucat tak terpoles make up, orang takkan melihatnya.
Jaket jeans sudah membalut kain panjang menjuntai yang melindungi seluruh tubuhku. Terakhir aku mengikat tali sneakers putih yang aku pilih untuk melengkapi jalan-jalanku hari ini. Aku sudah siap untuk pergi.
"Ayo … kita berangkat. Umi sudah siap," kataku sembari meraih totebag yang kemudian kusangkutkan di bahu.
"Wangi banget lho … padahal belum mandi ya, Mi?" ledek Rio dengan terkekeh.
"Biar saja. Tidak akan ada yang tahu umi belum mandi. Hanya umi, Abi, dan Allah yang tahu …," kilahku.
"Baiklah … ayo kita berangkat." Rio langsung menggendongku. Dia masih saja belum rela membiarkan kakiku menuruni anak tangga.
*
*
*
"Kita ke mall?" tanyaku yang padahal sudah jelas-jelas mobil yang kami tumpangi terparkir di area parkir mall.
"Abi akan membawa Umi ke suatu tempat." Rio melepaskan sabuk pengaman yang melingkariku. Dengan cepat dia turun dan membukakan pintu untukku. Tak hanya itu, Rio juga langsung menggenggam erat telapak tanganku.
"Kalau Umi lelah … katakan. Jangan diam saja," titahnya sebelum membawaku masuk ke dalam gedung mall.
Yang aku kunjungi bersama dengan Rio saat ini adalah mall terbesar di kota yang kami tinggali. Mall ini tidak pernah sepi pengunjung setiap harinya. Sebab tak hanya menyediakan fasilitas perbelanjaan saja. Tapi di lantai paling atas gedung ini juga terdapat hotel sekelas Bintang 5.
Tentu di dalam hotel itu juga tak hanya menyediakan kamar yang bisa disewa. Tapi di sana juga menyediakan club kecil sebagai wadah berkumpulnya muda-mudi yang menyukai musik Dj.
Tepat di bawahnya ada sebuah space yang digunakan sebagai gedung bioskop. Bukan hanya bioskop yang ada di lantai ini, foodcourt yang menjadi kiblat kuliner juga tergelar berdampingan di sana.
Inilah tempat yang Rio maksud, foodcourt. Selain karena dia tahu aku hobi makan, Rio ingin aku mengenang sesuatu tentang kami di tempat ini.
"Kamu ingat tempat ini?" tanyanya saat pijakan kami sampai di ujung eskalator. Tepatnya saat ini kami berdua berdiri di pintu masuk foodcourt.
__ADS_1
"Tentu saja aku masih ingat," jawabku merasa mengingat sebuah peristiwa yang dulu terjadi.
"Apa yang kamu ingat?" tanyanya lagi.
"Lili memergoki kita saat makan berdua di sini. Padahal aku hanya ingin membujukmu untuk kembali padanya. Tapi, Lili justru salah paham." Itu menjadi hal yang paling kuingat dari tempat ini.
"Itu saja yang kamu ingat? Kenapa kamu mengingat hal yang buruk?" balas Rio.
"Memangnya ada hal baik yang terjadi diantara kita dulu di tempat ini?" Aku jadi penasaran. Kenangan mana antara aku dan dia yang sudah aku lupakan.
"Ada. Tempat ini adalah saksi pertemuan kita. Dulu, di tempat inilah kita pertama kali bertemu, berkenalan, dan jalan berdua. Kamu melupakannya?" Rio langsung berjalan meninggalkanku dan mendekat ke arah kasir untuk mengisi saldo foodcourt cardnya.
"Aku belum melupakannya. Hanya saja yang paling aku ingat adalah kejadian itu," ucapku setelah menyusulnya.
"Aku tidak yakin kamu mengingatnya." Rio meragukan ingatanku. Tapi mengapa aku merasa dia seperti tengah mengujiku?
Rio kembali menggandeng tanganku dan masuk ke dalam area foodcourt. "Jadi, apa yang kamu ingat saat pertemuan pertama kita di tempat ini?" Benar, Rio memang sedang menguji ingatanku. Dengan sedikit menggali memoriku sejenak, aku bisa menjawab pertanyaannya dengan luwes.
"Kita meninggalkan bapak setelah memesan makanan. Dan jalan berdua. Kamu membelikan Lili sebuah jam dan membelikanku juga. Kita juga membeli minuman juga kue. Benar 'kan?" aku balas bertanya padanya.
"Benar. Tapi jika kamu menganggap saat itu aku membeli jam untuk Lili … kamu salah besar. Aku membeli jam itu untuk hadiah ulang tahun sepupuku." Aku tercengang menatapnya. Benarkah bukan untuk Lili jam yang dulu dia beli bersamaku? Kenapa hati ini tiba-tiba menghangat? Ada perasaan lega saat aku mendengar penuturannya.
"Aku tidak bohong. Jam itu memang sengaja aku beli untuk sepupuku yang saat itu berulang tahun yang ke-15." Rio seakan mengerti arti tatapanku.
"Ada hal yang tidak kamu ketahui saat itu dan aku mengetahuinya." Hal apalagi yang kiranya lolos dari pengetahuanku? Aku hanya bisa menatapnya agar Rio mau melanjutkan obrolan.
Sementara langkah kami terhenti di sebuah meja dekat jendela yang menjulang tinggi. Tempat ini … meja yang dulu aku duduki dengannya.
*Kira-kira hal apa ya yang tidak Indy ketahui saat itu?
Temukan jawabannya di next part
Selamat malam*.....
__ADS_1