Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Tukang Sate Ganteng


__ADS_3

"Permisi Den, mau beli berapa porsi?" Suara tukang sate yang kedatangannya tak terendus telingaku membuatku langsung lompat turun dari pangkuan suamiku. Akan terlihat tidak sopan bukan, jika aku bermesraan di mata umum?


"Mau berapa porsi, Sayang?" tanya Rio padaku sebelum menjawab pertanyaan si penjual sate.


"Dua porsi?" jawabku sedikit ragu.


"Buatkan dua porsi, Pak," ucap Rio pada penjual sate.


"Baik, Den." Si penjual sate langsung mengambil tusukan daging mentah sejumlah dua porsi yang kupesan. Lalu membariskannya di atas arang yang membara.


Aku mendekat saat tangan si penjual sate mulai mengibaskan kipas saktinya. Membuang asap ke sana kemari agar sate terbakar merata. Bukan menghindari kepulan asap, aku justru menadahnya. Seketika itu Rio yang melihatku langsung menarik tubuhku agar menjauh dari kepulan asap yang menabrak wajahku.


"Kamu bisa sesak nafas, Sayang. Jangan terlalu dekat," titahnya padaku.


"Tidak, Abi. Umi ingin menghirup aroma enak dari daging yang sedang dibakar." Aku kembali melangkah mendekat ke kepulan asap. Tapi Rio segera menyusulku. Dia kembali menarik tubuhku. Kali ini jaraknya tak sejauh tadi. Aku masih bisa mencium dengan jelas aroma bakaran daging dari sini.


"Cukup dari sini saja. Jangan membantah abi." Aku mengangguk tanda setuju dengan perintahnya. Lagipula aku takkan membiarkan wajahku cemong terkena abu dingin dari arang yang beterbangan terhempas kipas.


Rio mengalungkan kedua lengannya ke leherku. Melingkar bagai syal yang menghangatkanku. Berada di posisi seperti sekarang ini, dengan Rio berdiri di belakangku dan mengalungkan lengannya padaku. Aku jadi sadar, ternyata aku pendek sekali jika dibandingkan dengan tubuh suamiku yang menjulang seperti sutet.


Pantas saja, lebih banyak yang mengira kalau aku ini adiknya saat jalan berdua. Karena ukuran tubuhku yang tak berimbang dengannya.


"Pakai lontong atau tidak, Den?" tanya penjual sate saat akan menaruh sate yang sudah matang ke dalam piring.


"Umi mau pakai lontong?" tanyanya padaku lagi-lagi sebelum menjawab pertanyaan si penjual sate.


"Tidak," jawabku mantap.


"Tidak usah pakai lontong, Pak. Katanya lontong itu tak lebih besar dari lontongku." Aku mencubit punggung tangannya dengan keras saat ia melontarkan fitnahan itu pada penjual sate.

__ADS_1


"Pengantin baru ya, Den? Kelihatan lagi hangat-hangatnya," ujar si penjual sate sembari menabur bumbu kacang ke atas tusukan daging.


"Baru, Pak. Baru mau punya dede bayi maksudnya," ungkap Rio.


"Wah tokcer juga, Den. Masih baru tapi langsung jadi." Si penjual sate benar-benar mengira aku dan Rio adalah pengantin baru. Ya benar, Baru. Baru berapa bulan yang lalu.


"Alhamdulillah. Doakan supaya anak dan istri saya sehat ya, Pak," balasannya lagi.


"Aamiin." Seulas senyum terbit di sudut bibir laki-laki lansia yang tengah menaruh sebungkus plastik di atas meja.


"Jadi berapa, Pak?" tanya Rio yang kemudian melepas lingkaran lengannya dariku. Kini berganti mengambil lembaran uang di dalam dompetnya.


"Tiga puluh ribu saja. Penglaris karena sedari tadi saya muter tidak satupun terjual," ucapnya tanpa menampilkan wajah sedih sedikitpun walau satenya tak laku.


"Sayang, kenapa tidak kita borong saja semua satenya? Lagipula umi masih mau menghirup aroma enak bakaran daging. Sebenarnya umi hanya ingin menghirup bau bakarannya saja, bukan mau makan satenya." Aku memegangi lengan Rio seperti anak kecil meminta dibelikan sesuatu pada ibunya.


"Nakal!" Lagi-lagi Rio mencubit pipiku.


"Pak, tinggalkan saja semua daging dan sausnya. Saya akan beli semua daging yang masih mentah," ucap Rio dengan yakin pada si penjual sate.


"Alhamdulillah … benar mau diborong, Den?" tanya si penjual sate dengan wajah gembira. Beliau tidak percaya akan menerima rejeki nomplok.


"Benar, Pak." Rio meyakinkannya.


"Terimakasih, Den, Non. Kalian benar-benar murah hati. Semoga gusti Allah memudahkan rezeki kalian. Aamiin." Beliau bahkan sampai memanjatkan doa untukku dan Rio sangking senangnya semua sate yang tadinya akan ia bawa pulang lagi justru sekarang akan habis terjual.


"Aamiin," ucapku dan Rio berbarengan.


Rio memberikan semua uang kertas yang ada di dalam dompetnya pada laki-laki penjual sate itu. Mungkin jika dihitung ada sekitar sepuluh lembaran uang kertas seratus ribuan yang diterima penjual sate.

__ADS_1


"Ini terlalu banyak, Den. Harga satenya tidak semahal ini," ucapnya dengan jujur.


"Selebihnya adalah rezeki untuk anak dan juga istri Bapak." Suamiku menjelma menjadi sosok dermawan. Aku sangat kagum dengan sikapnya saat ini.


"Masya Allah, saya tidak mengira akan menerima rezeki sebanyak ini hari ini. Sekali lagi terimakasih, Den." Kegembiraan tergambar jelas di wajah laki-laki yang mulai keriput itu.


"Sama-sama, Pak. Semoga bermanfaat." Rio membalas uluran tangan si penjual sate saat pamit untuk pulang. Dan kulukiskan senyum ramah padanya karena aku tak bisa membalas uluran tangannya seperti yang suamiku lakukan.


Setelah gerobak sate dan pemiliknya pergi meninggalkan halaman rumah. Rio memanggil pak satpam.


"Dua porsi sate untuk menemani Bapak nonton bola. Biar makin semangat jaga gerbangnya," ucap Rio seraya menyerahkan sebungkus sate pada pak satpam.


"Terimakasih, Mas. Tapi ngomong-ngomong itu bungkusan apa ya? Kok, seperti tusuk sate?" tanya pak satpam dengan penasaran melihat plastik besar teronggok di atas meja.


"Sate mentah. Bisa minta tolong siapkan pembakaran? Saya mau pesta barbeque dengan istri saya malam ini," pinta Rio meminta pertolongan pak satpam.


"Baik, Mas. Segera saya siapkan." Pak satpam langsung pergi melaksanakan tugasnya. Memungut dua kantung plastik di atas meja. Kemudian menyiapkan bakaran di balcon kamar. Sebab Rio sekali lagi ingin membuat aku menunggu dengan nyaman.


Balcon kamar kami memang cukup luas. Cukup jika untuk mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan malam ini. Setelah tempat pembakaran siap dan bara mulai menyala, suamiku berubah profesi sebagai abang tukang sate.


Dia tidak membiarkan aku berdiri menunggunya membakar puluhan tusuk sate. Rio sudah menyediakan kursi di sampingnya agar aku bisa leluasa menghirup aroma bakaran.


"Apa ini bagian dari ulah sang jagoan?" tanya Rio sembari melirikku.


"Tentu saja. Bukan umi yang mau. Tapi anak Abi yang selalu memaksa umi untuk meminta banyak hal," balasku tak mau disalahkan.


"Kerjasama yang bagus. Kalian memang komplotan yang hebat dalam misi mengerjai abi," puji Rio padaku dan calon bayinya.


"Apa Abi akan membakar semua satenya?" tanyaku karena tidak yakin melihat wajahnya yang mulai berkeringat sebab kepanasan berdiri di depan bara api.

__ADS_1


"Abi akan berhenti jika Umi sudah puas menghirup aroma sate." Aku nyengir kuda karena untuk saat ini aku memang belum puas menghirup aroma satenya.


Tanpa aku dan Rio sadari, bapak mertuaku mengintip kami dari balik pintu. Rupanya beliau terbangun karena mendengar ada sedikit kebisingan di kamarku. Tak berniat untuk bergabung, beliau justru menutup kembali pintu kamarku dan membiarkan aku juga Rio melanjutkan pesta.


__ADS_2