
Aku merasa perut bagian bawahku sedikit mengencang. Mungkin aku terlalu banyak bergerak dan tak menyadari bahwa bayi di dalam perutku juga perlu istirahat. Keputusan duduk sejenak, mengelus perutku dan mencoba mengajak si kecil berinteraksi.
Hujan turun dengan derasnya, tak lama setelah perutku dirasa sudah tak lagi tegang. Berganti mataku yang terasa berat, terbukti beberapa kali aku menguap.
Tapi aku teringat akan tugas lain yang harus keselesaikan sekarang. Kamar baruku masih berantakan. Barang-barang milikku belum satupun kukeluarkan dari kardus.
Walau sangat enggan, aku mencoba bangkit meninggalkan sofa. Meraih kardus demi kardus dan mengeluarkan barang-barangku. Mulai dari pakaian, buku-buku bacaanku, skincare, dan yang lainnya. Aku berusaha menatanya serapih mungkin.
Belum selesai membersihkan kamar, kram kembali kurasakan. Kali ini sangat sakit, aku sampai membungkuk untuk bisa berjalan ke tempat tidur. Berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, aku terus beristighfar.
Aku harus berbaring, dan itu segera kulakukan begitu sampai di ranjang.
"Ya Allah ... Lindungilah bayiku."
Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisinya di dalam sana. Perasaan bersalah tiba-tiba timbul sangat besar. "Maafkan umi, Nak."
Sekuat hati menahan air mata, nyatanya rasa takutku lebih besar. Aku takut kehilangannya.
Hujan lebat sudah lebih reda. Aku tak berani bangkit dan menyelesaikan pekerjaanku. Sungguh, aku harus segera istirahat. Dan aku memilih terlelap.
Rasanya sangat sakit, saat adzan subuh membangunkan, perutku masih terasa kencang dan menegang. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku harus menyiapkan hidangan untuk menyambut suamiku."
Dengan sangat berusaha, aku bangkit. Meninggalkan bercak merah yang menembus gamisku hingga menjiplak di atas kain sprei. Aku tak melihatnya, lebih tepatnya aku tak sempat karena segera berjalan ke kamar mandi.
Niat hati ingin mandi dan setelahnya bermunajat, meminta perlindungan Yang Kuasa. Tapi aku sangat terkejut, melihat darah yang keluar cukup banyak membasahi legging, underwear, dan yang lebih buruk mengalir sedikit di kakiku.
"Astaghfirullah, aku kenapa?"
Batinku bergemuruh. Kedua tangan bergetar akibat detak jantung yang tak mau bergerak normal. Segera aku menyelesaikan mandiku. Dan setelah mengenakan pakaian, aku duduk di tepi ranjang. Mengelus perutku dengan perasaan campur aduk.
Lagi-lagi aku menangis. Aku dirundung ketakutan yang sangat besar. "Umi mohon, bertahanlah. Maafkan umi karena kurang memperhatikanmu. Umi pikir, kau kuat seperti umi, Nak. Maaf."
__ADS_1
Cukup lama, bahkan hingga sinar matahari sudah menerobos masuk melalui celah tirai, aku baru beranjak keluar kamar.
Semua ART sibuk menyajikan sarapan. Bapak mertua belum kelihatan menempati kursinya di meja makan. Aku menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Mbok," panggilku pada salah satu ART.
"Nggih, Mbak," jawabnya kemudian menghadapku.
"Bapak, dimana?"
"Sedang minum teh di depan. Mbak Indy mau dibuatkan teh?"
Aku langsung menggeleng. "Saya boleh minta tolong, Mbok?"
"Boleh, Mbak. Silahkan."
"Tolong buatkan makanan yang Mas Rio sukai. Hari ini dia pulang dari rumah sakit. Bisa, Mbok?" Walau aku ragu, rasanya pasti takkan sama dengan buatanku sendiri.
"Bisa, Mbak."
"Pak." Aku langsung duduk di kursi kosong yang hanya di sekat oleh meja bundar.
"Ndy, sudah sarapan?" Kulihat, beliau sedikit terkejut dengan sapaanku.
"Belum. Bapak sendiri?" Walau aku tahu beliau juga belum sarapan, aku tetap harus menanyakannya. Sebagai bentuk perhatianku.
"Nanti saja. Lebih baik, kamu sarapan saja dulu." Beliau malah menyuruhku yang tentu saja takkan menyantap hidangan sendirian. Aku tidak suka sarapan sendirian. Sepi.
"Omong-omong, Mas Rio akan pulang pukul 10. Terlalu lama dan bisa kesemutan kalau Bapak menunggunya dari sekarang." Aku sengaja menyindir beliau agar mau beranjak sarapan.
"Baik, Ndy. Ayo, kita sarapan."
__ADS_1
Aku tersenyum karena beliau langsung bisa mengerti arah pembicaraan. Sebenarnya rasa nyeri di perutku belum hilang. Aku masih harus berusaha menegakkan badan untuk bisa menyembunyikan rasa sakit di perutku.
Alhamdulillah, bapak mertua tak mencurigai sama sekali. Aku tak ingin membuatnya khawatir atas kecerobohanku sendiri.
Belum selesai kami menghabiskan sarapan, tiba-tiba bel berdenting, membuat bapak mertua menghentikan suapannya.
Mbok-mbok ART tergopoh-gopoh berlari menuju pintu. Wajah cerah nan bersih itu, sebersih langit biru yang tak tertutup awan kelabu. Aku melihatnya menyembul dari balik dinding sekat.
Cuaca cerah menggambarkan suasana hatiku saat ini, aku bahagia melihatnya kembali ke rumah ini. Dia mencium punggung tangan ayahnya. Kemudian menatapku dengan tatapan tak suka. Ada yang salah dengan penampilanku?
Ternyata bukan, dia tak suka melihatku ada di rumahnya. Lebih tepatnya aku nampak seperti parasit dibayangkannya sekarang ini.
Lili melambaikan tangannya diam-diam kepadaku. Aku membalasnya dengan senyum tipis.
"Kalian sudah sarapan?" Bapak mertua meminta mereka bergabung.
"Nafsu makanku hilang, melihat dia ada di rumah ini juga." Dia memprotes keberadaanku.
"Emm ... Kalian bisa sarapan. Aku akan ke kamar, sarapanku sudah selesai." Padahal nasiku masih tersisa banyak. Aku membawanya ke dapur. Sungguh aku tak ingin mengusik kenyamanannya. Bagiku, dengan dia bisa kembali ke rumah ini dalam keadaan selamat pun sudah sangat melegakan.
"Mbok, bawa masakan yang tadi aku minta buatkan ke meja makan." Aku memberi pesan pada Mbok ART sebelum meninggalkan dapur.
Aku menuju kamar melalui jalan belakang agar Rio tak muak melihatku berkeliaran di rumahnya. Bukankah ini rumahku juga? Ya, benar. Tapi, aku sedang sangat buruk di matanya. Aku yang harus mengalah, karena dia sedang kehilangan ingatannya. Dan juga cintanya kepadaku.
Dengan beralasan ingin meletakkan barang-barang milik Rio, Lili mengendap masuk ke kamarku. Aku sudah memberitahunya soal kamarku dan Rio.
Dan bukan hal sulit untuk Lili tahu letaknya, dia pernah datang ke rumah ini. Tentu saja Rio pernah memperlihatkan kamarnya pada gadis itu.
"Muka kamu pucat, Ndy. Kamu baik-baik saja?" Lili mengangkat daguku dengan kedua tangannya yang menangkup wajahku.
"Aku hanya telat sarapan. Bagaimana kondisinya? Apa yang dokter katakan?" Sejujurnya pertanyaan itu sangat mewakili harapanku. Sebuah kepastian akan kembalinya ingatan Rio kepadaku. Aku sangat menantinya.
__ADS_1
"Hanya perlu kontrol beberapa kali. Selebihnya, kita yang harus banyak membantunya."
Aku mengangguk, hatiku sama sekali tak lega. Itu berarti entah kapan, ingatan Rio akan kembali. Tidak ada kepastian.