
Sampai di rumah, bukan aku langsung memakan ubi bakar yang telah susah payah suamiku dapatkan. Tapi keinginanku justru berubah.
Kini aku lebih ingin melihat suamiku yang memakannya. Ingin sekali menyuapkan ubi bakar dengan kepulan asap ke dalam mulutnya.
"Ayo Abi, makan ubinya." Aku memaksanya membuka mulut.
"Umi, tadi kan Umi yang ingin makan ubi bakar. Kenapa sekarang malah Umi menyuruh abi yang memakannya?" protes Rio.
"Ya sudah kalau tidak mau. Biarkan saja ubinya sampai dingin dan keras. Umi sudah tidak selera untuk memakannya. Bayi ini yang memaksa meminta ubi bakar. Bukan kemauan umi," ucapku dengan ketus.
"Baiklah, abi mengerti. Jadi, anak abi yang menginginkannya? Abi akan makan sampai habis. Ayo, suapi abi." Rio menarik tanganku agar mau menyuapinya.
Perasaanku dengan cepat membaik. Bahkan hanya dengan mendengar persetujuannya. Aku mengambil sepotong ubi bakar kemudian membelahnya dengan tanganku. Aroma wangi khas ubi bakar menyeruak masuk hidungku.
Tapi aroma ubi bakar tak bisa lagi mengomporiku agar mau memakannya. Kusuapkan potongan kecil ubi bakar ke dalam mulut suamiku.
"Aromanya enak sekali, Abi …," ucapku dengan gembira sembari menyuapi suamiku.
"Buka mulut Umi. Aaaa …," Rio mengarahkan sebuah potongan kecil daging ubi bakar ke depan mulutku.
Entah sihir apa yang dia gunakan hingga aku ikuti saja perkataannya. Aku membuka mulutku dan memakan ubi bakar itu bersamanya.
"Enak?" tanyanya begitu melihatku menelan ubi yang ia suapkan ke mulutku.
"Enak. Tapi mungkin lebih enak jika ditambahkan madu." Lagi-lagi aku asal bicara. Tak disangka Rio langsung bangkit dan meninggalkanku.
Aku tak tanyakan kemana dia akan pergi. Aku hanya ingin terus menyuapkan ubi bakar yang masih hangat ini ke mulutku. Rasanya tak bisa berhenti ingin mengunyah daging ubi bakar yang lembut. Aku kalap.
Rio kembali dengan membawa madu yang ia taruh di dalam mangkuk kecil. Namun dia terlambat, ubi bakarnya sudah habis aku makan. Rio kebingungan menatapku.
"Umi habiskan semua ubi bakarnya?" tanya Rio keheranan.
"Iya." Aku tak kalah bingung menjawab pertanyaannya. Memang apa anehnya aku menghabiskan ubi bakar? Batinku.
"Lalu, madunya?" tanyanya lagi.
"Kenapa Abi membawa madu? Untuk siapa?" tanyaku melupakan ucapanku sendiri.
__ADS_1
"Abi kira Umi ingin makan ubi itu dengan madu. Jadi abi bawakan madu. Tapi ya sudah, abi akan membawa madu ini kembali ke dapur." Tanpa menunggu jawabanku, Rio kembali meninggalkanku.
Perutku sudah kenyang. Aku ingin sekali mandi. Membasuh tubuhku yang sudah lengket ini dengan kucuran air dingin. Aku melangkahkan kakiku untuk menuju kamar.
Belum genap kakiku menginjak anak tangga pertama. Rio sudah berteriak mengagetkanku. Dia berlari secepat kilat menghampiriku.
"Umi, kenapa tidak panggil abi? Umi mau ke kamar?" ucapnya dengan terengah-engah.
"Umi bisa menaiki anak tangga ini sendiri. Kenapa harus panggil abi?" jawabku kemudian memijak anak tangga.
"Tidak. Abi tidak izinkan kamu menaiki anak tangga ini sendiri. Terlalu tinggi dan kamu bisa lelah. Abi akan menggendong Umi," ucapnya yang tak bisa kubantah.
Sampai di kamar, aku langsung menyambar handuk. Sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi, aku juga mengambil sehelai baju ganti. Bayangan kucuran air dingin membuatku tak ingin menunda lagi niatku untuk mandi.
Tapi nyatanya, di dalam kamar mandi Rio telah menyiapkan air hangat di dalam bathup. Lengkap dengan aroma therapy yang menenangkan. Rio menyambutku dengan senyuman yang lebih mirip seperti pemilik sauna menyambut pelanggannya.
"Ayo, abi bantu melepaskan baju." Rio tanpa canggung membuka kancing bajuku. Satu, dua, tiga, hingga kancing yang terakhir. Belum sepenuhnya sempurna, sebab aku masih memakai dalaman seperti manset dan legging.
Tapi Rio tidak mau berhenti, dia tetap ingin membantuku melepas kain yang menutupi tubuhku.
Tak cukup perutku yang menjadi sasarannya. Rio kembali berdiri, memelukku dengan sangat erat. Dia menggigit leherku secara tiba-tiba. Aku terkesiap, merasakan sakit sekaligus geli.
Suamiku terus menelusuri leherku dengan lidahnya. Hangat, perlahan aku menikmatinya. Namun ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba muncul dan membuatku sadar akan niatku.
"Abi … Umi mandi dulu, ya?" ucapku agar Rio mau menghentikan aktivitasnya.
"Abi rindu Mi …," rengeknya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Sepertinya ada yang tidak suka kita berduaan begini," ucapku lagi.
"Siapa?" Rio tertarik dengan ucapanku. Rasa penasaran berhasil membuatnya menyudahi aksi jahilnya.
Aku memutar bola mataku. Memberi isyarat padanya bahwa anaknya yang masih di dalam perutku menunjukkan reaksi.
"Dia?" tanyanya setelah mengerti.
"Perut umi rasanya mengeras dan mengencang. Tidak nyaman sekali," keluhku padanya.
__ADS_1
"Benarkah? Padahal abi belum apa-apakan Umi, tapi dia sudah mulai cemburu. Bagaimana nanti kalau sudah lahir, apa abi harus menculik Umi agar bisa mencurahkan rindu?" tanya suamiku dengan tatapan dalam.
"Abi yang malang," jawabku dengan nada meledek.
"Nanti boleh abi lanjutkan ya, Mi? Abi rindu sekali, Sayang," rengeknya lagi.
Tanpa menjawabnya aku langsung saja menenggelamkan sebagian tubuhku di dalam air hangat yang bercampur aroma therapy. Kurasakan perutku yang tadi sempat mengeras dan kencang mulai mengendur dan kembali nyaman.
Tak ada kecurigaan apapun dengan perubahan pada perutku yang tiba-tiba itu. Kupikir itu hanyalah sebuah reaksi normal. Aku justru senang sekaligus bersyukur, sebab janin dalam kandunganku menunjukkan reaksi. Itu berarti dia baik-baik saja di dalam sana.
Lima belas menit berendam, air mulai kehilangan suhunya akibat menguap. Kehangatan kian menghilang, berganti dengan air dingin.
Selesai mengeringkan tubuhku, aku langsung meninggalkan kamar mandi. Alangkah terkejutnya diriku saat mendapati suamiku bak model underwear yang berpose di atas kasur.
Memang tidak sepenuhnya tak berpakaian. Tapi yang aku lihat seperti bukan suamiku yang biasanya. Aku berjalan dengan ragu mendekatinya. Melihatnya dengan tatapan malu. Tapi justru dia membalasku dengan tatapan seperti singa lapar melihat mangsanya.
"Kemari Sayang," pintanya dengan suara menggoda.
"Sebentar Abi, rambut umi masih basah." Aku beralasan.
"Biarkan saja basah. Umi lebih menguji iman dengan rambut basah seperti itu," balasnya semakin membuatku ngeri.
"Ada-ada saja Abi. Pakai pakaian Abi, nanti masuk angin lho." Aku masih berusaha mengalihkan fokusnya.
"Begitukah? Sepertinya harus abi jemput." Rio bangkit, berlari ke arahku melompati ranjang dengan kaki jangkungnya. Meraih tubuhku kemudian membawaku ke atas kasur.
"Abi … sabar. Umi tidak akan lari," kataku mencoba membuat singa lapar itu meredam nafsunya.
Nyatanya usahaku gagal. Aku diterkamnya habis-habisan. Rio benar-benar menjelma menjadi singa yang lapar. Tak diberi ampun, banyak tersemat tanda cinta di leherku. Bahkan merambah ke bagian dada.
Sentuhan lidahnya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Aku tak bisa menahan kemunafikan ini. Aku menikmati setiap sentuhannya.
Bahkan kini aku memiliki part yang paling kusuka saat dicumbunya. Ketika lidahnya sampai di bagian sensitifku. Tak bisa lagi aku menahan desahan akibat nafas yang menderu. Rio sangat suka jika aku mengerang-erang seperti ini. Hasratnya semakin bertambah dan semakin bersemangat mencumbuku.
Malam ini Rio membuatku lemas tak berdaya. Bukan sebab lelah berlari-lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku. Melainkan karena dia mengajakku safari ke surga dunia.
"Terimakasih, Sayang," bisiknya seraya menangkup tubuhku. Selimut tebal menjadi tempat kami menyembunyikan lelah akibat pertarungan sengit yang telah berlalu.
__ADS_1