Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Amira


__ADS_3

Sudah kesekian kali Lili menepuk memanggil-manggil namaku. Tapi aku tak mendengar suaranya sama sekali. Aku seperti kehilangan fungsi indera pendengaranku.


Hingga Lili gemas padaku dan akhirnya menepuk bahuku dengan keras. "Ndy!" panggilnya untuk yang terakhir kali.


"Astagfirullahaladzim," ucapku seraya mengedipkan kelopak mataku yang sempat kalut dalam lamunan.


Sungguh aku tercengang melihat Adi membawa sosok wanita ke hadapanku. Hatiku memanas. Kesejukan ruangan ini menghilang berganti dengan hawa panas menyelubungi tubuhku. Sampai aku merasa gerah. Mungkinkah aku tengah cemburu?


"Kamu kenapa, Ndy?" tanya Adi yang rupanya telah sampai di hadapanku beberapa menit lalu.


"Sedari tadi kamu melamun. Dia mengucapkan salam pun tidak kamu jawab, Ndy," tambah Lili.


"A-aku... aku merasa sedikit pusing," ucapku sebagai alasan untuk menutupi pikiranku yang sedang kemelut.


"Kalau begitu kamu duduk dulu, aku akan ambilkan air. Ayo, Ndy," ajak Lili hendak memapah tubuhku ke sofa.


"Tidak, Li. Aku sudah merasa lebih baik sekarang, kamu tidak perlu khawatir." Rasa penasaran itu tidak bisa lagi aku bendung. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya wanita yang kini berdiri di samping Adi. Benar, aku memang tersulut cemburu.


"Dia … siapa?" tanyaku pada Adi meluruskan jari telunjukku pada sosok yang tak aku kenali.


"Kenalkan, namanya Amira. Dia tunanganku."


Deg! Jantungku berhenti berdetak begitu kata yang Adi ucapkan terdengar dengan jelas di telinga. Tunangan? Jadi, dugaanku benar. Dia adalah wanita yang belum sempat tante Lina kenalkan padaku saat itu.

__ADS_1


Aku mencoba mengambil nafas sebisaku. Meski satu tarikan nafas sangat sulit menembus rongga hidungku. Aku tetap ingin mengembalikan detak jantungku yang terhenti.


"Hai, aku Indy." Kuulurkan jemariku untuk menyambut perkenalan kami.


"Senang bisa berkenalan dengan kamu," sambungku setelah uluran tanganku disambut oleh Amira.


"Sayang, ayo aku antar kamu memilih baju. Sudah semakin sore. Mamamu bisa cemas kalau aku terlambat mengantarmu pulang," ucap Adi tak membiarkan tunangannya berlama-lama mengobrol denganku.


Sore ini hatiku berhasil diremas-remas oleh Adi dengan sengaja. Aku menyadari kesengajaan itu. Untuk apalagi Adi datang membawa Amira ke tokoku jika bukan untuk membuatku cemburu.


Tapi aku bisa menahan rasa cemburu yang bahkan setelah kepergiannya masih menyisa. Segelintir pertanyaan kini menyerangku. Rupanya sedari tadi Lili penasaran dengan sosok Adi.


"Ndy, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya setelah bayangan Adi dan Amira benar-benar lenyap.


"Dari tadi kuperhatikan, kamu seperti tidak baik-baik saja. Kamu banyak melamun setelah orang tadi datang ke toko. Sebenarnya mereka siapa, Ndy? Kamu mengenal baik mereka?" Lili seperti menekankan sebuah pemaksaan di dalam pertanyaannya. Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Tapi, apa pantas jika aku mengatakan Adi adalah sosok laki-laki yang masih mengisi hatiku hingga saat ini?


"Dia Adi, tetangga sekaligus sahabat kecilku," jelasku pada Lili.


"Pantas saja kalian kelihatan akrab," ujar Lili mengerti dengan penjelasan yang aku berikan.


"Ndy, apa kamu tahu Amira itu siapa?" tanya Lili setelah terjeda beberapa saat.


"Maksudmu? Kamu sudah mengenal Amira sebelumnya? " tanyaku dengan wajah penasaran.

__ADS_1


"Aku pernah berpapasan beberapa kali dengannya. Aku benar-benar mengingat wajahnya tadi. Dia mahasiswi di kampus kita. Satu ajaran dengan kita, Ndy. Hanya saja berbeda kelas dengan kita." Lili masih menyertakan aku meski aku sudah tak lagi menjadi mahasiswi seperti dulu.


"Jadi, dia satu kampus sama kamu? Itu bagus!" ucapku dengan sumringah.


"Apanya yang bagus?" Tiba-tiba saja suara Rio menyahut obrolan kami.


"Assalamualaikum," sambungnya saat aku dan Lili menangkap kedatangannya.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Lili kompak. Aku langsung menyambut kedatangannya dan meraih telapak tangan suamiku. Segera kukecup lembut punggung tangannya.


"Lili ada di sini?" tanya Rio setelah merangkul bahuku.


"Iya, mulai besok aku bekerja di sini. Sebagai karyawan di toko kalian," jawab Lili lengkap dengan senyumannya yang manis.


"Wah, kamu pasti senang, kan? Bisa ketemu Lili setiap hari. Alhamdulillah aku ikut senang," ucap Rio seraya mencubit hidungku yang tertutup kain.


"Aku permisi dulu, ya? Kasihan Mbak Nia kerja sendirian." Lili meninggalkan aku dan Rio. Entah karena dia masih tidak bisa melihat kebersamaan kami, atau memang benar kasihan melihat Mbak Nia bekerja sendirian.


YANG SUKA SAMA NOVEL INI BOLEH SHARE DI SOSMED **KALIAN YA


SEKALIAN BANTU AUTHOR PROMOSI KARYA HEHE..


SEMAKIN RAMAI KOLOM KOMENTAR, SEMAKIN SEMANGAT AUTHOR UPDATE NOVEL INI

__ADS_1


YANG BERKENAN BANTU SHARE THANKYOU**....


__ADS_2