Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Aku Adalah Istrimu


__ADS_3

Tak ada yang bisaaku ucapkan selain meminta maaf saat aku harus berhadapan dengan Rio. Ya, musibah ini kuanggap sebagai kesalahanku. Aku tak bisa menjaga amanatNya dengan baik. Aku sangat teledor. Sedikit bersyukur karena saat ini suamiku hilang ingatan. Andai dia mengingat semuanya dan tahu aku membuat bayi kita pergi, maka aku benar-benar akan lenyap dai dunia ini. Rasanya tidakk sanggup mematahkan hatinya untuk kesekian kali.


Aku terus menghindarinya. Sering berpasan dengannya di rumah membuatku sesak. Sesak karena hatiku ingin sekali merengkuhnya, tapi kenyataan segera menampar bahwa semua itu tidak bisa aku dapatkan.


Setiap hari, pagi-pagi sekali aku pergi ke toko. Aku menghibur diri di sana. Bertemu karyawan dan pembeli, sedikit kesedihan ini sedikit terlipur.


Tak apa, meski saat kembali ke rumah aku akan menangsi lagi. Setidaknya, ada sedikit waktu yang terisi tanpa tangisan.


Aku selalu melewatkan sarapan. Dan hari ini terasa mengejutkan. Rio datang ke toko, membawa rantang makanan. Awalnya aku pikir dia membawanya untuk Lili. Nyatanya rantang berisi menu sarapan enak itu dia bawa untukku.


"Kamu selalu melewatkan sarapan," katanya saat meletakkan rantang itu di atas meja kasir.


Sempat kulirik Lili yang juga melihat kedatangan Rio dari kejauhan. Entahlah, aku merasa harus menyempurnakan aktingku. Lili masih menjadi kekasih dalam ingatan suamiku.


"Dia tahu kamu ini saudaraku, Lili bukan gadis pencemburu." Seperti mengerti apa yang tengah aku pikirkan, Rio langsung membentenginya.


"Ya, bukan Lili yang pencemburu, tapi aku." Lagi-lagi aku hanya bisa membatin.


"Terimakasih." Begitu yang bisa aku lahirkan dari bibirku untuknya.

__ADS_1


Aku melenggang meninggalkannya, membawa rantang ke lantai atas dan tak berniat menikmatinya. Aku hanya duduk sembari memandangi rantang yang tak kulihat sama sekali isinya.


"Kenapa cuma dilihat? Kamu bisa sarapan sekarang." Aku terkejut lagi, suaranya tiba-tiba saja ada di dekatku. Kapan dia menyusul?


Rio berdiri di seberang meja. Sementara aku duduk di sebuah sofa panjang. Aku tidak berani menatapnya. Dadaku sungguh sakit melihat kedua bola matanya yang teduh.


"Aku akan sarapan nanti." Aku hendak bangkit, meninggalkannya lagi. Tapi dia dengan sopan mencegahku, tidak dengan sentuhan, tapi dengan kata yang mampu membuatku mengurungkan niat untuk meninggalkannya.


"Kenapa aku merasa kamu selalu menghindar? Kecurigaanku semakin mendorongku untuk mencari tahu, siapa sebenarnya kamu? Aku sangat yakin, hatiku selalu mengatakan bahwa wanita yang datang menemuiku setiap malam di dalam mimpi adalah kamu. Dan cincin ini, jangan berpura-pura, aku sempat melihatnya di jarimu."


"Ndy, ada rahasia antara kita? Apa benar? Aku memang hilang ingatan. Tapi sedari dulu aku tidak pernah lupa bahwa aku sangat percaya dengan hatiku. Aneh rasanya, aku ingat bahwa Lili kekasihku, tapi aku tidak merasa nyaman di dekatnya. Justru aku ingin selalu mendekatimu. Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Tapi rasanya sangat aneh, apalagi aku tahu, kamu sudah bukan lagi single."


"Siapa kamu sebenarnya?" Dia mengulang pertanyaan.


"Apa jika aku mengatakannya, kamu akan percaya?" Dan aku mencoba menggenggam harapan.


"Tentu, jika kamu bisa membuktikannya."


Aku ragu, tapi aku harus mengakhirinya. Entah aku akan menyakitinya atau apa, tapi aku adalah istrinya. Aku berhak mendapatkannya kembali.

__ADS_1


"Siapa kamu?" Dia mengulang lagi.


"Aku istrimu."


"Istriku? Jadi aku sudah menikah?"


Kulihat wajahnya yang sedikit terkejut. Tapi aku tahu, dia sedang meragukanku. "Tunggu di sini." Aku kembali ke meja kasir, membawa tasku dan naik lagi ke lantai atas. Kutunjukkan akta nikah kami. Dia melihatnya dengan teliti.


"Ini asli," katanya lirih.


"Jadi, bayimu? Astaghfirullah, ampuni aku Ya Robb ...." Aku tak berani merengkuhnya, saat dia begitu terpukul menyadari bahwa dia tak hanya kehilangan kenangan berharga, tapi Rio juga telah kehilangan darah dagingnya.


"Maaf, Ndy .... Maaf." Sentuhan tangan hangat itu meraih jemariku perlahan. Meski aku tahu dia ragu menyentuhku, dan aku juga ragu meraihnya, tapi aku tetap membalas genggamannya.


"Bukan salahmu, semua ini sudah garis tulis takdir Yang Kuasa."


"Kenapa tidak jujur sedari awal? Maaf aku menyakitimu." Rio benar-benar menangis. Tapi masih sempatnya jemari lentik itu mengusap air mataku yang juga berderai.


"Karena kamu sudah menolakku, Abi." Sudah tidak sanggup lagi, aku memeluknya. Aku sangat merindukannya. Toh dia suamiku, toh sekarang dia sudah tahu bahwa aku istrinya. Bukti sudah aku berikan, lalu apalagi yang bisa menghalangi rinduku padanya?

__ADS_1


__ADS_2