Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Ceroboh


__ADS_3

"Kamu serius?" Mata teduh Rio menatap manik mataku dalam. Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.


"Dengan satu syarat," ucapku setelah Rio melepaskan pandangannya dariku.


"Apa syaratnya?"


"Kamu memang boleh tidur di ranjang. Tapi bukan berarti aku mengizinkan kamu menyentuhku. Aku masih belum siap. Aku mohon kamu mengerti," jawabku dengan hati-hati.


"Sayang, memangnya aku sedang memaksa kamu? Apa selama ini aku pernah melanggar janjiku? Tidak, kan? Aku akan menunggu, sampai kamu siap," ucapnya begitu meyakinkan.


"Ya sudah. Ayo, tidur," ajakku kemudian melangkah lebih dulu ke ranjang. Sedetik kemudian Rio menyusul.


"Agar kamu lebih merasa aman, dua bantal guling ini aku taruh di tengah. Sebagai pembatas agar aku tidak bisa menyentuhmu. Meski tidak sengaja," sambungnya sebelum membaringkan tubuh di kasur.


Lampu sudah padam sejak lima belas menit lalu, tapi aku belum juga memejamkan mata. Mulutku beberapa kali menguap tanda kantuk telah menjalari tubuhku.


Aku memaksa mataku untuk tetap terjaga. Hatiku merasa tak tenang. Jantungku tak bisa berdetak dengan normal.


Dengkuran kecil aku dengar sayup-sayup di ruangan yang sunyi. Suamiku sudah tidur dengan lelap. Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Kalau begini, aku baru bisa memejamkan mataku dan tidur dengan perasaan aman.


Sedari tadi, aku hanya sedang menunggu dengkuran suamiku sebagai tanda tidurnya yang lelap.


Suara merdu lantunan ayat suci menyadarkanku dari lelap. Kuucap syukur sebab Allah masih memberiku kesempatan menghirup oksigen pagi ini.


Seperti pagi yang telah kulalui. Sebelum menegakkan tubuhku, aku melakukan ritual untuk mengumpulkan kembali nyawaku yang semalam berpencar entah kemana saja perginya.


Kurentangkan kedua tanganku dan melemaskan otot-otot tubuhku dengan sedikit meliukkan badan. Setelahnya aku baru akan duduk menegakkan ragaku.


Jika dirasa nyawaku telah kembali dengan sempurna. Aku baru akan melanjutkan aktivitas lainnya.


Pagi ini netraku dimanjakan dengan pandangan islami nan mempesona. Suamiku tengah duduk diatas permaidani dengan pakaian khas santri.


Musaf kecil berada di genggamannya. Wajah dan bibirnya nampak khusyuk melafalkan kalimat syurgawi penenang jiwa.


Sejenak kunikmati lantunan suara merdu suamiku. Hingga akhirnya ia tersadar, bahwa aku diam-diam tengah menguping.


"Shadaqallahul 'adzim." Buru-buru kuraih selimut yang tergeletak berantakan di atas tempat tidur untuk menghindari lirikan matanya yang menangkapku mencuri pandang padanya tadi.


Berpura-pura merapikan tempat tidur menjadi alasan yang tepat saat ini. Rio meletakkan musaf kecil miliknya di atas nakas. Dia juga melepas peci yang sedari tadi menutup rambut hitamnya.


"Kamu nggak subuhan?" tanyanya melihatku yang tak buru-buru mengambil air wudhu padahal fajar hampir menyorotkan sinarnya.

__ADS_1


"Aku lagi halangan," jawabku dengan santai.


"Untung nggak aku bangunin tadi. Udah tahu juga sebenarnya," balas Rio dengan nada meledek.


Tahu? Dia tahu dari mana? Dalam batinku. Ucapannya itu membuatku mendongak penasaran. Benar, dia tengah tersenyum khas senyuman meledek.


"Lain kali jangan sok tahu," ketusku.


"Aku tidak sok tahu, Sayang. Coba lihat bagian belakang bajumu," tunjuk Rio padaku.


Aku segera meraih kain baju bagian belakang. Astaghfirullah, tembus! Karena sangat malu, aku langsung saja lari ke kamar mandi. Tapi, setelah di dalam kamar mandi aku justru lupa tidak membawa pakaian ganti dan pembalut.


Aduh … bagaimana ini, tubuhku sudah terlanjur basah. Dan tidak mungkin aku keluar mengenakan gamis yang juga sudah terendam detergen.


Argh! Haruskah aku meminta tolong padanya? Aku masih sangat malu akibat kejadian tadi. Dan sekarang aku harus menimpa rasa malu itu lagi dengan kekonyolan ini.


Tuhan, kenapa Engkau selalu membuatku membutuhkannya?


Setengah jam berdiam di kamar mandi. Aku mulai merasakan hawa dingin menusuk tulang-tulangku. Dingin sekali. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku selalu berbuat ceroboh? Aku malu, sangat malu.


Aku berjongkok, meremas kedua lenganku yang mulai bergetar menggigil. Aku tak bisa lagi menahan hawa dingin yang semakin memelukku.


"Rio!" panggilku pada akhirnya.


Alhamdulillah dia masih ada di sana. Itu artinya aku bisa segera meminta pertolongan padanya.


"Aku lupa membawa handuk dan baju ganti. Bisa aku meminta tolong? Tolong ambilkan handukku dan baju apa saja. Jangan lupa jilbabku. Yang mana saja, terserah kamu." Dengan suara bergetar akibat kedinginan aku berusaha dengan lantang meneriakkannya.


"Oke!" balasnya.


Tak berapa lama, ketukan pintu terdengar. Kini giliran aku mengumpulkan nyaliku untuk membuka pintu dan meraih baju yang telah Rio ambilkan.


Perlahan aku menggeser posisiku yang masih berjongkok dan enggan untuk bangun. Hawa dingin benar-benar telah mengunci tubuhku.


Setelah memastikan bayangan tubuhku yang tengah gundul tak terbalut kain tidak terpantul oleh apapun. Aku membuka pintu.


"Kemarikan," pintaku dengan mengulurkan tangan dan bersembunyi di balik pintu.


"Loh, kok di bawah?" tanyanya melihat uluran tanganku.


"Cepat, jangan banyak tanya." Aku sudah tak bisa lagi menahan tubuhku yang menggigil.

__ADS_1


"Ini," balasnya tanpa bertanya apapun lagi.


Aku telah menerima baju dan handuk, kemudian menutup juga mengunci kembali pintu kamar mandi. Dengan nekat, aku bangun untuk mengeringkan tubuhku dengan handuk.


Aku terkejut, melihat barang yang tadi tak kusebutkan tapi menyelip di antara tumpukan baju. Pembalut. Rio mengambilkannya untukku sementara tadi aku tidak memintanya.


"Terimakasih," ucapku seraya menjembreng handuk di balcon untuk di jemur.


"Sama-sama. Kemari, Sayang," pintanya. Aku menurut saja dan melangkah mendekatinya.


"Minum ini, susu kunyit hangat. Mungkin bisa meredakan nyeri di perut kamu." Dia sangat pengertian. Bahkan untuk urusan perempuan saja dia bisa mengerti.


"Terimakasih." Untuk kedua kalinya aku hanya bisa berterimakasih padanya.


"Berapa lama kamu menahan dingin di dalam? Bibirmu sampai membiru. Kamu ragu untuk memanggilku?" Aku tahu, meski aku selalu menundukkan pandanganku di hadapannya. Tapi aku bisa selalu merasakannya. Rio selalu memandang wajahku yang tenggelam ini dengan intens.


"Maaf. Aku selalu merepotkan," jawabku tanpa mengerti bahwa suamiku tak pernah merasa direpotkan.


"Jangan ulangi lagi. Kapanpun butuh bantuanku, kamu harus memanggilku. Jangan biarkan dirimu tersiksa oleh apapun. Aku mohon." Dia bahkan sampai memohon agar aku tidak lagi menyiksa tubuhku sendiri.


Mengangguk menjadi tindakan yang tepat untuk tidak memperpanjang urusan dengannya. Tidak serta merta luluh. Aku tetap biasa saja meski perhatiannya yang tercurah padaku sungguh luar biasa.


Belum habis susu kunyit kuteguk, aku teringat kembali dengan kejadian tembus tadi. Jika bajuku saja tercetak noda darah, lalu bagaimana dengan kain spray yang semalam aku tiduri?


Aku meletakkan gelas berisi susu sembarangan seraya berlari hendak memeriksa kain spray di ranjang. Hanya baru satu langkah aku berlari, gelas yang aku letakkan sembarang jatuh dan pecah.


Oh, Tuhan … kenapa kecerobohan mendarah daging di jiwa ini? Kenapa Kau ciptakan aku dengan kecerobohan ini? Ya Allah, aku lelah memelihara sikap tak baik ini.


"Jangan sentuh!" ucapku begitu Rio akan melangkah mengambil pecahan beling.


"Biar aku saja," sambungku dengan mata mulai berair.


Rio tidak lagi melanjutkan niatnya. Aku kembali, dan tidak jadi memeriksa kain spray yang tadi sangat aku khawatirkan hingga tidak meletakkan gelas dengan aman.


"Spraynya sudah diganti. Aku menyuruh mbok menggantinya tadi," ucapnya ketika aku memungut beling.


Bukannya berterimakasih, aku justru tak kuasa menahan malu di hadapannya. Air mataku tumpah. Aku tidak bisa menutupi rasa malu akibat kecerobohan bertubi-tubi pagi ini.


*AYO DONG, JANGAN PELIT LIKE DAN KOMENTARNYA *


*BIAR AKU MAKIN SEMANGAT UPDATE*

__ADS_1


*TERIMAKASIH UNTUK YANG SELALU LIKE, KOMENTAR, RATE, DAN VOTE KARYAKU*


*SAMPAI JUMPA NEXT EPISODE*


__ADS_2