
Aku semakin menenggelamkan wajahku saat tangis benar-benar pecah. Aku malu, sangat malu. Menjadi istri yang ceroboh dan selalu merepotkan suamiku.
"Sayang, kenapa menangis? Tanganmu tertusuk serpihan beling? Sudah-sudah, biarkan saja. Jangan kamu punguti lagi pecahan beling itu. Biar mbok saja nanti yang membersihkannya." Rio langsung berjongkok di sampingku saat aku terisak.
Tangan hangatnya memeriksa telapak tanganku dengan teliti. Khawatir jika aku menangis karena tergores pecahan gelas kaca.
Nyatanya aku menangis bukan karena tergores apapun. Tapi, aku sudah tak bisa lagi menahan malu di hadapannya.
"Aku malu," ucapku dalam isak.
"Malu? Malu kenapa?" Rio kebingungan.
"Aku ceroboh, aku sangat bodoh. Aku selalu saja merepotkan," eluhku padanya agar dia tahu apa yang sebenarnya membuat aku meneteskan air mata.
"Sssstt … jangan sekali-kali kamu mengatakan hal-hal itu lagi. Aku tidak rela kamu mencela istriku yang sempurna ini. Sayang, jangan pernah berpikir kamu merepotkan aku. Harus berapa kali aku menjelaskan? Aku tidak pernah merasa direpotkan. Ayo, bangun." Aku biarkan Rio memapah tubuhku dan mendudukkan aku di sofa.
"Jangan menangis. Setahuku wanita adalah makhluk paling kuat. Kamu harus kuat, kamu bagian dari mereka, kan? Bagaimana kamu akan memimpin usahamu nanti, kalau rasa malu saja bisa membuatmu lemah seperti ini? Bagaimana kamu bisa menyayangi anak-anak kita nanti, kalau kamu saja mencela dirimu sendiri. Sayang, Allah menciptakan manusia sebagai tempatnya salah, khilaf, dan dosa. Tapi Allah tidak serta merta menciptakannya demikian. Manusia diciptakan berdampingan dengan kesalahan agar senantiasa mengingat Allah, meminta pengampunannya disetiap kala."
Suntikan motivasinya itu begitu nyata aku rasakan. Dia bisa sekejap meredakan kesedihanku.
"Ya Allah, maafkan aku yang sudah mencela diriku sendiri. Ampunilah dosaku," ucapku menyadari bahwa apa yang aku ucapkan tadi tidak benar.
"Hapus air matanya, ya? Atau mau aku bantu?" sambung Rio.
"Tidak. Aku bisa sendiri." Segera kuhapus air mata yang melajur di pipi.
.
.
.
.
Sudah dua hari, toko pakaianku telah resmi dibuka. Di hari pertama aku mendapat tamu special. Sahabatku Lili datang bersama teman-teman kampus yang lain.
Lili membawa pasukan teman-teman kampusnya untuk memborong baju-baju di tokoku. Dan semua itu juga tak lepas dari bantuan Rio. Ternyata, suamiku itu diam-diam menyebar brosur promosi tokoku ke kampusku juga.
__ADS_1
"Hari ini, kamu siap-siap bakal ada yang mau nyerbu toko kamu lagi," ucapnya di tengah sarapan.
"Siapa yang akan datang?" tanyaku penasaran.
"Tunggu saja. Dan siapkan tenagamu untuk membungkus baju." Senyum seringai itu muncul lagi di sudut bibirnya. Sebagai tanda dia tengah meledek istrinya ini.
"Memangnya, kamu belum mencari pegawai untuk membantu kamu di toko, Ndy?" tanya bapak mertuaku.
"Belum, Pak. Indy kira, di awal pembukaan toko belum terlalu ramai pengunjung. Tapi di luar dugaan, di hari pertama toko dibuka, pengunjung bahkan tidak henti-hentinya datang," laporku pada bapak mertua.
"Alhamdulillah, bapak senang mendengarnya. Kalau begitu, kamu harus mencari pegawai untuk membantumu di sana. Lagipula, kamu memang membutuhkannya kan?" Bapak mertuaku memberikan saran padaku.
"Iya, Pak. Indy pasti akan segera mencari orang untuk membantu di toko."
"Aku mau daftar jadi pegawai kamu, boleh nggak?" timpal Rio.
"Boleh," jawabku singkat.
"Gajinya berapa?" sambungnya lagi mengusiliku dengan pertanyaannya.
Bapak mertuaku hanya menggeleng menyaksikan tingkah anak dan menantunya yang seperti anak TK.
"Aku tidak menyangka istriku sepintar ini menjawab pertanyaan suaminya." Rio tergelak.
Sedari jam 9 pagi aku belum sempat mendudukan pantat ini di kursi. Kerongkongan ini mulai kering, minta dialiri air segar. Apa ini yang dimaksud oleh Rio tadi saat sarapan?
Pengunjung toko tak henti-hentinya datang. Aku bahkan kewalahan menjawab pertanyaan mereka, mencarikan stok dan ukuran yang pas dengan tubuh mereka. Belum lagi menghitung total belanjaan dan membungkusnya.
Baru saja selesai melayani pembeli, aku masih harus mengecek baju yang sudah terjual dan kembali mengambil stok untuk di pajang.
Setelahnya aku membersihkan lantai yang kembali berdebu. Sambil menyapu lantai, akhirnya aku bisa menyempatkan untuk menyedot jus alpukat yang aku bawa sebagai bekal dari rumah.
"Alhamdulillah," ucapku setelah dirasa tenggorokan ini kembali basah.
Belum sempurna aku mengistirahatkan kaki ini, Rio datang dengan pasukannya.
"Assalamualaikum," ucapnya seraya membuka rolling door.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawabku yang tak jadi duduk.
"Mi, abi bawa temen-temen dari kampus. Mereka mau borong baju-baju di toko Umi," ucapnya begitu menghampiriku.
"Kenalin, ini umi dari anak-anak gue kelak. Namanya Arindy, biasanya gue panggil dia sayang. Khusus untuk kalian, karena kalian temen-temen gue, kalian boleh panggil dia Indy aja," cerocos Rio mengenalkanku di hadapan teman-temannya.
"Kampret! Kirain boleh manggil sayang juga," protes salah satu teman Rio yang bernama Rizki.
"Iya, Ki. Udah ngarep banget gue mau manggil umi juga," timpal teman yang lain bernama Ahmad tapi suka diplesetkan jadi Mamet.
"Ngarep banget lu, Met. Sadar muka lu pada, gue yang gantengnya sebelas dua belas sama Rio aja cuma bisa dzikir dalam hati," sambung Iqbal, cowok yang tingginya hampir menyamai Rio.
"Hahaha, banyak-banyak berdoa di sepertiga malam deh kalian. Kalian pikir, aku bisa dapetin salah satu bidadari syurga karena apa?" lontar Rio pada teman-temannya.
"Gue tau, Ri. Karena lo pake pelet, kan?" ceplos Mamet.
"Hahaha, bener Met, bener," timpal Rizki menyetujui.
Gelak tawa menggelegar di ruangan itu. Aku hanya bisa menahan tawa dibalik cadar yang menutupi sebagian wajahku.
"Selamat datang di toko kami, semoga kalian bisa berbelanja dengan nyaman di sini. Senang berkenalan dengan kalian." Akhirnya aku membuka suara dan menyambut kedatangan mereka setelah tadi hanya bisa menjadi penonton lawakan mereka.
"Mi, abi antar mereka memilih baju dulu, ya. Nanti abi kembali lagi," pamit Rio padaku.
"Baik, Bi."
Sebagai istri, aku memang harus menghormati suamiku. Meski rumah tangga kita jauh dari kata sempurna. Setidaknya aku harus mengimbangi suamiku. Membantunya menciptakan kesempurnaan setidaknya di mata publik.
**JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR DI CHAPTER INI
SUPPORT KARYA AUTHOR DENGAN MEMBERI RATE DAN VOTE
TERIMAKASIH YANG MASIH SETIA MEMBACA DAN MENGIKUTI UPDATE NOVEL MCS2
SUPPORT KALIAN DALAM BENTUK APAPUN MENJADI SEMANGAT UNTUK AUTHOR
SALAM SAYANG UNTUK KALIAN SEMUA**
__ADS_1