Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Ngambek Berujung Malapetaka


__ADS_3

Aksi ngambek kulancarkan begitu sampai di rumah. Sebab sedari tadi di toko aku tidak bisa memperlihatkan kemarahanku pada suamiku di depan mbak Ina dan mbak Nia.


Aku masih kesal mengingat kejadian menyebalkan di toko. Saat Rio mencuri pipiku tanpa permisi. Apa yang sudah membuatnya sangat berani melampaui batas. Tak biasanya dia mengusiliku dengan hal semacam itu.


Sudah dua kali Rio memanggilku yang tengah berpura-pura fokus membaca. Jangankan meliriknya, menjawab panggilannya pun aku lakukan dalam hati.


Berapa detik menunggu tak ada sahutan, dia akhirnya mulai sadar kalau aku sedang dalam amarah kepadanya. Aku sedang melancarkan bentuk protesku padanya.


"Aku punya salah sama kamu?" Dia yang sudah berjongkok di samping tempat tidur mulai menanyaiku tanpa tahu kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Apa kesalahanku? Coba jawab supaya aku bisa memperbaikinya," sambungnya lagi. Namun aku tetap tidak menggubrisnya.


Rio mulai gemas karena aku tetap diam. Dia merebut paksa buku yang aku gunakan sebagai tempat persembunyian dari genggamanku. Aku terkejut karena dia tiba-tiba sekali merebut buku itu dariku.


"Apa salahku, katakan," tanyanya lagi setelah Netra kita saling bertemu.


"Apa kamu benar-benar tidak ingat? Atau pura-pura melupakan kejadian di toko tadi siang?" jawabku tak mau kalah.


"Astaghfirullah. Itu kesalahanku?" tanyanya lagi.


"Bagiku itu sebuah kesalahan. Sebab kita telah membuat perjanjian sebelumnya. Kamu juga melupakan janjimu untuk tidak menyentuhku?" tegasku.


Rio hanya bisa diam menyadari kesalahannya. Walau bagaimanapun, perjanjian tetaplah perjanjian yang tidak boleh dilampaui. Kecuali jika keduanya telah berasepakat menghapus perjanjian itu.


"Maaf, aku memang salah," ucapnya dengan lemah.


"Maaf saja tidak cukup untuk menghapus sentuhan bibirmu yang terlanjur aku rasakan menempel di pipiku," protesku.


"Mau aku perjelas?" balasannya dengan senyum seringai.

__ADS_1


"Berani melakukannya lagi tanpa izinku, lihat saja akibatnya," ancamku tak gentar.


"Iya-iya, maaf. Aku kehilangan kendali. Boleh aku jujur?" tawarnya membuatku penasaran.


"Apa?" tanyaku balik.


"Nafasmu yang tersengal-sengal itu menguji imanku," jawabnya.


"Dasar mesum! Aku kesulitan mengatur nafas karena kaget melihatmu berdiri di ruangan yang biasa kosong," ucapku menjelaskan.


"Wajar saja, aku kan, suami yang sudah lama menanti," ucapnya tanpa menyadari kesalahannya yang belum aku maafkan.


"Mengerikan! Malam ini aku akan tidur di kamar sebelah saja," ujarku seraya memakai sandal hendak meninggalkannya.


Tapi Rio menghalangi langkahku dengan merentangkan tangan kanannya di hadapanku. Aku tak bisa menerobos, terlalu sempit jarak yang harus kulewati antara telapak tangan Rio dan rak buku di sampingku.


"Jangan pergi, bapak akan curiga jika tahu kita tidur pisah kamar."


"Apa?" kataku tak tahu maksudnya menjulurkan lidah.


"Buatlah bentuk gunting dengan jarimu dan potong lidahku untuk mengikat janjiku," jedanya kemudian menjulurkan lagi lidahnya.


Hebatnya aku menuruti perintah konyolnya itu. Apa-apaan ini, seperti anak kecil sedang mengingat janji bukan?


"Nah, sekarang kamu bisa pegang janjiku," pungkasnya.


"Kalau kamu ingkar, aku potong lidahmu dengan gunting sungguhan. Aku akan cari gunting paling tumpul agar kamu sedikit tersiksa karena lidahmu tidak putus-putus," ancamku lagi.


"Jahat banget istriku," jawabnya dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Biar tahu rasa. Memangnya janji dibuat untuk diingkari? Janji dibuat untuk ditepati dan dibuktikan," tuturku menasehati.


"Laki-laki selalu salah di mata wanita," balasnya dengan melenggang kembali ke meja belajarnya.


"Apa aku boleh jujur?" ucapku saat Rio sampai di mejanya.


"Apa, Sayang? Katakan," jawabnya setelah membalikkan badan.


"Aku … sebenarnya aku …."


"Ada apa Sayang? Kenapa tiba-tiba menjadi gugup?" Rio penasaran dengan perubahan sikapku.


"Aku tidak sengaja bertemu Adi lagi."


"Terus?" Wajah seriusnya mulai nampak. Aku melihatnya dengan jelas.


"Aku tidak berhasil menghindarinya. Aku minta maaf, karena baru mengatakannya sekarang. Sungguh, aku tidak berusaha menyembunyikan hal ini darimu. Hanya saja, aku takut kamu salah paham denganku."


Jujur, jantungku berdetak dua kali lipat dari sebelumnya. Aku mulai sulit mengatur nafasku lagi. Telapak tanganku mulai mendingin, wajahku juga mulai memucat. Aku hanya bisa menelan salivaku ketika langkah Rio mulai mendekat.


"Sudah aku bilang, nafasmu menguji imanku. Kenapa kamu sengaja mengujiku lagi?" bisiknya di telingaku.


Hembusan hangat oksigen yang keluar dari mulutnya bisa aku rasakan menyentuh daun telingaku meski seluruh bagian kepalaku tertutup hijab. Rio menarik tubuhku dengan kedua tangannya, hingga tubuh kami menempel begitu rekat.


Aku terus mengelak sebisaku, tapi Rio tak mau melepaskanku. Perlahan kurasakan sentuhan bibir lembutnya menempel di bibirku. Ya Tuhan, apa dia akan memangsaku malam ini?


**PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?


LIKE, KOMENTAR, RATE, DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA

__ADS_1


COBA TEBAK APA YANG TERJADI DI PART SELANJUTNYA YUK... TULIS DI KOLOM KOMENTAR YA.. THANKYOU**.


__ADS_2