
Beberapa hari hanya bisa menunggu hasil renovasi, hari ini akhirnya aku bisa menikmati dengan puas dan juga takjub dengan hasil sentuhan tangan magic design interior yang di sewa suamiku untuk mengubah tatanan ruang.
"Gimana? Kamu suka sama hasilnya?" Rio bertanya setelah membiarkan aku menikmati keindahan pemandangan ruangan yang semula nampak biasa saja dan kini telah berubah menjadi ruangan yang menakjubkan.
"Sesuai dengan bayanganku. Pasti kamu membayar sangat mahal untuk semua ini," ujarku menerka harga yang pas dengan hasil yang tak bisa dinilai sederhana.
"Lumayan menguras uang pribadiku. Mungkin, bisa kamu bayar nanti setelah usahamu maju. Anggap saja suamimu tengah berbaik hati memberikan pinjaman." Sebenarnya aku tahu, Rio tengah meledekku. Tapi, aku justru membawa masuk gurauannya ke dalam hati.
"Tenang saja. Aku akan membayar semua hutangku suatu hari nanti," jawabku dengan ketus.
Aku melenggang menuju mobil untuk mengambil barang. Tak lama, Rio membuntuti langkahku juga. Rencananya hari ini aku dan Rio akan menambahkan pernak-pernik sebagai hiasan pelengkap.
Ruangan yang hanya baru di design ulang itu masih cukup kosong dan perlu sentuhan pernak-pernik agar nampak lebih menarik lagi.
Selama menunggu ruko direnovasi, aku sempat membeli beberapa hiasan dinding kekinian. Jadi, hari ini aku akan mencoba memadamkannya.
Semua barang yang aku butuhkan sudah ada di dalam ruangan. Rio dengan cekatan memegang palu dan paku, kemudian memahat dinding keras agar paku bisa tertanam di sana.
"Di bagian sini kamu mau gantung hiasan yang mana, Sayang?" tanya Rio dari atas tangga besi yang tengah aku pegangi.
"Yang … ini saja." Aku mengambil sebuah lukisan gambar karakter berhiaskan pakaian yang fashionable.
Tidak hanya gambar itu saja. Quotes kece kekinian pun aku sematkan untuk memperindah dinding yang masih polos.
Rampung dengan urusan dinding. Aku dan Rio bahu-membahu mengangkat guci-guci keramik yang ukurannya cukup besar untuk mengisi sudut ruangan. Di dalamnya kami tanam pohon bunga sakura yang terbuat dari bahan plastik.
Selesai dengan guci besar yang cukup menguras tenaga. Aku mengajak Rio menata kembali rak-rak yang akan di gunakan untuk menggantung pakaian.
Belum juga satu rak berhasil diangkat olehku dan Rio, kejutan datang. Bapak, mama, bang Raka, dan bapak mertuaku, tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan membuat aku sangat terkejut.
"Mama …." Aku berlari dan tak menghiraukan lagi rak yang tengah aku perjuangkan untuk dipindahkan.
Aku menghambur dalam pelukan hangat tubuh mama. Aku sangat merindukannya. Semenjak pindah ke rumah mertua, aku belum lagi pulang ke rumah.
Kami hanya sesekali bertukar kabar lewat telepon. Dan hari ini, akhirnya aku bisa melepaskan rinduku pada mama.
"Mama … kangen," rengekku dalam pelukan.
"Mama juga, Ndy." Mama membalas disertai dengan elusan lembut di punggungku.
"Ini kejutan lho, Ndy," ujar bapak berusaha membuatku melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Makasih, Pak. Indy kangen kalian." Bergantian aku memeluk bapak juga bang Raka.
"Kamu kok, ndak bilang-bilang sama mama kalau mau buat toko baju? Untung saja Rio memberitahu kami." Aku akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang membingungkanku sedari tadi dalam batin.
Lewat ucapan mama tadi, aku jadi tahu siapa dalang dari kejutan yang sangat tiba-tiba ini. Siapa lagi kalau bukan suamiku.
"Indy hanya tidak mau merepotkan kalian. Lagipula, Rio siaga berada di sampingku." Aku sengaja mengagungkan namanya agar kedua orang tuaku tidak mengendus curiga pada hubungan kami yang belum cukup sempurna.
"Alasan saja kamu itu. Jelas-jelas tadi bapak lihat kalian kesusahan mengangkat rak," timpal bapakku.
"Sudah-sudah. Kapan selesainya kalau kalian mengobrol terus? Ayo, kita mulai saja." Mertuaku yang sedari tadi hanya menonton adegan kami pun akhirnya angkat bicara.
"Baiklah, Nu." Bapakku memberikan persetujuan.
Aku dan mama memilih pekerjaan yang cukup ringan meski tetap harus dilakukan berdua. Yaitu memindahkan karung-karung berisi baju dari teras ruko ke dalam.
Sedangkan empat laki-laki perkasa itu bergotong-royong mengangkat rak besi dan memindahkannya ke sudut yang pas.
Selesai memastikan keamanan tumpukan karung berisi baju, aku dan mama menyiapkan makan siang yang rupanya sengaja mama bawa dari rumah.
Aku menggelar tikar dan mulai menata piring, gelas, sendok, dan tak ketinggalan rantang yang berisi masakan mama. Baru mencium uap yang keluar celah penutup rantang saja perutku sudah berkokok minta segera diisi makanan lezat masakan mama.
Tapi aku harus sedikit bersabar untuk menunggu keempat laki-laki perkasa itu menyelesaikan tugas mereka. Baru setelah itu bisa makan bersama.
"Iya, ini sudah selesai." Ucapan bapak membuatku segera menyendokkan nasi ke semua piring yang ada. Tak ketinggalan aku juga menaruh lauk di atasnya.
Dan sialnya, ternyata piring yang tersedia hanya ada lima Sementara kami berenam. Alhasil aku mengalah untuk suamiku. Aku biarkan piringku untuknya.
"Ini buat kamu saja." Aku menyodorkan piringku pada Rio yang duduk di sampingku.
"Tidak mau. Masa aku makan, tapi istriku tidak makan?"
"Nggak papa, aku ikhlas. Kamu makan saja." Aku memaksanya agar mau menyantap makanan itu.
"Kamu juga harus makan. Kita makan sepiring berdua." Mataku membulat sementara. Kemudian melayu saat bang Raka dengan jahilnya memojokkan aku agar mau makan sepiring berdua dengan suamiku.
"Eneng mana bisa nolak, Bang …," erang bang Raka dengan nada menggoda.
Tatapan kedua orang tuaku dan mertuaku yang nampak menunggu sikapku selanjutnya, membuat aku tidak bisa menolak Rio terang-terangan di hadapan mereka.
Aku mulai menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulut Rio. Kemudian setelahnya baru aku menyuapkan nasi ke mulutku sendiri.
__ADS_1
Begitu berulang-ulang hingga habis. Tapi saat hendak minum, Rio membiarkan aku minum lebih dulu. Dia juga menungguiku sampai selesai membereskan piring bekas makan tadi.
Laki-laki itu bahkan tetap membuntutiku yang hendak mencuci piring di belakang.
"Maaf, ya?" ucapnya setelah kami sampai di belakang.
"Maaf, untuk apa?" tanyaku tanpa menoleh.
"Karena memaksa kamu makan bergantian seperti tadi," terangnya.
"Tidak apa."
.
.
.
.
Aku menyusul yang lain setelah menyelesaikan acara cuci piring. Mama mulai membuka karung baju gamis dan bang Raka membantu menggantung baju-baju itu di rak.
Sementara kedua bapak-bapak yang masih gagah perkasa layaknya anak muda itu masih sibuk menata rak lain.
Mereka terlihat sangat kompak. Bahkan aku tak bisa berhenti mengembangkan senyum yang bersembunyi dibalik tirai kain di sebagian wajahku.
"Sayang." Rio tiba-tiba memanggilku. Tanpa melihat apapun yang ada di bawahku, aku melangkah saja dengan yakinnya.
Brugh! Rak besi yang sedang digunakan untuk menggantung baju-baju gamis seketika roboh dan menindih punggung Rio.
Aku benar-benar tidak melihat kaki rak yang ada di depan telapak kakiku dan mengandungnya hingga rak roboh mengikuti tubuhku. Dengan sigap Rio berlari untuk menangkap tubuhku yang akan terjatuh dan berusaha melindungiku dari amukan besi.
**Jangan biarkan kolom komentar chapter ini kosong ya. WAJIB JIB JIB tinggalkan like dan komentar kalian sebagai bentuk apresiasi untuk author
Untuk yang belum klik love, ayo klik sekarang supaya tidak ketinggalan next episode MCS 2
Bintang lima dan Vote juga aku tunggu ya
Jangan bosan baca karya author
Dan Maaf belum bisa konsisten update setiap hari
__ADS_1
Sampai jumpa di next episode**