
Aku butuh ketenangan saat ini. Dan hanya rumah Allah lah tempat yang paling tepat untukku bisa menenangkan diri. Entah sudah berapa jam lamanya aku berada di masjid dan tetap khusyuk merapalkan ayat suci. Karena hanya dengan cara itulah aku merayu Sang Kuasa agar tidak mengambil nyawa suamiku.
Aku terkejut saat muadzin mengetuk kepala microfon yang menyala. Kapankah dia datang? Aku bahkan tidak menyadari kedatangannya sama sekali. Adzan isya berkumandang, mengalun dengan merdu menyejukkan telinga siapapun yang mendengarnya.
Kututup Al-Kitab yang sedari tadi digenggam erat kedua tanganku. Kuletakkan kembali pada tempatnya lalu kutinggalkan untuk mengambil wudhu. Tak sengaja kulirik cermin yang menempel di salah satu dinding di tempat wudhu. Ya Allah ... Wajah yang selalu terbalut kegembiraan ini telah berubah berselimut duka. Menyedihkan sekali aku ini. Kenapa aku baru menyadari dalamnya cinta pada suamiku ketika dia berada di ambang maut? Inikah hukuman dari Yang Kuasa untuk istri munafik sepertiku?
Buru-buru aku membasuh wajah lusuh ini dengan air dingin. Dan kemudian bergabung di barisan yang masih kosong. Aku mencoba untuk mengesampingkan segala urusan duniawi yang tengah membelitku. Dan kusembahkan niatku pada Allah Ta'ala.
Masjid kembali kosong. Orang-orang yang tadi datang untuk bermunajat sudah meninggalkan tempat ini. Dan tersisa aku sendiri. Kuraih lagi ayat suci untuk kembali merapalkannya. Namun belum juga aku memulai, mertuaku datang dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Pak? Rio baik-baik saja 'kan?" Buliran bening kembali meluncur dari pelupuk mataku yang tadi sempat kering.
"Rio sudah sadar. Ayo!"
Gegas kubuka mukena yang membalut tubuhku. Kulipat asal dan menaruhnya ketempat semula. Aku berlari dengan cepat menuju ruang ICU tempat suamiku dirawat.
"Abi ...." Kutatap wajahnya yang terpejam. Mendengar suaraku ada di dekatnya Rio lantas membuka mata.
__ADS_1
"Siapa anda?" Wajah Rio berubah panik saat melihatku berdiri di samping ranjang pesakitannya.
"Aku ... Aku istrimu." Kupalingkan wajahku pada mertuaku yang berdiri tepat di sampingku. Aku bingung. Kenapa Rio tidak mengenaliku? Apa dia sedang mengerjaiku di situasi seperti ini?
"Hahaha ... Jangan bergurau. Aku belum menikah! Pak, sebenarnya siapa dia? Kenapa wanita ini mengaku-ngaku sebagai istriku?"
Menyeramkan, sungguh kondisi ini sangat menyeramkan untukku. Inikah jawaban dari doa panjang yang kupanjatkan berjam-jam untuknya? Di saat dia telah membuka mata, bersama itulah ingatannya padaku melebur.
"Ndy, kemari. Ikut bapak sebentar." Bapak mertua mengajakku keluar dari ruang ICU. Sedang aku dan Rio masih sama-sama bingung dengan kondisi yang ada sekarang ini.
"Ada apa sebenarnya, Pak? Kenapa Rio melupakan aku?" Aku langsung mencecar mertuaku dengan pertanyaan saat kami sudah berada di luar ruang ICU.
"Benturan keras saat kecelakaan membuat Rio kehilangan separuh ingatannya. Karena itulah dia lupa denganmu. Yang dia ingat hanya orang di masa lalunya," sambung beliau.
"Astaghfirullah ... Ujian apalagi ini Ya Allah." Aku terduduk lemas di lantai. Hatiku runtuh seketika.
"Kuatlah, Nak. Bapak yakin jika kita membantunya maka ingatannya akan segera pulih."
__ADS_1
"Tapi berapa lama Rio akan melupakan aku, Pak?" tanyaku dengan linang air mata kepedihan.
"Bapak juga tidak tahu. Dokter tidak mengatakan apapun soal waktu. Yang jelas kita harus membantunya. Bersabarlah ...." Mertuaku menepuk bahuku kemudian kembali masuk ke dalam ruang ICU.
Akupun membuntuti beliau dengan segera mengelap air mata di pipiku. Aku berusaha tetap tersenyum agar suamiku tidak berpikir berat mengenai aku.
"Kenapa perempuan itu selalu mengikuti Bapak? Dia siapa? Seingatku, aku belum pernah melihatnya." Rio langsung menyambar kedatanganku dengan sepucuk pertanyaan yang lebih seperti sayatan pisau tajam di hatiku.
Sakiiiiit... Sekali. Rasanya aku ingin menjerit di sana. Aku sangat ingin menyadarkannya, bahwa aku adalah wanita yang sangat ia cintai sebelum kecelakaan memporak-porandakan ingatannya.
"Tenang, Rio. Bapak akan menceritakannya padamu nanti, setelah kamu berpindah ke ruang rawat biasa. Bersabarlah." Mertuaku berusaha menenangkan anaknya.
"Aku tidak merasa nyaman dengan keberadaanmu di sini. Boleh aku minta? Tolong pergilah." Aku sudah tidak bisa menahan lagi kalimat sayatan yang keluar dari bibir suamiku. Dia mengusirku. Pedih sekali, di saat aku ingin sekali merengkuhnya dan menunjukkan perasaanku. Tapi suamiku justru menginginkan aku enyah dari hadapannya.
Gontai aku melangkah keluar dari tempat itu. Meninggalkan suami dan mertuaku tanpa pamit. Kututup rapat mulutku yang ingin menjerit saat itu dengan telapak tangan. Dan kulepaskan di sebuah tempat sepi untuk menumpahkan air mataku yang tak bisa lagi dibendung.
MAAF KARENA MEMBUAT KALIAN MENUNGGU SANGAT LAMA
__ADS_1
SEMOGA MASIH ADA YANG SETIA MENUNGGU NOVEL INI YA...