Menuju Cinta Sejati 2

Menuju Cinta Sejati 2
Balon Sabun


__ADS_3

Hari sudah sore, sebelum suami dan mertuaku pulang aku sudah membasuh tubuhku agar nampak segar. Tak lupa aku memakai parfum juga bersolek tipis untuk menyambut suamiku pulang dari kampus.


Belum selesai khimar terpakai, bunyi klakson mobil Rio terdengar. Buru-buru aku rapikan jilbab dan bajuku lalu turun untuk menyambutnya.


"Assalamualaikum," ucapnya langsung mengulurkan telapak tangan saat mendapati aku berdiri menyambut kepulangannya di teras.


"Wa'alaikumsalam," jawabku seraya meraih telapak tangannya kemudian mendaratkan kecupan di sana.


"Mau langsung mandi?" tanyaku.


"Iya, kayaknya butuh mandi biar capeknya hilang," balasnya sembari berjalan masuk.


Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya menuju kamar. Aku siapkan air hangat untuknya mandi. Tak lupa juga aku ambilkan handuknya lalu memberikan padanya.


Sembari menunggu suamiku mandi, aku siapkan baju ganti, minuman juga camilan untuknya.


Rio nampaki lelah sekali, wajahnya lesu. Tapi saat keluar dari kamar mandi, aku melihat wajahnya sudah kembali segar.


"Kamu nggak bosan di rumah terus?" tanyanya sembari menyeruput teh hangat.


"Enggak," jawabku tanpa menoleh karena sibuk merapikan buku-buku di atas kasur yang seharian menemaniku.


Rio mendekatiku dan meraih salah satu buku yang belum aku rapikan.


"Ini kan buku lama, kamu baca ulang?" Dia mengambil salah satu judul buku yang sudah aku baca berulang-kali.


"Aku memang ingin membacanya ulang," ujarku tak ingin memperpanjang obrolan dengannya.


"Kayaknya, semua buku itu sudah habis kamu baca. Mau aku belikan buku baru?" tawarnya padaku. Dia memang sangat tahu apa yang menjadi kesukaanku. Saat ini, hanya buku yang berhasil menghibur dan mengisi kekosongan waktuku.


"Boleh, kalau tidak merepotkan." Aku bahkan sangat sungkan meminta sesuatu padanya. Laki-laki yang sebenarnya tak pernah merasa keberatan walaupun aku selalu merepotkannya.


"Atau kita ke gramedia saja? Biar kamu pilih sendiri buku mana yang mau kamu baca. Lagi pula, sebulan ini kamu di rumah terus. Ngurusin aku, bapak, dan rumah pasti capek juga membosankan. Kita keluar nanti malam, ya, sekalian malam mingguan." Sungguh aku sangat beruntung mendapatkan suami yang penuh pengertian seperti Rio. Tapi kenapa aku justru tidak tahu terimakasih dan selalu mengabaikan perhatiannya.


Malam ini aku menuruti ajakannya. Alasan kita keluar adalah untuk mencari buku. Tapi nyatanya, tidak hanya itu saja. Rio mengajakku berbelanja baju dan membeli banyak camilan.


Menurutnya, camilan sangat cocok untuk menemaniku membaca buku. Maka dari itu dia membelikan aku banyak camilan yang aku sukai.


Aku tidak bisa menolak keinginan suamiku. Meski cinta untuknya belum tumbuh di hatiku. Tapi aku tetap tidak ingin mengecewakannya dengan banyak menolak niat baiknya padaku.


Apapun yang Rio lakukan dan membuatnya tersenyum bahagia, aku akan berusaha menerimanya.


Sebelum pulang, Rio mengajakku mampir ke alun-alun kota. Rio menyewa tikar untuk kami duduk di sana. Hiruk-pikuk keramaian malam terpampang dengan jelas di sana.


Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari menikmati kebahagiaan mereka. Ada juga yang sedang memancing ikan di kolam karet. Tentu saja yang dipancing ikan bohongan karena pemancingnya juga anak kecil.


Rio sesekali tergelak melihat tingkah lucu bocah-bocah itu. Lucu memang tingkah mereka saat bermain. Rasanya ingin ikut bergabung saja dengan mereka.


"Kamu belum ngantuk, kan?" tanyanya padaku.


"Belum."


"Aku masih betah di sini. Lihat mereka, aku jadi betah," sambungnya dengan mengukir senyum menawan.


"Iya."

__ADS_1


Bukan hanya Rio, tapi akupun merasakan hal yang sama. Melihat anak-anak kecil bermain seperti hiburan untuk menyegarkan kepenatan.


Tak puas hanya melihat mereka bermain, Rio memutuskan untuk bergabung dengan salah satu gerombolan anak-anak yang tengah membuat balon sabun.


Dengan penuh semangat Rio meniup lubang yang sebelumnya dicelupkan ke dalam air sabun. Hanya sekali tiup, Rio mampu membuat banyak balon sabun beterbangan.


Anak-anak pun lompat kegirangan, bahkan sebagian dari mereka berlarian mengejar balon yang berterbangan tertiup angin di udara.


"Lagi Om, lagi …," pinta anak-anak kecil itu dengan riuh pada Rio.


Sempat Rio melirik ke arahku dan aku pun memberikan anggukan sebagai izin agar dia bisa bermain lebih lama dengan anak-anak kecil itu.


Tepat pukul 10 malam kami kembali ke rumah. Sepanjang jalan wajah Rio nampak sumringah. Senyum manisnya diumbar tak ada putusnya.


Sesudah membersihkan tubuh, Rio bahkan menyempatkan membuka handphonenya lagi untuk melihat hasil jepretannya dengan anak-anak kecil yang bermain di alun-alun dengannya tadi.


"Kamu ke sini deh, Sayang. Lihat nih wajah mereka, lucu dan gemesin banget, ya," ucapnya sembari memperlihatkan foto yang padahal aku lah fotografernya.


"Iya, mereka lucu," jawabku datar.


"Insya Allah, kalau Allah mengizinkan. Aku mau punya anak yang banyak, biar rame," ceplosnya tanpa sadar.


Rio langsung menutup mulutnya karena menyadari istrinya tidak menyukai topik satu ini. Mengingat, Indy belum siap untuk memenuhi kebutuhan batinnya sebagai pasutri.


"Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud …." Belum sampai Rio menyelesaikan kalimatnya, aku memotongnya.


"Iya, nggak papa. Aku paham, karena kamu masih terbawa suasana tadi di alun-alun."


Setelah itu aku beranjak dari sampingnya dan menuju tempat tidur. Aku meraih satu judul buku baru yang tadi dibeli. Daripada harus banyak mengobrol dengan suamiku, aku lebih suka membaca buku sampai mengantuk.


...***...


Ternyata buku tak bisa mengusir kebosananku setiap hari di rumah besar itu. Banyak kegiatan lain yang aku kerjakanpun tak bisa melipur hatiku yang sudah mulai tak betah berdiam diri di rumah.


Rencananya sore ini aku akan mengutarakan keinginanku pada Rio. Keinginan yang sudah lama aku renungkan. Hingga aku menemukan keberanian dan kemantapan untuk memberitahukannya pada suamiku.


Aku sangat berharap Rio memberikan respon yang baik dan mengizinkan aku melakukan hal ini. Jikapun tidak mendapat izinnya, aku tidak akan memaksa kehendakku.


Aku ingat jelas pesan mama, bahwa apapun keputusan seorang istri, jika suami tidak memberikannya persetujuan maka tidak boleh memaksanya. Sebab sudah menjadi kodratnya seorang istri mematuhi suaminya.


Rio pulang sedikit terlambat sore ini. Bahkan, bapaknya yang biasa pulang setelahnya kini justru pulang lebih awal darinya.


Hujan lebat mengguyur bumi Satria sore hingga petang. Aku berlari masuk kembali ke dalam rumah setelah melihat suamiku sampai dengan tubuh yang basah kuyup untuk mengambil handuk.


Rio duduk di bangku yang ada di teras untuk melepas sepatu juga kaos kakinya yang basah. Sekembalinya aku membawa handuk yang langsung kutangkupkan ditubuhnya.


"Makasih, Sayang," ucapnya dengan suara lembut dan senyum menawan.


"Mandi air hangat aja," pesanku seraya mengekori langkahnya menuju kamar.


"Sebenernya nggak dingin kalau …," potong Rio sengaja untuk membuatku penasaran.


"Kalau?" Nyatanya aku memang tidak mengerti maksud ucapannya yang sengaja dia potong.


"Dipeluk istri." Rio berlari menaiki anak tangga dengan cepat untuk menghindari penampakan wajah tak suka yang belum sempat aku tampakkan padanya.

__ADS_1


Dari anak tangga yang belum habis aku naiki. Kulihat senyuman menawan itu lagi di ujung pintu kamar. Rio melempar senyuman itu padaku yang tengah kesal karena ulah candanya.


Aku menunggunya cukup lama dengan duduk di ranjang dan mengayun-ayunkan kakiku untuk membuang waktu.


Kutundukkan pandangan mataku ketika Rio keluar dari toilet tanpa menutupi dadanya yang bidang dan mulus dengan sehelai kain. Sepertinya aku lupa menyiapkan kaos dalam yang biasa aku siapkan sebelum suamiku mandi agar keluar tidak bertelanjang dada di hadapanku seperti sekarang ini.


"Kenapa?" tanyanya ketika mendapati wajahku yang aku sembunyikan dalam.


"Enggak. Cepat pakai bajunya, aku mau bicara," ucapku tanpa melihat ke arahnya.


Rio berdiri tepat di sampingku dan mulai memakai baju yang aku siapkan. Aku bisa melihat beberapa kali dia melemparkan senyumnya padaku dari pantulan keramik.


Dia pasti sangat senang melihatku yang tengah salah tingkah karena tak sengaja melihat dada bidangnya. Selain sangat menawan, kelebihan suamiku yang lain yaitu suka menggoda istrinya sampai salah tingkah.


"Sudah," lapornya saat tubuhnya sudah lengkap tertutup kain.


Aku menaikkan wajahku. Dan mulai menyiapkan hatiku untuk mengutarakan niat itu.


"Aku mau minta tolong," ucapku ragu.


"Minta tolong apa, Sayang? Jangan setengah-setengah kalau ngomong. Suamimu kan, bukan ahli penerawangan." Dia tetap saja meledekku walau aku tengah berusaha mengajaknya mengobrol serius.


"Tolong sampaikan surat pengunduran diriku ke kampus. Aku mau berhenti kuliah."


"Aku nggak salah dengar? Kamu mau berhenti kuliah? Kenapa?" Sudah aku tebak sebelumnya. Rio pasti akan mencecarku dengan banyak pertanyaan. Dan untungnya aku sudah menyiapkan jawabannya.


"Ada hal lain yang lebih ingin aku lakukan dari pada harus meneruskan kuliah."


"Hal apa?" tanyanya lagi.


"Bisnis." Aku menjawabnya penuh dengan keyakinan. Bahkan kini aku berani menatap manik mata suamiku yang jarang sekali saling bertemu.


"Bisnis? Kamu yakin? Kamu sudah memikirkannya matang-matang?" cecarnya lagi.


"Iya. Aku yakin."


"Aku sih nggak keberatan. Apapun yang ingin kamu lakukan, aku akan mendukung kamu 100%. Tapi soal bisnis, lebih baik kamu minta pertimbangan sama bapak. Bapak kamu dan bapak aku lebih tahu soal itu. Setidaknya, biar kamu nggak salah langkah dan punya sedikit bekal." Begitulah Rio. Sifat jahilnya bisa sirna seketika dan berganti menjadi Rio yang bijak.


Jika Tuhan tidak salah memberikanya sebagai jodohku. Lalu kenapa, aku tidak bisa luluh mencintainya?


Sarapan pagi menjadi ujung tombak niatku untuk terjun ke dunia bisnis. Aku berniat untuk mengutarakannya pada bapak mertuaku.


Dengan sedikit gugup, aku berbicara pelan mengutarakan keinginan yang setiap hari menggelayut di pikiranku. Menjelaskan dengan berusaha tetap tenang dan tidak memakai ego, aku berharap bapak mertuaku mengerti maksud dan tujuanku.


"Kenapa kamu gugup? Kamu takut bapak akan menolak keinginanmu?" ujar bapak mertuaku.


"Indy takut, bapak tidak akan setuju."


"Kamu salah. Bapak justru senang mendengarnya. Sebagai orang tua, bapak akan mendukung apapun keinginan anaknya. Apalagi, maksud dan tujuanmu sangat baik. Kapan rencananya kamu akan memulainya?"


"Indy masih menyusun rencana. Belum tahu pasti kapan akan terealisasi. Tapi Insya Allah, mulai besok Indy akan mencari lokasi untuk mendirikannya," jelasku dengan mantap.


"Bagus. Kabari bapak kalau kamu butuh bantuan. Jangan sungkan, biarpun bapak hanya bapak mertuamu. Tapi bapak tidak hanya menganggapmu sebagai menantu. Kamu sudah bapak anggap seperti anak kandung bapak sendiri."


"Terimakasih, Pak."

__ADS_1


__ADS_2